Friday, September 24, 2021
Home Nasional Ilmu Pengetahuan Semakin Maju, Sudah Saatnya Sidang Isbat Ditiadakan?

Ilmu Pengetahuan Semakin Maju, Sudah Saatnya Sidang Isbat Ditiadakan?

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang ada, muncul wacana untuk mengkaji kembali pengadaan sidang isbat yang sudah menjadi agenda rutin pemerintah Indonesia sejak lama.

Salah satunya diungkapkan Wakil ketua Komisi VIII DPR yang membidangi urusan agama, Sodik Mudjahid.

“Sidang isbat sudah berlangsung puluhan tahun dan layak dikaji keberadannya sesuai dengan perkembangan zaman, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam bidang astronomi dan ilmu falaq,” ujar Sodik melalui keterangan tertulisnya, Rabu (24/5/2017).

Menurut Sodik, pelaksanaan sidang isbat sendiri dari tahun ke tahun, baik dalam hal menentukan 1 Ramadan, 1 Syawal, maupun 1 Dzulhijjah, seolah selalu mempertontonkan perdebatan di kalangan ulama, yang sangat berpotensi menimbulkan persepsi negatif di mata masyarakat awam.

Ia juga mengatakan, dengan adanya ilmu pengetahuan yang semakin maju, penetapan kalender Hijriyah seharusnya sudah dapat dilakukan secara permanen seperti kalender Masehi.

Dengan ditiadakannya sidang isbat, lanjut Sodik, masyarakat tidak akan lagi disuguhi perdebatan-perdebatan yang membingungkan. Selain itu, dana untuk sidang isbat sendiri dapat dialihkan untuk hal-hal lain yang dapat bermanfaat bagi umat selama bulan Ramadan.

“Umat Islam khususnya di kalangan awam tidak dipertontokan ‘perpecahan’ dan diberi kebingungan jelang hadapi bulan suci Ramadan. Dana proses isbat bisa digunakan untuk pembinaan umat dalam bulan Ramadan,” pungkasnya.

Perdebatan ini, entah soal penetapan awal puasa sampai Hari Raya, kerap sekali terjadi perbedaan yang seolah membuat umat Islam terlihat ‘kurang kompak’, di saat satu kelompok sudah merayakan Idul Fitri setelah satu bulan berpuasa, misalnya, di saat ada kelompok lain yang masih harus menahan rasa lapar karena berpuasa.

Dalam kurun waktu 14 tahun terakhir (2003-2016), sebagai contoh, tercatat ada tiga kali perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri antara Muhammadiyah dan Pemerintah beserta NU, yakni pada tahun 2006, 2007, dan 2011.

Di sisi lain, pelaksanaan sidang isbat telah menjadi tradisi dan kebiasaan di Indonesia. Sidang isbat sendiri pertama digelar pada tahun 1950-an berdasarkan fatwa ulama saat itu yang menyebut pemerintah boleh menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Berlangsung dengan penuh keterbatasan, Kemenag pun akhirnya membentuk badan khusus yang memang bertugas menangani sidang isbat dalam pelaksanaannya.

“Mulai tahun 1972 dibentuklah semacam badan yang akhirnya bernama Badan Hisab Rukyat (BHR). Di dalamnya terdapat para ahli, ulama dan ahli astronomi, yang tugas intinya memberikan informasi, memberikan data kepada Menteri Agama tentang awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah,” kata Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag) 2012, Muhyiddin Yassin, dikutip dari merdeka.com pada Kamis, 19 Juli 2012.

Lalu, berdasarkan pertimbangan ilmu pengetahuan yang semakin maju dan demi mengantisipasi image ‘tidak kompak’ yang sudah cukup melekat pada diri umat Islam saat ini, berikut gagasan Sodik terkait pengalihan anggaran sidang kepada umat, bijak kah jika sidang isbat ditiadakan?

 

Sumber : Ilmu Pengetahuan Semakin Maju, Sudah Saatnya Sidang Isbat Ditiadakan?
Ilmu Pengetahuan Semakin Maju, Sudah Saatnya Sidang Isbat Ditiadakan?
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments