Saturday, July 31, 2021
Home Nasional Diduga Ada Mafia di Penanganan Kasus Proyek Apartemen, Kuasa Hukum Ambil Langkah...

Diduga Ada Mafia di Penanganan Kasus Proyek Apartemen, Kuasa Hukum Ambil Langkah Ini

Kapolda Jawa Timur Irjen Polisi Machfud Arifin berserta anak buahnya yakni Dirreskrimum Kombes Pol Agung Yudha, dan penyidik Unit III Subdit II Harda Bangtah akan dilaporkan ke Kapolri dan Kadiv Propam Mabes Polri, Senin (21/5).

Pelaporan itu dilayangkan oleh ES MMP Law Firm, selaku kuasa hukum Ir Klemens Sukarno Candra dan Budi Santoso selaku direksi PT Bumi Samudera Jedine, yang menjadi korban praktek mafia hukum di Polda Jawa Timur dalam dugaan rekayasa kelompok mafia Surabaya dengan motif ingin mencaplok tanah seluas enam hektar, yang bakal dibangun di atasnya proyek apartemen Royal Afatar World.

Kuasa Hukum Direksi PT Bumi Samudera, Edi Dwi Martono, menyebut, laporan tersebut ditembuskan pula ke presiden, Ketua KPK, dan Kepala BIN.

Lanjut Edi, modus operandi rekayasa hukum itu mengorganisir dan mendorong 73 konsumen proyek apartemen Royal Afatar Word untuk membuat laporan polisi di Polda Jawa Timur. Padahal, kasusnya masuk dalam ranah hukum perdata. Dia meminta Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian segera turun tangan memeriksa pimpinan Polda Jawa Timur itu.

“PT Bumi Samudera Jedine sebagai pengembang diperlukan untuk kepentingan negara. Selain menciptakan lapangan kerja, proyek-proyeknya bermanfaat bagi pengembangan pembangunan dan perekonomian daerah. Kriminalisasi dan praktik mafia hukum yang dilakukan sangat kasar dan vulgar,” kata Edi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (20/5).

Modus operandi rekayasa hukum kelompok mafia Surabaya yang dekat dengan petinggi Polda Jawa Timur itu, kata Edi, mula-mula mengorganisir dan mendorong 73 konsumen proyek apartemen Royal Afatar Word untuk membuat laporan polisi di Polda Jawa Timur. Padahal kasusnya masuk dalam ranah hukum perdata.

Oknum kelompok mafia Surabaya, lanjut dia, diduga berperan mengorganisir pelaporan adalah Santoso Tedjo, yakni mantan Ketua Lira Jawa Timur yang pernah tersangkut kasus narkoba, dengan kedok membela rakyat kecil.

“Kedok membela rakyat kecil juga pernah dipakai dalam kasus Pasar Turi. PT Bumi Samudera Jedine, selaku developer proyek apartemen Royal Afatar Word wanprestasi, karena terlambat mewujudkan pembangunan unit apartemen yang dijanjikan kepada konsumen yang telah membayar,” tukas Edi.

“Peristiwa ini tidak dapat digolongkan sebagai bentuk pidana penipuan, karena PT Bumi Samudera Jedine selaku pengembang sudah memiliki izin lokasi berdasarkan Putusan Bupati Sidoardjo Nomor 188/2/404.1.3.2/2014,” sambungnya.

Lebih lanjut, Edi menyebut, penetapan tersangka dan penahanan kliennya oleh penyidik Unit III Subdit II Polda Jawa Timur diduga tanpa alat bukti kuat. Bahkan, sejak ditahan 19 April 2018, kliennya mengalami intimidasi secara psikologis dan menderita secara psikis. Terlebih, Dirreskrimum selama (17-18 Mei 2018) diduga menemui dan menekan kedua tersangka.

Tujuannya agar terbuka menerangkan semua data aset perusahaan, termasuk diarahkan untuk segera dijual kepada investor yang ditentukan dengan dalih menyelesaikan kasusnya. Dalam menjalankan aksinya, sambung Edi, kelompok mafia ini sudah menyiapkan investor (pengusaha) di Surabaya yang juga disinyalir kolega Kapolda Jawa Timur.

“Dia (investor) itu siap menggelontorkan Rp200 miliar yang belum diketahui dari mana asal muasal dana tersebut,” tuntas Edi.

Sumber : Diduga Ada Mafia di Penanganan Kasus Proyek Apartemen, Kuasa Hukum Ambil Langkah Ini
Diduga Ada Mafia di Penanganan Kasus Proyek Apartemen, Kuasa Hukum Ambil Langkah Ini
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments