Sunday, August 1, 2021
Home Nasional Laporan Khusus 4 Korban tewas & hilang usai tabrakan speedboat di Palembang adalah pasutri

4 Korban tewas & hilang usai tabrakan speedboat di Palembang adalah pasutri

Empat korban tewas dan hilang tabrakan dua speedboat di Sungai Musi Palembang, tepatnya di sekitaran Jembatan Ampera pagi tadi diketahui merupakan pasangan suami istri. Petugas masih mencari keberadaan korban hilang terbawa arus sungai.

Dua korban tewas adalah pasutri Sumali dan Sukatmi. Sedangkan korban hilang adalah pasutri bernama Hamid dan Zubaidah. Semuanya warga Jalur 14, Desa Rejosari, Kecamatan Muara Sugihan, Banyuasin.

Menurut kernet speedboat Rahendi Putra, Hamzah, kapal itu berangkat dari jalur 14 dengan tujuan Palembang, Rabu (30/5) pukul 06.00 WIB. Begitu hendak merapat ke dermaga Bekangdam pukul 09.00 WIB, datang speedboat kecil dengan kecepatan tinggi.

Serang (sopir) speedboat Rahendi Putra sempat membanting setir, tetapi tabrakan tak bisa dihindarkan. Kedua kapal langsung karam dan puluhan penumpang hanyut.

“Waktu kejadian saya lagi di belakang kapal, menyiapkan tali buat berlabuh. Kejadiannya cepat, speedboat kecil itu kencang lalu tabrakan,” ungkap Hamzah.

Dia mengatakan, speedboat Rahendi Putra mengangkut 30 penumpang, termasuk awak kapal. Hanya saja, seluruh penumpang tidak mengenakan pelampung saat kejadian sehingga tengelam dan hanyut.

“Yang meninggal dua orang, pasangan suami istri, yang hilang dua orang, suami istri juga,” ujarnya.

Saat ini, petugas masih melakukan penyisiran terhadap dua penumpang hilang. Sedangkan korban tewas dan selamat sudah berada di tiga rumah sakit.

Sementara itu, Kepala PT Jasa Raharja Cabang Sumsel, Taufik Adnan mengatakan, seluruh korban speedboat yang tabrakan akan mendapatkan santunan sesuai Undang-undang Nomor 33 Tahun 1964. Pihaknya juga memastikan korban selamat dan luka-luka mendapatkan perawatan di Rumah sakit.

“Korban tewas akan beri santunan, untuk yang luka-luka juga dapat,” kata Taufik.

Saat ini, pihaknya tengah melengkapi dua korban tewas, menginventarisasi seluruh korban, dan koordinasi dengan kepolisian untuk pembuatan laporan kecelakaan. Langkah cepat ini dilakukan, karena perator kapal rutin membayar iuran wajib bagi alat angkutan penumpang umum.

“Santunan ini setidaknya mengurangi beban keluarga dan membantu perawatan korban luka,” pungkasnya. [gil]

 

 

Sumber : merdeka.com

Most Popular

Recent Comments