Thursday, September 16, 2021
Home LAPORAN KHUSUS Adalah Irodah Nya, Kemerdekaan RI Bersamaan dengan Nuzulul Quran

Adalah Irodah Nya, Kemerdekaan RI Bersamaan dengan Nuzulul Quran

Sejarah perkembangan dunia Islam dimulai dari diturunkannya Al Quran pada 17 Ramadhan melalui Malaikat Jibril kepada Muhammad bin Abdullah. Menariknya, sejarah perjuangan bangsa Indonesia mengalami puncaknya pada 17 Agustus 1945 dengan dibacakannya teks proklamasi yang rupanya bertepatan dengan 17 Ramadhan 1364 Hijriah.

Berkah bagi bangsa Indonesia dengan diberinya kemerdekaan semakin bermakna, dimana proklamasi pun dilakukan di hari Jumat, yang mana diakui oleh umat Islam sebagai hari yang spesial.

Lalu, ada apa dengan tanggal 17 dan mengapa titik akhir perjuangan, alias kemerdekaan itu bersamaan dengan hari turunnya Al Quran ke bumi?

Seperti dalam buku yang ditulis Cindy Adams yang berjudul ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ (edisi revisi 2007), sepertinya angka 17 di bulan Agustus 1945 telah dipastikan sebelumnya. Seperti sudah direncanakan bahwa pada hari itulah Indonesia merdeka. Konon, ada nuansa mistik dalam angka tersebut.

“Di Saigon aku sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” demikian ujar Soekarno jelang Hari Proklamasi.

“Mengapa tanggal 17? Tidak lebih baik sekarang saja atau tanggal 16?” tanya Soekarni Kartodiwirjo yang juga merupakan tokoh pejuang kemerdekaan dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Tapi apa jawab Soekarno kemudian,”Aku percaya mistik. Hari Jumat (17/8/1945) ini, Jumat Legi. Jumat yang manis. Jumat suci. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam melakukan sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.”

Sayangnya buku Cindy Adams tersebut terbit dikondisi tanah air yang sedang genting pada tahun 1965. Alhasil buku tersebut tak sempat diverifikasi isinya oleh Soekarno, apakah sesuai dengan wawancara yang dilakukan dan sesuai dengan fakta kejadian. Jelas bukanlah sebuah perkara mudah mengakurkan isi buku dengan fakta dan hasil wawancara yang terjadi dua dasawarsa setelah peristiwa proklamasi.

Di samping ada hal yang terlupa, bisa pula muncul aspek post-factum, maksudnya setelah terjadi suatu peristiwa baru dicari atau dipikirkan alasannya. Kalau dilihat fakta historis, maka tanggal 17 Agustus 1945 yang jatuh pada bulan Ramadan bukanlah tanggal yang direncanakan jauh-jauh hari sebagai saat pembacaan proklamasi kemerdekaan. Ini hanya dimungkinkan oleh serangkaian peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Maka opini tentang 17 Agustus yang berbarengan dengan 17 Ramadhan 1364 perlahan dijauhkan dari hal-hal mistis. Logika-logika mistis tentang tanggal tersebut digantikan dengan nilai-nilai fakta kejadian yang menjadi sebab, mengapa Indonesia merdeka pada 17 Agustus.

Salah satu penyebab yang membuka peluang Indonesia merdeka adalah dibom atomnya dua kota penting di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Aksi Sekutu yang memporak-porandakan Jepang pada 6 dan 9 Agustus 1945, sesungguhnya tak banyak diketahui oleh masyarakat di tanah air.

Fakta kejadian selanjutnya yang mendekatkan 17 Agustus sebagai Hari Proklamasi adalah saat Soekarno, Hatta, Radjiman diminta terbang ke Dalat di utara Saigon, Vietnam oleh Marsekal Terauchi pada 9 hingga 14 Agustus. Marsekal Terauchi menyampaikan bahwa terkait proses kemerdekaan Indonesia ada sepenuhnya di tangan bangsa Indonesia.

