Thursday, September 16, 2021
Home Nasional Bayi Tiara Debora yang Malang, Penyelamatanmu Jadi Sia-sia Saat RS Utamakan Biaya

Bayi Tiara Debora yang Malang, Penyelamatanmu Jadi Sia-sia Saat RS Utamakan Biaya

Rumah sakit sepertinya tak lagi menjadi tempat yang menyembuhkan dewasa ini. Tiara Debora akhirnya meregang nyawa lantaran tak segera mendapatkan tindakan medis kala bayi itu mengalami gangguan kesehatan.

 

Rudianto Simanjorang dan istri, Henny Silalahi amat menyesalkan tindakannya yang menganggap RS Mitra Keluarga Kalideres dapat menolong bayinya yang sedang sakit. Kedua orang tua itu pun kini hanya bisa mengenang buah hatinya yang telah tiada.

Begini ucapan Henny kepada awak media yang ditemui di kediamannya, Sabtu, 9 September 2017,”Sebenarnya bayi saya sudah seminggu pilek terus, terus tiga hari sebelum meninggal, batuk-batuk.”

 

Pada kesempatan pertama, bayi Tiara Debora dibawa kedua orang tuanya ke RSUD Cengkareng untuk memeriksa sakit pilek dan batuk. Henny mengatakan, pemeriksaan tersebut berbuah obat dan nebulizer guna mengobati bayinya.

Hal tak enak pun terjadi pada Sabtu malam, yang mana bayi mungil cantik itu mengeluarkan keringat yang berlebih. Henny yang tak tidur hingga Minggu dini hari terus mengganti alas tidur sang buah hati yang lepek karena keringat yang terus bercucuran.

Henny sontak panik ketika waktu menunjukan pukul 03.00 WIB pagi. Bayi Tiara Debora seketika sesak napas dan Henny pun membangunkan sang suami agar segera bergegas menuju rumah sakit terdekat, yakni RS Mitra Keluarga Kalideres.

Tanpa pedulikan bahwa diirnya tak mengenakan sandal, motor yang sebelumnya dihidupkan Rudianto pun bergegas menuju RS Mitra Keluarga Kalideres.

“Tujuan saya cuma nyelametin anak saya, paling dekat ya Mitra Keluarga,” kata Henny.

Tanda-tanda bahwa Tiara Debora bakal bisa diselamatkan pun terlihat dari ‘gercep’nya petugas instalasi gawat darurat (IGD) RS Mitra Keluarga Kalideres.

dr. Irene Arthadinanty yang kebetulan piket dini hari itu tak kalah ‘gercep’ dengan melakukan pertolong pertama kepada Tiara Debora berupa tindakan penyedotan (suction).

Segala alat yang dimiliki RS MItra Keluarga Kalideres pun terpasang di tubuh mungin Tiara Debora seperti alat monitor, infus, uap, dan diberikan obat-obatan.

Bagus bagi kondisi Tiara Debora yang kembali bernapas normal yang diiringi tangis keras yang mengguncang keheningan RS Mitra Keluarga Kalideres. Saat itu, waktu menunjukan pukul 03.30 WIB.

“Saya pikir sembuh nih, terus saya dipanggil dokter Irene, dia bilang ini harus masuk pediatric intensive care unit (PICU) karena sudah empat bulan usianya, tetapi dia bilang di sini enggak terima BPJS,” kata Henny.

Inilah petaka yang mendekatkan Tiara Debora dengan ajalnya. Pihak RS Mitra Keluarga Kalideres memilih untuk mengesampingkan urusan menyelamatkan nyawa dan mengutamakan urusan administrasi pembiayaan.

Rudianto dan Henny juga ‘gercep’ mengurus administrasi agar anaknya bisa dirawat di ruang PICU. Di situlah pihak RS Mitra Keluarga Kalideres menyodorkan sebuah daftar harga yang menunjukan biaya uang muka dari pelayan tersebut yang mencapai Rp 19.800.000.

Rudianto lantas mengakui bahwa diirnya tak membawa banyak uang lantaran tergesa-gesa membawa anaknya ke RS Mitra Keluarga Kalideres.

“Saya bilang saya enggak bawa duit sama sekali, cuma bawa kunci sama duit di kantong celana untuk tidur, tetapi mereka bilang harus bayar DP,” kata Rudianto.

Rudianto sendiri sempat kembali ke rumah untuk mengambil dompet dan menarik sejumlah uang yang berada di tabungannya. Tapi, jumlahnya tak lebih dari Rp 5 juta saja.

Saat itu Rudianto berpikiran, yang terpenting adalah cepat kembali sampai ke RS Mitra Keluarga Kalideres demi buah hatiya agar segera masuk pelayanan PICU.

Uang yang jumlahnya Rp 5 juta itu pun dibawa ke ruang administrasi. Karena jumlahnya kurang, petugas itu pun menghubungi atasannya.

Perjuangan Rudianto selaku bapak dari Tiara Debora pun hancur begitu uang yang sempat diserahkan kepada petugas administrasi itu dikembalikan. Sang petugas pun dengan tegas menyatakan bahwa uang tersebut kurang dan bayi Tiara Debora tak bisa menjalani perawatan di ruang PICU.

