Dianggap Beri Keterangan Palsu, Bos Pengembang Pasar Turi Dituntut 38 Bulan Bui

0
21

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya menuntut terdakwa bos pengembang Pasar Turi Henry Jocosity Gunawan selama tiga tahun dan enam bulan atau 38 bulan penjara. Dia dan istrinya dituntut bersalah oleh jaksa karena dianggap telah memasukkan keterangan palsu ke dalam akta otentik.

Berbeda halnya dengan sang istri, Iuneke Anggraini. Ia dituntut jaksa selama dua tahun penjara. Tuntutan ini pun dibacakan oleh JPU Ali Prakosa di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (12/12).

Dalam surat tuntutan JPU disebutkan bahwa para terdakwa dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, telah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 266 ayat (1) KUHP Juncto pasal 55 (1) ke-1 KUHP.

“Menuntut, menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa satu Henry J Gunawan selama tiga tahun dan enam bulan dan terdakwa dua, Iuneke Anggraini selama dua tahun penjara,” ucap JPU Ali Prakosa.

Hal yang memberatkan, para terdakwa tidak mengakui perbuatannya, memberikan keterangan berbelit belit selama persidangan. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa satu sebagai tulang punggung keluarga dan terdakwa dua tidak pernah dihukum.

Atas tuntutan JPU, hakim Dwi Purwadi memberikan kesempatan kepada tim penasihat hukum terdakwa, untuk menyusun pembelaan selama lima hari ke depan.

“Silahkan kepada penasihat hukum, untuk mengajukan pembelaan. Kami beri kesempatan sampai hari Senin tanggal 16 Desember (2019),”kata Ketua Majelis Hakim, Dwi Purwadi.

Mendapati tawaran hakim, tim penasihat hukum para terdakwa malah menawar kembali untuk menyusun pembelaan selama satu minggu.

“Kan sudah saya kasih lima hari. Masa ga cukup. Saya lo buat putusan dalam dua hari,” tukas hakim Dwi.

Setelah berdebat cukup lama, akhirnya diputuskan sidang selanjutnya pada hari Selasa 17 Desember 2019.

Untuk diketahui perkara memberikan keterangan pernikahan palsu ini dimulai pada Juli 2010. Saat itu, terdakwa Henry J Gunawan dan Iuneke Anggraini mengaku sebagai pasangan suami istri (Pasutri) saat membuat 2 akta perjanjian pengakuan utang dan personal guarantee.

Namun, mereka diketahui baru resmi menikah di Vihara Buddhayana Surabaya pada 8 November 2011, yang dinikahkan oleh pendeta Shakaya Putra Soemarno Sapoetra serta baru dicatat di Dispenduk Capil pada 9 November 2011. 

Sumber : Merdeka.com