Fahri Hamzah Tanggapi Video Marah Jokowi Terhadap Kinerja Menteri : Ini Bukan Drama

0
83

Dok. Instagram @fahrihamzah

Jakarta, Harmoni Media — Mantan Wakil Ketua DPR, yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gelora¬†Fahri Hamzah mengungkapkan sebenarnya pihaknya tengah membantu Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menanggapi soal kemarahan Presiden Jokowi terhadap para menteri, dia mengatakan, pernyataan yang disampaikan Jokowi agak tidak biasa.

Hal itu disampaikan Fahri dalam tayangan yang diunggah di kanal YouTube Indonesia Lawyers Club, Rabu (1/7) kemarin.

Dalam kesempatan itu, Fahri menguliti satu-persatu pernyataan Jokowi yang dirasanya tidak biasa.

Pertama, soal Jokowi yang dengan tegas meminta para pembantunya memiliki perasaan krisis menangani pandemi Covid-19.

“Pernyataan agak tidak biasa, bayangkan presiden mengatakan, ‘kita harus punya sense of crisis’, saya ingin sekali presiden ngomong begini, 3 atau 4 bulan yang lalu.”

“Ketika orang-orang di luar sudah ribut, kita sendiri masih protektif, seolah-olah kita lebih dari negara-negara lain,” ungkap Fahri.

Kemudian, pernyataan presiden yang meminta menterinya memiliki ‘perasaan yang sama’ dalam penanganan Covid-19.

Fahri menilai, dari pernyataan itu, presiden seolah mengiba kepada para pembantunya.

“Presiden meminta, ini luar biasa, meminta kita punya perasaan yang sama, itu kan luar biasa.”

“Kalau saya menonton itu berkali-kali, presiden seperti mengiba ‘ayolah kita punya perasaan yang sama dong tentang keadaan ini’,” terang Fahri.

Ketiga, Fahri menyoroti soal pernyataan presiden yang menyebut para pembantunya seperti tak punya perasaan.

Fahri menafsirkan, dalam hal itu, presiden seolah-olah menuduh para menterinya tidak punya perasaan.

“Kemudian presiden mengatakan, banyak yang nggak punya perasaan, waduh itu luar biasa.”

“Jadi mungkin dia menuduh menteri-menterinya nggak punya perasaan,” ungkap Fahri.

Menurut Fahri, kata ‘tidak punya perasaan’ ini jika diucapkan dalam sebuah sinetron bermakna ringan.

Namun, saat diucapkan seorang presiden terhadap lembaga negara, itu adalah hal yang serius.

“Tuduhan tidak punya perasaan kepada lembaga negara itu serius sebenarnya,” ucap dia.

Selain itu, Fahri juga menyinggung pernyataan presiden soal bantuan yang tak kunjung turun.

Menurut dia, apa yang disampaikan Jokowi kali ini bukanlah drama semata.

“Kemudian beliau mengatakan, apa mau dilihat rakyat mati dulu baru cair.”

“Sepandai-pandainya Pak Jokowi membuat drama tapi menurut saya mungkin ini bukan drama ya,” kata Fahri.

Selanjutnya, soal kejujuran Jokowi yang menyebut tidak ada progres signifikan yang dilakukan oleh para menterinya.

Fahri menilai, bahwa pernyataan presiden itu bukan drama, karena tak mungkin seorang presiden berbicara sembarangan di depan seluruh rakyatnya.

“Yang terakhir, sejujurnya saya katakan tidak ada progres, ini kata-kata presiden, ya sedrama-dramanya kan nggak boleh presiden kemudian ngawur dalam kata-kata.”

“Sebab dia dengar oleh rakyat dan dipertimbangkan oleh yang beliau ulang-ulang berkali-kali, 267 juta rakyat Indonesia,” jelasnya.

Terakhir, Fahri menyinggung soal presiden yang siap mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu).

Padahal, menurut dia, Perppu adalah pintu dari sebuah kedaruratan.

“Karena kuasa membuat undang-undang itu dalam konstitusi negara kita itu adanya di DPR tapi presiden mengambil itu,” ungkap dia.

Dari pernyataan presiden tersebut, Fahri menyimpulkan, bahwa Presiden Jokowi tengah merasa ada kedarutan yang terjadi di Indonesia.

“Jadi saya merasa presiden ini merasa ada kedaruratan,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, ancaman perombakan kabinet tiba-tiba muncul di tengah pandemi Covid-19.

Hal itu diungkapkan Jokowi saat membuka Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Kamis (18/6) lalu.

Ancaman reshuffle itu muncul setelah Jokowi merasa kinerja para menterinya masih biasa-biasa saja, padahal dalam situasi krisis seperti sekarang ini.(Red)