Kasus Positif Corona Indonesia Capai Hingga 2.956 : IDI, Indikasi PSBB Lebih Kuat Daripada Hanya Imbauan

0
59

Ket.gbr: Ketua Umum Pengurus Besar IDI Daeng M Faqih (foto: detik.net)

Jakarta, Harmoni Media — Berdasarkan situs real time terkait data Virus Corona, Kasus positif Virus Corona atau Covid-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan. Data situs real time Virus Corona www.covid19.go.id, tersebut, per hari Rabu (8/4) menunjukkan jumlah kasus terinfeksi virus corona mencapai 2.956 kasus dengan 222 pasien yang dinyatakan sembuh, dan 240 orang dinyatakan meninggal dunia.

Jumlah kasus tersebut sudah termasuk 218 kasus baru yang tercatat. Yang harus dipikirkan bersama, mencegah penyebab kasus Virus Corona untuk tidak terus menerus mengalami kenaikan.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) Daeng M Faqih mengungkapkan ada dua faktor yang menyebabkan kasus Covid-19 terus bertambah di Indonesia. Yakni karena virus menular lebih cepat dan masalah kedisiplinan.

“Jadi memang faktor pertama karena virus ini menularnya lebih cepat, kemudian faktor kedua memang evaluasi kita bersama untuk keefektifan social distancing,” ujar Daeng pada wartawan, Rabu (8/4).

Menurutnya, kebijakan soal imbauan social distancing dinilai kurang efektif. Sebab, imbauan socia distancing dari pemerintah ini pelaksanaannya diserahkan kembali ke masing-masing individu.

Dia menyampaikan, hal ini berisiko lantaran masyarakat menjadi rentan tidak mematuhi, dan tidak disiplin, sehingga tindakan “imbauan” tidak efektif. Sehingga dampak penularan kasus Virus Corona menjadi cepat.

Dikatakan juga, terkait Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto yang telah menyetujui tindakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), menurutnya indikasinya lebih kuat daripada hanya imbauan. Karena PSBB merupakan pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi virus corona untuk mencegah kemungkinan penyebaran mungkin meluas.

“Saat ini sudah saatnya PSBB lebih kuat lagi, mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo, PSBB ini social distancing dengan pendisiplinan, namun menurutnya pendisiplinan pada PSBB perlu adanya pengawasan dan pengawalan untuk menekan laju penularan,” jelasnya.

Sementara mengenai upaya memutus rantai penularan Virus Corona, menurut Daeng ada dua cara yang dapat dilakukan. Yakni pendisiplinan social distancing, dan penanganan kasus yang benar.

Untuk cara pertama, social distancing melalui PSBB yang didisiplinkan dengan adanya pengawalan dan pengawasan oleh aparat. Kemudian cara kedua yakni penanganan kasus Covid-19 yang benar.

Daeng menambahkan, dalam tindakan penanganan kasus yang benar dengan prinsip harus cepat, dan dilakukan secara luas dan masif.

“Ada tiga hal soal penanganan yang dikerjakan yakni tracing dilakukan secara massal dan meluas, testing pemeriksaan agar mengetahui siapa saja yang positif dan harus cepat ditangani, kemudian treatment,” ungkapnya.

Menurutnya juga, tindakan treatment harus dilakukan dengan rumah sakit yang memadai, alat rumah sakit yang memadai, dan alat pelindung diri (APD) untuk rumah sakit yang memadai.

Namun, saat ini di Indonesia masih memiliki permasalahan pada kapasitas rumah sakit yang penuh dan harus ditambah dengan cepat mengingat pasien corona masih terus bertambah. Selain itu, alat-alat kesehatan, terutama ruang isolasi, alat bantu napas oksigen, ventilator, alat perlindungan diri juga harus ditambah. Sementara obat-obat yang dianjurkan Pemerintah juga saat ini sudah mulai langka.

“Obat antivirus mulai langka, klorokuin dan avigan harus lebih cepat didistribusikan dan terus diawasi pendistribusiannya agar cepat sampai dan tepat sasaran,” pungkasnya.(red)