Friday, July 30, 2021
Home Jitu News Impor Barang Konsumsi Melonjak, INDEF Sebut Indonesia Diserbu Produk Asing

Impor Barang Konsumsi Melonjak, INDEF Sebut Indonesia Diserbu Produk Asing

Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat, nilai impor non-migas pada Maret 2017 naik  signifikan 24,94 persen menjadi US$ 11,10 miliar dibanding bulan sebelumnya yakni US$ 8,88 miliar. Penyumbang kenaikannya berasal dari impor ponsel, plastik sampai kapal laut. Nilai impor US$ 13,36 miliar di Maret merupakan nilai impor bulanan tertinggi sejak Januari 2015.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati, mewanti-wanti, kenaikan impor signifikan terutama ditandai naiknya impor konsumsi, boleh jadi menjadi tanda turunnya daya saing produk dalam negeri.

“Pernyataan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perdagangan, yang menyebut kenaikan impor positif lantaran disokong kenaikan impor bahan baku, juga kurang pas. Pasalnya, impor bahan baku, bahan penolong, juga sejatinya masih secuil. Barang konsumsi tetap mendominasi. Terutama dari Tiongkok dengan kontribusi lebih dari 25 persen dari total impor,” ujar Enny, di Jakarta, Senin (24/4).

Enny menyebu, kondisi ini berbahaya. Terlebih, di saat yang bersamaan kinerja industri dalam negeri juga menunjukkan indikasi penurunan belum recovery.

Dalih pemerintah yang menyebut bahwa impor naik juga lantaran persiapan menyambut ramadan dan lebaran, disebut Enny, juga tidak tepat karena barang yang masuk tidak berkorelasi dengan kebutuhan untuk menjaga stabilitas harga terutama sektor pangan selama lebaran dan ramadhan yang selama ini jadi fokus pemerintah.

“Oke untuk antisipasi lebaran, pertanyaannya nanti bagaimana stabilitas harga apakah signifikan atau tidak? Menjelang ramadhan itu untuk stabilitas harga pandan, dan impornya bukan dari Tiongkok, tapi dari Thailand, atau Vietnam. Sementara ini mayoritas dari Tiongkok, jangan-jangan salah kebijakan lagi,” sindir Enny.

Kenaikan importasi dari Tiongkok ini dinilai Enny sangat luar biasa. Dimana porsi dari Tiongkok 25 persen sendiri, sementara total dari ASEAN hanya 20 persen. Kenaikan ini tentu saja memunculkan tanda tanya besar karena diduga kenaikan fantastis itu berkaitan dengan impor kapal bekas.

Enny pun menyoroti kenaikan signifikan mencapai 343 persen lebih untuk kategori kapal laut dan bangunan terapung.

“Per definisi, bangunan terapung itu juga tidak jelas, apa yang dimaksud bangunan terapung. Kita curiga lonjakan impor drastis itu berkaitan impor kapal bekas, ini kan aneh, padahal pemerintah mendorong industri galangan kapal,” tegas Enny.

Dengan adanya fakta itu, sejatinya kenaikan impor bukan berita bagus. Karena tetap saja dinikmati oleh negara lain dan telah menggerogoti devisa.

“Ujungnya juga menghantam industri dalam negeri nasional. Yang menikmati bukan perekonomian domestik. Sementara dampak infrastruktur juga belum ketahuan seperti apa lantaran yang dibangun jalan tol bukan jalur kereta api,” jelasnya.

 

 

@jitunews http://jitunews.com/read/57398/impor-barang-konsumsi-melonjak-indef-sebut-indonesia-diserbu-produk-asing#ixzz4fEM0N8sz

Most Popular

Recent Comments