Keluarga Tunggu Kepulangan 38 Jenazah Korban Penembakan di Selandia Baru

0
35

Serangan teroris di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru pada Jumat (15/3) menewaskan 50 orang. Empat hari setelahnya, sejumlah jenazah dipulangkan kepada keluarga korban.

Enam jenazah korban telah dikembalikan ke keluarga. Ke polisian Selandia Baru menyampaikan kesedihan kerabat meningkat karena proses identifikasi jenazah yang lambat. Demikian dilansir dari Aljazeera, Rabu (19/3).

Dalam sebuah pernyataan pada Selasa (19/3) malam, polisi mengatakan enam jenazah lainnya juga siap untuk dipulangkan setelah diidentifikasi petugas koroner. Otopsi semua korban tewas dinyatakan rampung.

“Meskipun identifikasi mungkin terlihat langsung dilakukan, kenyataannya jauh lebih kompleks, terutama dalam situasi seperti ini,” kata polisi dalam pernyataannya.

“Prioritas mutlak kami adalah untuk mendapatkan ini dengan benar dan memastikan bahwa tidak ada kesalahan yang dilakukan,” tambahnya.

Pengumuman polisi itu terjadi di tengah rasa frustrasi komunitas muslim Christchurch atas lambannya pemulangan jenazah korban. Sebab para kerabat ingin segera mengubur orang-orang yang mereka cintai.

Umat Muslim umumnya menguburkan jenazah dalam kurun waktu 24 jam setelah kematian. Sebelum penguburan, jasad dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan putih lalu disalati.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern mengatakan pada Minggu (17/3), beberapa jenazah korban penembakan massal terburuk di negara Pasifik itu akan dikembalikan kepada keluarga korban pada malam yang sama. Namun nyatanya hal itu sulit dilakukan dan baru bisa diwujudkan beberapa hari setelahnya.

Dalam kunjungannya hari itu, Ardern juga berharap jasad korban akan diserahkan paling lambat Rabu (19/3). Namun sepertinya hal itu tak mungkin terjadi sebab petugas koroner dan polisi belum mengkonfirmasi identitas 38 korban yang terbunuh di masjid Al Noor dan Linwood.

Relawan di pusat dukungan korban sementara di Christchurch, yang didirikan setelah pembantaian, mengatakan kesabaran komunitas muslim dengan proses pihak berwenang mulai habis.

“Mereka memahami tetapi mulai kehabisan kesabaran,” kata Javed Dadabhai, yang merupakan bagian dari sebuah tim di pusat dukungan yang membantu mengatur pemulangan jenazah dan penguburan, kepada Aljazeera.

 

Sumber : Merdeka.com

Comments

comments