Thursday, October 21, 2021
Home Dunia Babak baru aliansi Arab Saudi-AS

Babak baru aliansi Arab Saudi-AS

Naiknya Donald Trump sebagai presiden baru Amerika Serikat (AS) ternyata memberikan angin segar bagi Arab Saudi. Negara teluk ini memandang raja properti asal New York tersebut membuka lembaran baru aliansi kedua negara.

Berbeda dengan kebanyakan negara, Arab Saudi justru merasa senang dengan tindakan Trump yang menerbitkan larangan imigrasi untuk enam negara Muslim. Sebab, salah satu negara yang terkena dampaknya adalah Iran, musuh mereka.

Bahkan pertemuan yang berlangsung, Rabu (15/3) lalu, wakil putra mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman sampai memuji habis-habisan Trump, dan menyebutnya ‘sahabat baik umat Muslim’. Lelaki yang juga penasihat senior ini menyebut pertemuan itu sebagai ‘titik balik bersejarah’ hubungan AS dan Saudi.

“Arab Saudi tidak percaya bahwa (larangan imigrasi) menargetkan negara Muslim atau agama Islam. Langkah ini merupakan keputusan berdaulat yang bertujuan untuk mencegah teroris memasuki Amerika Serikat.”

Dalam tulisannya di harian Asharq al-Awsat, Salman Al-dossary menulis posisi politik pemerintahan baru AS ini membuahkan reformasi strategis hubungan antara Riyadh dan Washington. Kondisi ini menjadi titik balik kedekatan antara kedua negara selama 80 tahun terakhir.

Selama kepemimpinan mantan Presiden Barack Obama, hubungan AS dan Saudi keluar dari trek. Kunjungan ini mengungkap kenyataan, aktual dan perubahan drastis atas posisi AS di Timur Tengah.

“Kebijakan AS kini lebih dekat dengan sekutu-sekutunya dan galak atas lawan-lawannya, termasuk Iran,” tulis Salman, Minggu (19/3) kemarin.

Salman menyebut pemerintahan Trump lebih terbuka dan jujur menghadapi masalah dunia. Serta diyakini pula sang triliuner tersebut memilih ‘bermain terbuka’, tanpa mencampuri urusan negara lain.

“Namun, sejarah mengingatkan kita bahwa aliansi Saudi-AS tidak pernah benar-benar terancam, kecuali selama kepemimpinan Obama,” tulis harian milik pemerintah Arab Saudi ini.

Salah satu ancaman pernah terjadi ketika peristiwa 11 September di mana Gedung WTC ditabrak pesawat komersil, hingga ambruk. Namun pemerintahan George W Bush berhasil meredakan situasi dan memastikan kejadian itu tidak memengaruhi kedekatan dua negara.

Pemerintahan baru ini membawa kembali hubungan itu kembali ke jalur yang benar, khususnya setelah Riyadh bersabar dalam meningkatkan kepentingan dua negara di tengah tekanan negatif yang dilakukan pemerintahan sebelumnya.

Dalam kunjungannya ke AS, Mohammed bin Salman diinformasikan perubahan pendekatan Arab Saudi dan ambisinya atas reformasi sosial ekonominya.

“Tidak diragukan lagi Riyadh ingin Washington mendukung reformasi bertahap dan memberi dorongan dibanding mendesak, daripada tidak melakukannya.”

Salman mencatat ada titik penting dalam harmonisasi antara Riyadh dan Washington dalam menangani peliknya keadaan di kawasan, di banding berdiam menghadapi ekspansi cita-cita Iran dan ulahnya memperkeruh keadaan di kawasan, atau melancarkan perang terhadap terorisme dan kelompok ekstremis, atau mendukung membaiknya ekonomi dunia.

Yang membedakan, Arab Saudi selalu memiliki posisi yang sama menghadapi gejolak di wilayahnya, namun pemerintahan AS sebelumnya mengubah itu. Kondisi tersebut menyebabkan Saudi merasa frustasi meski beraliansi dengan AS, dan dipastikan ada orang di dalam Gedung Putih yang tidak menyukai kedekatan kedua negara.

Namun, dalam pertemuan Trump dengan Mohammad bin Salman menunjukkan sikap yang jelas. Kunjungan tingkat tinggi sangat produktif baik di bidang militer, keamanan, politik dan ekonomi dan menunjukkan kedua negara kini sama-sama berupaya memperbaiki isu demi menuju koalisi yang kuat.

“Cukuplah bagi pemerintah AS, dan pemerintah lain di dunia, mengingat bahwa Kerajaan Arab Saudi telah selama 100 tahun menjadi satu-satunya negara yang stabil di Timur Tengah.”

“Siapa yang mau membuang aliansi dengan negara stabil seperti Arab Saudi?” tutupnya. [tyo]

Most Popular

Recent Comments