“Proses kemerdekaan terserah Tuan,” demikian ucapnya.

Pada saat itu pula proses-proses dalam upaya memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka terus bergulir. Diawali dengan pernyataan Sjahrir di rumah Hatta yang menyebutkan bahwa Jepang memilih untuk berdamai dengan sekutu dan untuk itu ia meminta Soekarno segera memproklamirkan kemerdekaan. Hanya saja Soekarno enggan melakukan, mengingat mengumumkan kemerdekaan merupakan kewenangan dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Hingga akhirnya masa itu pun datang, bangsa Indonesia benar-benar mengumumkan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945. Dua menit menjelang pukul 10.00 WIB, teks proklamasi yang ditandatangani Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia dibacakan di depan rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56.

Untuk menegaskan bahwa Indonesia benar-benar merdeka dan bukan sebagai negara boneka, maka diangkatlah Sjahrir dan Amir Syarifuddin sebagai Perdana Menteri 1945-1947. Dipilih kedua nama tersebut yag notabene anti Jepang seolah menunjukan kepada dunia bahwa republik ini bukan bonekanya Negeri Matahari Terbit.

Nuzulul Quran dan Proklamasi Ada Zat yang Mengatur

Berbarengannya hari jadi bangsa Indonesia dengan kejadian nuzulul Quran jelas ada Zat yang mengatur di balik pemilihan waktu kejadian tersebut. Untuk nuzulul Quran tahun ini, baru saja bangsa Indonesia lewati dua hari yang lalu. Maka, masih dalam nuansa Ramadhan, sepertinya bukanlah sebuah hal yang berlebihan jika kita manfaatkan sisa Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Terlebih saat ini sudah memasuki 10 malam kedua yang mana telah dijanjikan sebagai periode pengampunan dosa.

17 Agustus 1945 dirancang bertepatan dengan 17 Ramadhan, maka rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, haruslah memaknai hal itu dengan banyak introspkesi diri. Sudahkah kita mengisi kemerdekaan denga sebaik-baikanya? atau, sudahkah kita menggunakan momen Nuzulul Quran sebagai peringatan agar kembali menggunkan ketentuan Nya dalam mengurusi negara dan seisinya? Atau barang kali, keduanya hanya dilewati begitu saja dan sia-sia belaka?

Bagi umat Islam, ini sungguh bukan sekedar kejadian biasa. Kebetulan atau tidak disengaja. Ini adalah sebuah skenario Allah yang merupakan kehendak dan kemauan-NYa. Jadi harus diyakini, pasti ada maksud dan tujuannya khusus bagi umat Islam yang sekaligus adalah warga negara Indonesia. Cobalah diperhatikan firman Allah SWT dalam Al Quran, salah satunya dalam Surat Al Qamar ayat 49, “Sesungguhnya Kami ciptakan segala sesuatu dengan ukuran-ukuran pasti.”

Dalam ayat yang lain, dikatakan, “Dia menciptakan segala sesuatu lalu Dia menentukan kejadiannya dengan tepat,” Al Furqan Ayat 2.

Kedua ayat tersebut memberi penjelasan bahwa tidak ada segala hal yang terjadi dengan ketidaksengajaan atau kebetulan. Maka dari itu, pasti ada maksud yang kuat mengapa hari proklamasi bisa jatuh bertepatan dengan 17 Ramdhan.

Sebagai gambaran, pada 15 Agustus 1945, Soekarno, Hatta, dan Soebardjo menuju kantor pemerintahan militer Jepang (Gunseireibu) untuk mengkonfirmasi berita tentang menyerahnya Jepang kepada Sekutu. Tapi sayangnya, kantor Gunseireibu telah kosong. Namun sesungguhnya, tentara Jepang di tanah air telah mengetahui kabar tersebut. Di kantor Laksamana Maeda, penghubung Angkatan Laut Jepang di Batavia, mereka memperoleh informasi bahwa berita tersebut disiarkan oleh Sekutu. Hanya saja belum ada instruksi untuk mereka dari Tokyo.

