Dikeroyok, Kasatreskrim Polres Wonogiri Batal Sertijab Kapolsek Semarang Tengah

0
52

Hari Jumat, 11 Mei 2019, seharusnya menjadi hari bersejarah bagi AKP Aditia Mulya Ramdhani yang selama ini menjabat Kasatreskrim Polres Wonogiri, Jawa Tengah. Dia akan mengemban jabatan baru sebagai Kapolsek Semarang Tengah, Kota Semarang dengan pangkat Komisaris Polisi atau Kompol.

Namun nahas, Aditia menjadi korban pengeroyokan saat menghalau massa pelaku perusakan di Sudimoro, Kabupaten Wonogiri, Rabu (9/5) lalu. Kondisi Aditia kini masih kritis dan belum sadarkan diri sejak dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS dr Oen Solo Baru.

“Ini kan sebenarnya promosi dapat job Kompol di Semarang Tengah. Harusnya Jumat kemarin serah terima Kasatreskrim, dia menghadap ke Polrestabes Semarang,” ujar Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti Istiwidayati, saat ditemui di Rumah Sakit Dr Oen Solo Baru, Senin (13/5).

Uni menerangkan, saat ini tugas Kasatreskrim Polres Wonogiri sudah diambil alih oleh pejabat baru, AKP Purbo Ajar Waskito. Yang bersangkutan sebelumnya menjabat Kasatreskrim Polres Karanganyar, Jawa Tengah.

Aditia bertugas di Polres Wonogiri pada Desember 2018. Selama bertugas menjadi kasatreskrim, dia selalu menunjukkan dedikasi yang tinggi pada institusinya. Pihaknya merasa prihatin dan kehilangan dengan cobaan yang menimpa Aditia.

“Tentu kami merasa sangat berduka. Kami mohon doanya dan semoga kasus ini cepat terungkap,” tutupnya.

Kasatreskrim Terluka Bukan Karena Lerai Bentrokan

Ditambahkan Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti Istiwidayati, Aditia Mulya Ramdhani terluka parah bukan karena melerai bentrokan massa. Namun saat pengawalan konvoi massa salah satu perguruan silat saat memasuki wilayah Kabupaten Wonogiri.

“Kemarin itu bukan bentrokan antara Winongo (Persaudaraan Setia Hati Winongo) dan Terate (Persaudaraan Setia Hati Terate). Itu konvoi PSHT, massa Winongo sudah kita minta pulang, agar tidak terjadi bentrokan,” katanya.

Namun, kata dia, media sosial melakukan provokasi. Kemudian mereka (massa PSHT) melakukan konvoi masuk ke Kota Wonogiri, dengan sasaran merusak tugu-tugu milik PSHW. Dalam waktu hanya beberapa detik saja informasi hoaks tersebut bisa mempengaruhi massa hingga mencapai ribuan.

“Tidak ada bentrokan, kemudian kita urai. Kami sudah memanusiakan mereka. Persuasif, menempatkan mereka sebagai manusia. Kami menjaga peradaban, membangun keadilan, tapi apa yang mereka lakukan?” keluhnya.

Kapolres mengaku saat peristiwa tersebut pihaknya hanya menghalau dan mengurangi massa agar tidak melakukan perusakan. Pihaknya juga sudah melakukan negosiasi dengan para ketua kelompok massa.

“Kita urai, kita kembalikan. Negosiasi dengan ketua ketuanya. Tapi apa yang kita lakukan, dibalas dengan seperti itu. Kami menempatkan mereka sebagai manusia yang beradap,” ucapnya.

Dia mengaku saat peristiwa tersebut tidak ada bantuan dari kepolisian sekitar atau Polda Jateng. Karena kondisinya insidentil. Sehingga pihaknya lebih mengutamakan pendekatan persuasif dan negosiasi. Setelah berhasil, kemudian dilakukan pengawalan konvoi.

“Pemicu pengeroyokan terhadap Kasatreskrim masih kita selidiki,” jelas dia.

 

 

Sumber : Merdeka.com