Sunday, October 17, 2021
Home Jitu News Bebas Impor BBM di 2023 Masih Diragukan

Bebas Impor BBM di 2023 Masih Diragukan

Pada tahun 2023 mendatang, PT Pertamina (Persero) menargetkan Indonesia bebas impor bahan bakar minyak. Acuan dalam hal ini adalah Pertamina telah merampungkan pembangunan dua unit kilang baru dan peningkatan kapasitas empat kilang lama. Ini merupakan sebuah misi raksasa senilai USD 35 miliar atau sekitar Rp 455 triliun.

Namun, Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Nasdem, Kurtubi, masih meragukan akan hal tersebut. Ia menjelaskan bahwa sejatinya roadmap kilang dan lokasinya masih belum jelas.

“Harus dipertegas bahwa minyak mentah yang diolah di luar itu tidak boleh terjadi. Saya khawatir kalau sebenarnya pertamina mengolah minyak mentahnya di luar, jadi tidak dianggap impor. Sekali pun membeli kilang minyak di Singapura itu juga tidak boleh. Kita membangun kilang dalam negeri itu bertujuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Jadi saya meragukan kalau 2023 nanti dianggap bebas impor, mana roadmap kilangnya, lokasi juga harus jelas,” ujar Kurtubi di Hotel Oria, Jakarta, Rabu (26/4).

 

Lebih lanjut, Kurtubi menjelaskan bahwa lokasi kilang BBM yang sebagian besar berada di wilayah kalimantan timur itu tak disetujui oleh fraksinya di Komisi VII DPR RI.

“Fraksi kami menentang. Alasan saya, kilang baru yang mau dibangun ini minyak mentahnya 100% impor. Ini karena produksi minyak dalam negeri anjlok, BBM-nya dipisahin untuk kebutuhan BBM di Bali, NTB, NTT, Maluku, dan Papua. Ongkos angkutnya kelewat mahal. Kecuali kalau minyak mentahnya produksi kalimantan timur,” terangnya.

Kurtubi menilai, idealnya kilang itu harus dekat dengan sentra konsumen. Dalam hal ini dengan meningkatkan satu kilang di wilayah Sorong. Sehingga, nantinya minyak BBM untuk Papua, Maluku dipermudah dengan adanya akses di Sorong dan bukan dari Bontang.

“Saya usulkan untuk harus ditingkatkan kapasitas kilang di Sorong untuk kebutuhan Papua dan Maluku. Satu di NTB, satu di Pulau Lombok untuk kebutuhan Bali, NTB, NTT. Kenapa di Lombok? Karena di situ selatnya lebar dan lautnya dalam, jadi kapal tanker raksasa pun bisa masuk. Dari segi ongkos jauh lebih murah ketimbang dari Bontang. Nasdem menolak kilang minyak dibangun di Bontang, sebab itu GRR (Green Road Refinery),” paparnya.

Kurtubi juga berbicara dalam aspek kepentingan nasional, selain efisiensi biaya distribusi BBM secara Nasional, juga alasan keamanan jangka panjang.

“Nggak boleh industri rawan api di satu lokasi begitu padat. Ada kilang LNG, pabrik pupuk, petrokimia, satu lokasi. Jika ada hal apa-apa dengan negara tetangga, hitungan menit hancur Republik ini. Dan kita juga nggak berharap hal ini terjadi,” pungkas Kurtubi.

 

 

@jitunews http://jitunews.com/read/57571/bebas-impor-bbm-di-2023-masih-diragukan#ixzz4fQR3WzKm

Most Popular

Recent Comments