Info tersebut membuat Hatta mengusulkan kepada Soekarno agar PPKI bisa mengadakan rapat pada 16 Agustus. Tapi belum juga berganti hari, masih pada 15 Agustus 1945 malam, Hatta dan Soebardjo menemui Bung Karno di rumahnya yang sedang didesak pemuda agar segera mengumumkan kemerdekaan.

Salah satu tokoh muda, Wikana seperti mengancam Soekarno dengan menyatakan, “Apabila Bung Karno tidak mengumumkan kemerdekaan malam ini juga, besok akan terjadi pertumpahan darah.”

Soekarno berang dan seraya menunjuk lehernya berkata, “Ini leher saya dan seretlah saya ke pojok itu, sudahi nyawa saya malam ini juga, jangan menunggu sampai besok.”

Wikana yang kaget melihat respon geram Bung Karno langsung saja buru-buru menjelaskan maksud perkataan sebelumnya.

“Maksud kami bukan mau membunuh Bung, melainkan kami mau memperingatkan, apabila kemerdekaan Indonesia tidak dinyatakan malam ini, besok rakyat akan bertindak dan membunuh orang-orang yang dicurigai, yang dianggap pro-Belanda.”

Pertemuan itu tidak menghasilkan kesepakatan. Ketika sedang sahur, Hatta dijemput Sukarni dan kawan-kawan. Kata pemuda, siang nanti rakyat akan menyerbu Jakarta. Soekarno dan Hatta dibawa ke tempat yang aman untuk memimpin pemerintahan dari sana. Soekarno pergi bersama Fatmawati dan bayinya, Guntur. Mereka dibawa ke Rengasdengklok, mula-mula di markas PETA, kemudian ke rumah seorang Tionghoa, Djiau Kie Song.

Maklumat Diganti Proklamasi

Tanggal 16 Agustus 1945 tidak terjadi apa-apa di Jakarta. Malam sebelumnya, komandan batalyon PETA Kasman Singodimejo menolak berontak bila tidak ada perintah Bung Karno. Sore hari Soekarno-Hatta dijemput Soebardjo ke Jakarta.

Setiba di rumahnya, Hatta meminta Soebardjo mengontak Hotel Des Indes, tempat anggota PPKI menginap, untuk mengadakan rapat di sana. Karena sudah lewat pukul 22.00, hotel itu sudah tutup. Soebardjo menelepon Maeda yang ternyata bersedia rumahnya (kini Jalan Imam Bonjol No 1) dijadikan tempat rapat.

Walaupun di rumah itu ada beberapa orang Jepang, mereka tidak mencapuri perumusan proklamasi. Soekarno, Hatta, Soebardjo, Sukarni, dan Sayuti Melik kemudian keluar ruangan dan menyampaikan hasil rumusan mereka kepada sekitar 50 tokoh serta pemuda yang hadir. Iwa Kusuma Sumantri mengusulkan agar kata ‘maklumat’ diganti proklamasi’.

Para pemuda tidak setuju semua anggota PPKI menandatanganinya karena menganggap lembaga itu buatan Jepang. Sukarni mengusulkan penandatanganan dilakukan Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Naskah itu kemudian diketik Sayuti Melik dan selanjutnya digandakan.

Hingga akhirnya masa itu pun datang, bangsa Indonesia benar-benar mengumumkan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945. Dua menit menjelang pukul 10.00 WIB, teks proklamasi yang ditandatangani Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia dibacakan di depan rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56.

Rencana Allah SWT yang hendak mengawinkan 17 Agustus sebagai Hari Proklamasi dengan 17 Ramadhan kejadian. Segala sesuatu diciptakan untuk suatu hikmah, tetapi hikmah gaib atau tersirat yang demikian dalam, kadang-kadang tidak dapat terungkap oleh pengamatan panca indera manusia yang terbatas.

Allah kembali berfirman dalam Surat An Nisa Ayat 19, “Bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu tetapi di dalamnya Allah menjadikan kebaikan yang banyak.”

Di dalam ayat lain, Allah menyatakan, “Bisa jadi kamu membenci sesuatu pada hal ia baik untukmu dan bisa jadi pula kamu menyenangi sesuatu padahal ia buruk untukmu. Allahlah yang tahu, sedangkan kamu tidak mengetahui,” Al-Baqarah Ayat 216.

Meski dalam tekanan yang luar biasa untuk segera mengumumkan kemerdekaan, nyatanya Soekarno baru benar-benar merealisasikan tuntutan tersebut pada 17 Agustus. Berbagai sebab (usaha) yang dikenal manusia terkadang bisa mendatangkan hasil dan terkadang pula tidak membuahkan apa-apa.

Berbagai hipotesa yang dianggap pasti oleh manusia, kadang terbukti hasilnya dan terkadang pula tidak. Hal itu karena sebab-sebab dan hipotesa-hipotesa tersebut bukanlah yang memberikan hasil, akan tetapi kehendak mutlak Allah semata-mata yang memberikan hasil-hasil itu, sebagaimana kehendak mutlak-Nya pula yang menentukan sebab-sebab dan hipotesa-hipotesa tersebut.

Irodahnya Ilahi Indonesia Merdeka

Jika melihat kronologi dari Hiroshima-Nagasaki yang dibom hingga gong proklamsi, seperti ada kain putih terlihat yang menghalangi upaya percepatan masa pengumuman kemerdekaan Indonesia.

Hal itu sesuai dengan Surat At Thalaq ayat satu, “Kamu tidak tahu, mungkin saja Allah menjadikan di balik itu semua perkara yang lain.”

Kemudian dalam Al Insan Ayat 30, Allah kembali menegaskan, “Dan kalian tidak dapat mewujudkan kehendak kecuali jika Allah memang menghendakinya.”

Singkatnya dapat digaris bawahi bahwa sesungguhnya alam wujud ini tidak diserahkan begitu saja kepada hukum-hukum yang berjalan secara otomatis, bisu dan tuli. Tetapi dibalik hukum-hukum itu selalu ada “kehendak” (iradah) yang mengatur dan “keinginan” (masyi’ah) yang mutlak. Allah menciptakan dan memilih apa saja yang dikehendaki-Nya, termasuk pada peristiwa kemerdekaan NKRI tanggal 17 Agustus 1945 yang tanggalnya diambil dari semangat turunnya (Nuzul) A-Qur’an yang terjadi dibulan suci Ramadhan.

Akan semangat ilahiah itulah rumusan Teks Pembukan UUD 45 dibuat dengan menyelipkan unsur-unsur iradah Tuhan yang memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya, dan seterusnya.”

Terlihat jelas betapa konsepsi ‘Kemederkaan’ pada alinea pertama sangat dijawi atas kesadaran beragama dan bertuhan (tauhid). Para pendiri bangsa sadar bahwa kemerdekaan yang diraih selain karena perjuangan, sesungguhnya adalah sebuah hadiah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa rahmat untuk merdeka.

Kesadaran itulah yang selanjutnya menjadi dasar inspirasi, motivasi, semangat dan keinginan yang luhur untuk mendirikan NKRI. Membentuk sebuah negara yang berkehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Yang kemudian negara yang didirikan itu itu memiliki tujuan untuk melindungi, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa bagi seluruh tumpah darah Indonesia serta ikut melaksanakan ketertiban dunia.

 

 

Sumber : Adalah Irodah Nya, Kemerdekaan RI Bersamaan dengan Nuzulul Quran
Adalah Irodah Nya, Kemerdekaan RI Bersamaan dengan Nuzulul Quran
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments