Sunday, April 18, 2021
Home Dunia Gelombang Ketiga Covid-19: Eropa Lockdown, ini Antisipasi Indonesia

Gelombang Ketiga Covid-19: Eropa Lockdown, ini Antisipasi Indonesia

Harmoni Media –  Varian baru Virus Corona atau Covid-19 bermunculan. Ada yang lebih menular. Gelombang ketiga pandemi COVID-19 pun mulai menghantam Eropa.

Karantina wilayah atau lockdown kembali jadi solusi. Sejumlah negara di Eropa terpaksa memberlakukan kembali kebijakan tersebut.

Salah satunya Belanda. Pemerintah Negeri Kincir Angin itu memperpanjang lockdown hingga 20 April 2021. Bukan tanpa alasan. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menyatakan,  lockdown diperpanjang karena meningkatnya jumlah kasus infeksi COVID-19 dan rawat inap di rumah sakit.

“Jumlah pasien COVID-19 yang mendapat perawatan intensif semakin meningkat. Gelombang ketiga mulai terlihat. Oleh karena itu, paket tindakan (lockdown) saat ini diperpanjang,” kata Rutte.

“Saya mengerti (keputusan) ini mengecewakan. Saya memahami (adanya) ketidaksabaran. Namun, jumlah kasus infeksi Virus Corona baru sedang meningkat,” tegasnya.

Selain Belanda, Jerman juga menerapkan kebijakan serup. Kanselir Angela Merkel mengumumkan Jerman kembali lockdown karena adanya lonjakan baru infeksi Virus Corona.

“Situasinya serius. Jumlah kasus meningkat secara eksponensial dan tempat tidur perawatan intensif terisi lagi,” ungkap Merkel.

Di Polandia, yang mengalami jumlah kasus harian terbanyak sejak November, upaya baru telah memaksa toko-toko non-esensial dan fasilitas lain untuk tutup selama tiga pekan. Toko-toko non-esensial juga tutup di Ibu Kota Ukraina, Kyiv, dimana hanya pasar makanan yang diperbolehkan buka.

Sementara itu, sekitar sepertiga populasi Perancis berada dalam karantina wilayah setelah pembatasan diberlakukan pada Jumat 19 Maret di Paris dan beberapa kawasan lain di sebelah utara dan selatan negara itu.

Selain menghadapi gelombang ketiga pandemi COVID-19, para pemimpin Uni Eropa juga kesulitan untuk menyelesaikan perselisihan tentang distribusi suntikan vaksin COVID-19. Mereka tengah berupaya meningkatkan vaksinasi untuk 27 negara di tengah kekurangan pasokan vaksin, lonjakan kasus karena varian baru COVID-19, dan perselisihan dengan Inggris.

“Kita berada pada awal gelombang ketiga di Eropa, dan di banyak negara anggota Eropa, penularan meningkat lagi,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen setelah pertemuan puncak para pemimpin Uni Eropa secara virtual.

“Hanya untuk memperjelas, kita hendak memastikan bahwa Eropa mendapatkan bagian vaksin yang adil,” imbuhnya.

Selain di Eropa, varian baru Virus Corona juga terdeteksi di Indonesia yang kini sedang melaksanakan vaksinasi COVID-19. Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mencegah terjadinya gelombang baru penyebaran COVID-19?

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya Darmawan menegaskan, solusinya adalah jangan kendor mengikuti protokol kesehatan. Testing dan tracing juga tidak boleh dilupakan meski jutaan orang sudah mendapat vaksin.

“Varian baru ya bisa menyebar ke manapun. Prinsipnya begini: yang harus diwaspadai adalah proses penularan. Hal itu terus berjalan, karena itu proses pencegahan harus terus dilakukan,” jelasnya,  dikutip hari ini, Sabtu (27/3).

Ede mengingatkan, vaksinasi tidak bisa melindungi 100 persen, terbukti dengan kasus-kasus tertular sesudah mendapatkan dua dosis vaksin. Selain itu, laju vaksinasi di Indonesia juga masih 350 ribu dosis per hari.

Ede memberi contoh bahwa 2 juta vaksin sehari saja butuh 3 bulan untuk memvaksinasi sekitar 180 juta orang, sehingga vaksinasi saat ini belum sesuai harapan.

“Selama vaksinasi itu belum selesai, fase 1 dan fase 2, (dan) yang kedua, selama penularan kasus baru masih ditemukan di atas 5 persen positive rate, reproduksi efektif di atas 1, jadi selama itu kita masih diancam kondisi pandemi, dan tak bisa mengendorkan protokol kesehatan,” ujarnya.

Ia menyebut kebijakan PPKM Mikro bisa menjadi solusi untuk melawan penyebaran virus COVID-19, asalkan kebijakannya sungguh-sungguh.

“Kalau PPKM Mikronya berjalan efektif dan penemuan kasusnya itu juga cepat. Ini kita bisa melimitasi pergerakan dari virus itu. Jadi, tantangannya adalah bagaimana kita bisa melakukan limitasi pergerakan virus,” jelas Ede.

Menurut dia, masalah dari varian baru COVID-19 ini adalah penularan yang lebih cepat. Vaksin Sinovac dianggap masih bisa efektif, sebab varian baru ini tidak menunjukan bahwa vaksinnya lebih kebal.

“Yang mesti dicatat adalah orang yang sudah divaksin dua kali pun bukan berarti kebal 100 persen. Masih mungkin terinfeksi. Buktinya banyak yang sudah divaksin lengkap kemudian terinfeksi, tapi gejalanya jadi kecil, jadi ringan, sehingga bahkan tanpa gejala. Ini kan artinya level dari persoalan lebih rendah,” ujarnya.

Ede juga mengingatkan agar pemerintah tegas agar tidak mengizinkan sekolah tatap muka di zona merah.

“Sebaiknya itu tetap dipantau. Ukuran-ukuran pandemi mesti diterapkan di daerah situ. Satu, misalnya zonasi jangan merah.”

“Kedua kalau bisa testing-nya dan tracing-nya sudah bagus. Dan positive rate-nya di bawah lima persen. Reproduksi efektifnya di bawah satu persen. Dengan demikian, penularan terkendali, tapi kalau semuanya masih di atas itu indikatornya. Itu sangat berisiko,” jelasnya.

Saat ini, sudah ada sekolah yang membuka kelas tatap muka di Jabodetabek. Di Bekasi, dinas pendidikan membuka 88 SD sejak 22 Maret dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Anak-anak tampak mengenakan masker.

Sejak tahun lalu, sekolah di Jepang juga sudah buka. Murid-murid pun harus mengenakan masker di dalam kelas.

Red

Most Popular

Recent Comments