Fakta mencengangkan kondisi karyawan Freeport setelah dirumahkan

0
688

Puluhan karyawan PT Freeport Indonesia melakukan demo di depan kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Selasa (7/3) pagi. Mereka menuntut pemerintah dan PT Freeport Indonesia segera menemukan kesepakatan agar perusahaan kembali beroperasi.

“Menyelesaikan segera perundingan bersama PT Freeport Indonesia resiko penghentian penambangan di salah satu tambang bawah tanah yang paling sulit dioperasikan dengan menggunakan sistem block caving,” kata karyawan PT Freeport Natalia di lokasi, Selasa (7/3).

Selain itu, kata Natalia, jika PT Freeport Indonesia berhenti beroperasi maka karyawan akan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Pemerintah juga diminta tak memutuskan regulasi secara sepihak.

“Regulasi yang diterbitkan secara sepihak tanpa memikirkan akibat 32.000 karyawan dan warga Timika Papua,” kata dia.

Semenjak perusahaan berhenti beroperasi karena tak juga mengubah Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), puluhan karyawan PT Freeport Indonesia telah ‘dirumahkan’.

Salah satu karyawan PT Freeport Indonesia, Rio Saputro, mengaku bingung bagaimana membiayai istri yang sedang mengandung 5 bulan namun penghasilannya berkurang drastis.

“Sementara ini istri masih mengandung. Kenapa harus Freeport berhenti. Saya mau anak sekolah keluar negeri dan Freeport yang bisa menanggung,” kata Rio.

Pria yang bekerja di bagian central service engineering ini mengatakan, saat ini masih mendapatkan gaji dari perusahaan meski tak dibayar penuh. Misalnya, gaji Rp 10 juta namun hanya dibayarkan setengahnya yakni Rp 5 juta.

“Saat ini belum ada kejelasan sampai kapan ya. Pendapatan masih ada tapi ya harus berkurang banyak,” kata dia.

Dia mengakui harus membayar tiket pesawat Rp 1,5 juta memakai dana sendiri untuk melakukan demo ke Jakarta. “Cuti bersama, budget saweran,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Serikat PekerjaFederasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT Smelting Gresik, Zainal Arifin mengatakan penumpukan produksi di gudang PT Freeport Indonesia bukan hanya disebabkan oleh PHK karyawan Freeport, namun juga disebabkan oleh PHK yang dialami oleh karyawan PT Smelting Gresik. Sebab, selama ini Freeport melakukan pemurnian konsentrat tembaga di PT Smelting.

“Freeport yang saat ini setop produksi, disebabkan PHK PT Smelting Gresik terhadap 309 karyawannya. Di mana, PT Smelting adalah satu satunya pabrik peleburan di Indonesia yang mengolah hasil tambang tembaga Freeport. Sekarang, gudang Freeport menumpuk karena karyawan yang bertugas di bagian inti dan bagian lainnya PT Smelting telah di PHK,” ujar Zainal di Hotel Mega Proklamasi,Jakarta, Selasa (7/3).

Dia menjelaskan pemecatan sepihak yang dilakukan PT Smelting terhadap 309 karyawan, berawal dari mogok kerja yang dilakukan oleh karyawan akibat gaji yang tidak sesuai.

Menurutnya, aksi mogok kerja yang dilakukan 309 karyawan mendapat reaksi PHK sepihak oleh pihak manajemen. Alasannya, manajemen menilai bahwa mogok kerja yang dilakukan bagian tindakan indisipliner terhadap manajemen PT Smelting.

“Pembahasan PKB (perjanjian kerja bersama) dengan manajemen itu dilakukan sejak 26 November 2016 hingga 6 Januari 2017. Karena tidak kunjung ada kesepakatan, para karyawan kemudian melakukan mogok kerja.”

“Mereka beralasan bahwa kami tidak disiplin, tidak mengikuti prosedur kerja yang telah ditetapkan. Bahkan, kami tidak diberi hak kami setelah dilakukan PHK,” imbuhnya.

Dengan demikian, Zainal meminta ada inisiatif baik dari pihak manajemen untuk melakukan mediasi dengan 309 karyawan untuk menemukan solusi bagi nasib karyawan sesuai dengan PKB yang telah disepakati.”Kami minta kepada manajemen untuk konsekuen dalam menjalankan perjanjian bersama dan PKB yang disepakati sebelumnya,” pungkasnya. [sau]

 

Sumber : https://www.merdeka.com/uang/fakta-mencengangkan-kondisi-karyawan-freeport-setelah-dirumahkan-splitnews-3.html