Cerita tentang Gas Air Mata Buatan China yang Diminati Negara Arab sampai Venezuela

0
23

China diperkirakan akan meningkatkan produksi gas air mata dan senjata pengendali kerumunan lain. Hal tersebut dilakukan untuk mengikuti tingginya permintaan dari penegak hukum domestik dan luar negeri.

South China Morning Post melaporkan, Minggu (25/8), meningkatnya permintaan gas air mata dan senjata tidak mematikan turut dipicu oleh kebutuhan polisi anti huru hara Hong Kong. Meskipun, Hong Kong juga mengandalkan pemasok senjata dari luar negeri.

China mulai memproduksi gas air mata sendiri sejak 1990-an. Polisi anti huru hara di China daratan dikabarkan telah menggunakan gas air mata produksi negaranya, guna menangani sejumlah demonstrasi dalam satu dekade terakhir. Tak terkecuali demonstrasi menentang perampasan tanah di Desa Wukan, Provinsi Guangdong pada 2011 dan 2016 lalu.

Tidak hanya memasok senjata untuk polisi anti huru hara lokal, gas air mata produksi China juga digunakan di beberapa negara, seperti kerusuhan politik di Thailand, Arab, Sudan, dan Venezuela.

Menurut laporan analisis Research & Markets di awal bulan ini, pembuat senjata penegak hukum China dapat tumbuh hingga 7,4 persen dalam periode 2019 hingga 2025. Dikatakan, nilai pasar di periode tersebut mampu menyentuh angka USD 811 juta atau senilai Rp 115 triliun.

Diprediksi, tahun 2022 nilai industri senjata anti huru hara China bisa lebih besar dari USD 9,7 miliar, berdasarkan laporan Allied Market Research.

“Karena pertumbuhan ekonomi yang kuat, peningkatan pengeluaran militer, perkembangan industri yang cepat, dan meningkatnya situasi kerusuhan sipil,” kata laporan Allied Market.

Dikirim sampai Aljazair

Gas air mata terbilang populer di kalangan penegak hukum, karena mudah didapat, murah, dan kemampuannya yang cukup efektif untuk melumpuhkan target. Tahun lalu, sekitar 20.000 gas air mata dikirim dari perusahaan manufaktur swasta yang memproduksi peralatan Polisi Jinjian.

“Kebanyakan klien berasal dari dalam negeri, tetapi ada juga pembeli asing dan perusahaan dagang yang akhirnya memperjual-belikan barang ke luar negeri,” ujar Han, seorang penjual yang dikutip oleh South China Morning Post. “Sejauh yang saya tahu, beberapa granat kami dikirim ke Aljazair,” imbuh pekerja di Taman Industri Peralatan Kepolisian Jinjiang, Jiangsu Timur.

Han menjelaskan, di kawasan dia bekerja setidaknya ada 500 perusahaan bidang persenjataan. Meskipun mayoritas lebih berfokus pada jual beli senjata, dibandingkan kegiatan produksi.

Berdasarkan penelitian oleh Amnesty International dan Omega Research Foundation tahun 2014, sejumlah produksi peralatan kepolisian dan keamanan telah meningkat empat kali lipat, dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Dari 134 penjualan yang ada, 48 di antaranya diekspor ke luar negeri.

Tahun 2016, sebanyak 16 perusahaan ditunjuk oleh pemerintah untuk memasok pengadaan gas air mata. Jumlah ini telah meningkat menjadi 50 dibanding tahun sebelumnya.

Menurut Han, pengadaan gas air mata perlu dilakukan secara berkala, karena bahan kimia yang digunakan memiliki masa kedaluarsa antara satu atau dua tahun dari tanggal produksi. Untuk melakukan pembelian gas air mata, perlu mengantongi persetujuan dari Kementerian Keamanan Publik.2 dari 2 halaman

Dilarang dalam perang

Di Hong Kong, polisi kerap menggunakan gas air mata, senapan angin, dan semprotan merica selama protes anti-pemerintah berlangsung. Sejauh ini, tak kurang dari 1.800 gas air mata ditembakan guna menghalau aksi massa. Penggunaan gas air mata ini juga sempat menuai kritik, ketika polisi menembakkannya di area perumahan dan stasiun MTR dinilai membahayakan kesehatan masyarakat.

“Apa yang membuat gas air mata legal untuk digunakan, adalah bahwa para pengunjuk rasa selalu dianggap dapat menghindari asap, dan asap itu selalu dianggap mampu menguap dan bersifat sementara,” jelas Dr Anna Feigenbaum, penulis buku komprehensif 2017 tentang gas air mata.

“Masalahnya, di Hong Kong kedua hal itu tidak terjadi. Anda memiliki situasi di mana ada banyak jalan yang tertutup, ada barikade, dan ada jalan sempit yang telah diblokir garis polisi,” ungkap Feigenbaum, menggambarkan situasi di lokasi unjuk rasa Hong Kong.

Hingga saat ini, Inggris tercatat sebagai pemasok utama bagi persediaan gas air mata di Hong Kong. Akan tetapi, tidak ada undang-undang yang melarang polisi Hong Kong untuk memakai gas air mata produksi China.

Sementara, pada Juni lalu Inggris diberitakan akan menangguhkan ekspor gas air mata dan peluru karet ke Hong Kong. Penangguhan itu dilakukan dengan alasan kekhawatiran tentang pelanggaran hak asasi manusia, menyusul aksi rusuh yang terjadi akibat demo pro-demokrasi Hong Kong.

Keputusan Inggris mendapat dukungan dari parlemen Eropa yang menyerukan kontrol ekspor untuk China, khususnya Hong Kong dengan alasan hak asasi manusia.

Penggunaan gas air mata dilarang dalam perang, namun diizinkan untuk pengendalian kerusuhan domestik. Ini berarti, China tidak memiliki kewajiban untuk melarang atau memperketat kontrol ekspornya.

Meski demikian, pembatasan ekspor gas air mata masih terjadi. “Pembeli asing harus memberikan seluruh dokumen seperti informasi dan lisensi, serta persetujuan yang relevan dari kepolisian China,” pungkasnya. 

Sumber : Merdeka.com