“Di situ saya memohon-mohon sangat, saya bilang nanti siang saya bayar kekurangannya, saya punya saudara kan bisa diusahakan. Petugas hanya bilang enggak bisa, ini sudah kebijakan dari manajemen,” kata Rudianto.

Alhasil, RS Mitra Keluarga Kalideres merujuk Tiara Debora ke rusamah sakit lain yang memiliki pelayanan PICU dan menerima pasiean BPJS Kesehatan.

Hermina, Siloam, RSCM, harapan Kita dan Awal Bros adalah rumah sakit-rumah sakit yang coba dihubungi untuk memastikan ada ruang lowong untuk bayi Tiara Debora.

Henny sendiri sempat meng-update status Facebooknya dengan harapan ada kawan-kawan yang bisa mencarikan rumah sakit bagi Tiara Debora. Bahkan henny tak sungkan menghubungi atasannya untuk meminjam uang aga anaknya bisa segera masuk ruang PICU RS Mitra Keluarga Kalideres.

“Saya ngadep dokter lagi, dokternya ganti dokter Irfan, saya bilang saya sudah nyari enggak ada yang kosong, saya bilang saya kerja, punya uang, nanti siang saya lunasi, sambil nunggu anak saya dapat rumah sakit, kenapa tidak ditangani di PICU dengan uang Rp 5 juta, saya sudah memohon-mohon,” tutur Henny.

Ajal kian dekat dengan Tiara Debora kala pihak dokter, perawat dan petugas administrasi kekeh pada pendiriannya, yakni orang tua bayi Tiara Debora harus lebih dulu merogoh kocek Rp 11 juta. Henny dalam hati sempat bertanya-tanya soal ucapan dokter sebelumnya yang menyebut biaya PICU semalamnya mencapai Rp 20 juta.

Sekitar pukul 09.00, Henny dihubungi temannya yang mengabarkan ada ketersediaan ruang PICU di RS Koja.

Tanpa pikir panjang, Henny menyambungkan dokter anak di RS Koja dengan dokter Irfan. Dokter Irfan menyampaikan di telepon bahwa Debora kondisinya sudah stabil, pasokan oksigen lancar, dan layak untuk ditransportasikan.

Namun, telepon tiba-tiba terhenti saat suster yang menjaga Debora datang dengan muka panik. Sambungan telepon diputus dan dokter Irfan langsung menangani Debora.

“Feeling saya di situ udah enggak enak, lima menit, saya dipanggil masuk, saya lihat anak saya sudah pucat, matanya sudah ke atas,” kata Henny.

Memasuki fase Kritis

Dokter dan suster pun langsung mengupayakan resustasi (CPR) secara bergantian. Dokter sempat menyebut bahwa Tiara Debora masih bernapas, namun jantungnya berhenti berdetak.

Monitor jantung memperlihatkan kode garis lurus tanpa kelokan yang menandakan tak ada pergerakan jantung.

Air mata Rudianto dan Henny sedari tadi menetes membasahi pipi. Keduanya memilih menggenggam penuh kasih bayi Tiara Debora yang berteriak agar bertahan.

“Dek, jangan pergi, tolong kamu bertahan, jangan menyerah,” kata Henny yang membuat keadaan saat itu dramatis lantaran pecah dalam balut kesedihan yang mendalam.

Rupanya genggaman penuh kasih dan teriakan ‘bertahan’ dari kedua orang tuanya tak membuat detak jantung Tiara Debora berdetak.

Dokter dan suster pun menyerah. Keduanya meninggalkan bayi mungil nan cantik, Tiara Debora yang telah tak bernyawa. Suster yang sempat beraksi untuk menyelamatkan Tiara Debora pun melepaskan ucapan turut berduka cita.

Henny dan suami menangis keras memecahkan seluruh rasa kehilangan atas kepergian Tiara Debora dalam peristirahatan yang abadi. Mereka meangis pilu dengan tatapan wajah kosong ke buah hati yang sedang ‘dipreteli’ satu per satu alat medis yang menempel.

Henny pun melempar pertanyaan kepada suster tentang penyebab meninggalnya Tiara Debora. Dengan meyakinkan sang suster pun menjawab bahwa seharusnya Tiara Debora melakukan perawatan di ruang PICU.

Tanpa banyak berkata-kata, Rudianto dan Henny mengurus administrasi rumah sakit serta surat kematian. Ia membayar Rp 6 juta lebih atas perawatan di IGD. Ia pun meminta surat kematian yang tak menjelaskan apa pun penyebab kematian Debora.

“Saya bilang, ini saya punya kewajiban saya tetap bayar, saya enggak lari meskipun anak saya sudah meninggal,” ujar Henny.

Ia kemudian membawa pulang anaknya dan menguburkan anak kelimanya itu untuk selamanya.

Kisah Henny ini sempat viral di media sosial. Henny mengaku tak mengharapkan apa-apa, selain berharap tak ada Debora-Debora lainnya di luar sana.

“Saya mau marah, mau ngacak-ngacak ancurin rumah sakit itu, tetapi saya masih ada anak-anak saya,” ujarnya.

Sumber : Bayi Tiara Debora yang Malang, Penyelamatanmu Jadi Sia-sia Saat RS Utamakan Biaya
Bayi Tiara Debora yang Malang, Penyelamatanmu Jadi Sia-sia Saat RS Utamakan Biaya
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments