Atasi terorisme, polisi Myanmar ingin belajar dari Densus 88

0
535

Tingginya ancaman teror dan ekstrimisme di Myanmar beberapa tahun terakhir, membuat kepolisian Myanmar meminta Polri membantu mendidik dan melatih anggotanya. Pesan itu disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Myanmar Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Ito Sumardi saat Wakapolri Komjen Pol. Syafruddin ketika melakukan kunjungan kerja ke Myanmar, Senin-Selasa (13/3-14/3).

Ito menjelaskan, kepolisian Myanmar ingin belajar banyak dari polisi Indonesia. Terutama atas keberhasilan Densus 88 antiteror dalam menangani sejumlah aksi teror. Wakapolri Komjen Pol. Syafruddin menyambut baik rencana kerja sama kepolisian Myanmar dengan Polri. Eksekusi kerja sama akan direalisasikan dalam waktu dekat. Nantinya, tempat pelatihannya berada di Indonesia.

“Dalam waktu dekat ini akan dilakukan penandatangan naskah kerja sama antara Kepala Kepolisian Myanmar dan Kapolri,” kata Komjen Pol. Syafruddin melalui siaran pers yang diterima merdeka.com, Selasa (14/3).

Wakapolri menjelaskan, kunjungan kerjanya ke Myanmar juga terkait peran aktif Indonesia di bidang kemanusiaan. Karena di berbagai negara bagian di Myanmar terjadi konflik, utamanya negara bagian Rakhine, yang sudah menjadi masalah internasional.

Pemerintah Indonesia sendiri dalam dua tahun terakhir ini telah memberikan bantuan kemanusiaan, kepada pengungsi etnis rohingya dan penduduk lokal di Wilayah Rakhine yang menjadi korban konflik sektarian. Selain itu Palang Merah Indonesia bersama Walubi dan Mer-C yang difasilitasi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, akan membangun rumah sakit di wilayah Rakhine. [noe]