Kenalan Sama Jakarta Yuk!

0
394

DKI Jakarta akan berulang tahun ke-490 pada tanggal 22 Juni 2017 mendatang. Ibu kota Indonesia ini sebelumnya mengalami pergantian nama berkali-kali sebelum bernama Jakarta. Semua yang berbau Jakarta maupun Betawi memiliki sentuhan dari negara lain atau daerah lain di Indonesia.

Awalnya, Jakarta bernama Sunda Kelapa, namun pada tanggal 22 Juni 1527 Pangeran Fatahillah menghancurkannya dan mendirikan kota Jayakarta. Kemudian tanggal itulah ditetapkan sebagai tanggal lahir Jakarta. Pada saat pemerintah Belanda (VOC) datang ke Indonesia, di bawah pimpinan Jan PieterszoonCoen menghancurkan Jayakarta dan menggantinya dengan nama Batavia yang berasal dari kata Batavieren, nenek moyang Belanda. Pada masa penjajahan Jepang tahun 1942, Batavia diganti nama menjadi Jakarta.

Seperti diketahui, penduduk asli Jakarta adalah suku Betawi. Orang Betawi merupakan masyarakat keturunan campuran dari ras dan suku yang berbeda-beda. Masyarakatnya dikenal sebagai orang yang suka berbicara blak-blakan dan demokratis. Bahasa Betawi itu tampak seperti campuran dari bahasa Malay asli yang bercampur dengan bahasa Sunda, Jawa, Mandarin, India, Arab, dan bahasa Belanda.

Selain bahasa, Betawi juga memiliki baju tradisional untuk pengantin. Busana pengantin Betawi diadopsi dari tradisi Tiongkok yakni busana berhiaskan bordir dan berwarna merah dilengkapi kerudung yang berhiaskan rumbai-rumbai berwarna emas.

Selain bahasa dan busana pengantin, Betawi juga mengadaptasi jenis musik dari negara dan daerah lain seperti Kolonial Portugis, Belanda, Arab, India, serta daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Istrumen musik yang digunakan juga mengadopsi trombone dan gitar dari Eropa, trompet dari Sunda dan drum serta instrumen lain dari Tiongkok. Karena mendapat pengaruh dari Portugis, terciptalah musik bergenre keroncong sebagai musik masyarakat Jakarta.

Kemudian terciptalah Tanjidor yang menggunakan trombon, piston tenor, dan klarinet. Konon nama ini diambil dari nama perkebunan Belanda yang ada di daerah Batavia, tempat penduduk sekitar dijadikan budak untuk menghibur majikan Belanda. Setelah perbudakan dihapuskan pada abad 19, kelompok pemusik meneruskan dengan ngamen sebagai mata pencaharian.

Betawi memiliki tarian khas hasil peleburan tarian Jaipong dengan koreografi lokal. Tarian Betawi terinspirasi dari Opera Beijing. Ada satu tarian yang terkenal dari Betawi, yakni Tari Lenggang Nyai. Tarian tersebut mengekspresikan keindahan dan kelincahan para wanita Betawi dan kerap dibawakan pada pertunjukan seni dan pariwisata di mancanegara.

Tarian ini mengambil gaya Cokek dan Tari Topeng, serta ada sedikit sentuhan Tiongkok. Para penari menggunakan kostum berupa gaun merah terang atau hijau dengan dilengkapi ikat kepala. Penari menggerakkan tubuh, tangan, serta kaki dengan anggun namun dalam gerakan yang cepat.

Berbicara tentang kesenian Jakarta, pasti tidak akan lepas dari ikon kota Jakarta, yakni ondel-ondel. Apa sih ondel-ondel? Ondel-ondel adalah boneka raksasa yang tidak bisa dipisahkan dari budaya Betawi.

Boneka ini dibuat dari rangka bambu yang bisa dibawa ke mana-mana. Biasanya, ondel-ondel ini terdiri atas dua boneka, pria dan wanita. Boneka pria memakai topeng merah dan berkumis mengenakan kostum berwarna gelap. Sedangkan yang perempuan bertopeng putih dengan bibir berwarna merah dan mengenakan kostum berwarna cerah. Keduanya mengenakan hiasan kepala bergaya Malay, kembang kelapa.

Ondel-ondel biasanya tampil di barisan paling depan dalam acara perkawinan ataupun sunatan, lalu diikuti oleh pasangan pengantin atau anak yang disunat serta keluarga masing-masing. Mereka berjalan beriringan keliling kampung yang dimeriahkan oleh Tanjidor atau musik Gambang Kromong.

 

Sumber : Kenalan Sama Jakarta Yuk!
Kenalan Sama Jakarta Yuk!
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here