Inspirasi Pembantaian di Masjid Itu Datang dari Prancis

0
69

Sewaktu kaum nasionalis kulit putih berkumpul di Charlottesville, Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat pada Agustus 2017 mereka menyanyikan yel-yel “mereka tidak akan menggantikan kita” dan “kaum Yahudi tidak akan menggantikan kita.” Namun hanya sedikit di antara orang ekstremis saat itu paham dari mana slogan yang mereka nyanyikan itu berasal.

Sebaliknya, Brenton Tarrant, pemuda 28 tahun asal Australia yang membantai 50 orang jemaah di dua masjid dan melukai puluhan lainnya di Christchurch, Selandia Baru, Jumat lalu dengan terang-terangan mengungkap dari mana inspirasi dia melakukan aksi keji itu.

Dalam manifesto sepanjang 74 halaman yang dia unggah sebelum pembantaian, dia memuji pembunuh massal asal Norwegia, Anders Behring Breivik, mengaku mengagumi pemimpin fasis Inggris Oswald Mosley. Tapi yang paling mempengaruhi pemikiran jahat Tarrant rupanya datang dari Prancis.

Tarrant menulis dia pernah memperhatikan para ‘penyerbu’ di sebuah pusat perbelanjaan ketika mengunjungi sebuah kota di sebelah timur Prancis. ‘Penyerbu’ yang dia maksud itu adalah para imigran di Prancis. Pada saat itulah dia membulatkan bertekad melakukan aksi kekerasan. Manifesto yang ditulis Tarrant ternyata terinspirasi dari buku penulis anti-imigran asal Prancis, Renaud Camus, yaitu Le Grand Remplacement atau Penggantian Agung. Istilah itu bahkan sudah menggema dalam perdebatan soal imigran di Eropa dan menjadi kata-kata favorit aktivis ekstrem kanan yang menyebut diri mereka ‘kaum identitas’.

“Saya merasakan emosi saya berganti-ganti dari marah dan putus asa yang mencekik lantaran penghinaan akibat penyerbuan di Prancis, pesimisme warganya, dan hilangnya budaya serta identitas, serta lelucon solusi politik yang ditawarkan,” tulis dia, seperti dilansir laman Foreign Policy, Sabtu (16/3).

Meski Tarrant tampaknya sangat memuji Camus, tapi penulis Prancis itu menolak apa yang ditulisnya di buku itu menginspirasi orang untuk membunuh.

“Saya menganggap itu perbuatan kriminal, bodoh dan parah,” tulis Camus dalam akun Twitternya.

Namun manifesto Tarrant menggambarkan apa yang ditulis Camus dalam bukunya, terutama soal ketakutan terjadinya penggantian populasi di tengah masyarakat, dalam hal ini warga imigran muslim menggantikan supremasi orang kulit putih.

Dalam esainya, Camus juga pernah memuji kelompok anti-Islam di Jerman, Pegida, yang dia sebut sebagai ‘harapan besar yang terbit di Timur’ dan ‘barisan pembebasan’. Baginya, tidak ada harapan untuk hidup bersama di Eropa ketika ada ‘penaklukan kolonial dalam proses’. [pan]

 

Sumber : Merdeka.com