Saturday, October 16, 2021
Home DIMENSI Ketegangan Arab Saudi-Iran, Pernyataan Pangeran MBS Mengerikan Soal Nuklir

Ketegangan Arab Saudi-Iran, Pernyataan Pangeran MBS Mengerikan Soal Nuklir

Sehari sebelum pertemuan Crown Prince, Muhammad Ben Salman (MBS) dengan Presiden Donald Trump di Washington, stasiun TV CBS menampilkan wawancara eksklusif dengan MBS, point terpenting yang diungkapkan dalam wawancara tersebut adalah pernyataan MBS, ” Saudi tidak berniat untuk memiliki senjata nuklir, tetapi kalau Iran berupaya memilikinya, Saudi juga akan melakukan hal yang sama secepat mungkin!”.

Kalaupun dalam wawancara itu MBS menyerang Iran bahkan sampai menyebut Pemimpin Rohaninya seperti Hitler, itu bukanlah hal baru, kita tidak perlu membahasnya, apalagi membalasnya, biar Iran yang membalas kalau memang worth it. Tetapi, terkait dengan pernyataan MBS tentang keinginan Saudi untuk memiliki senjata nuklir, itu perlu kita bahas dan kita diskusikan.

Tentunya pernyataan MBS seiring dengan eskalasi ketegangan politik Saudi-Iran, dan ketegangan politik tersebut dapat menjalar kemana-mana, tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan konflik politik atau bahkan militer antara kedua negara tersebut. Terutama di tengah maraknya informasi bahwa Trump akan menarik diri dari Kesepakatan Nuklir dengan Iran pada 12 Mei mendatang. Penarikan diri AS dari kesepakatan tersebut artinya Iran akan memiliki kebebasan untuk melakukan pengayaan uraniumnya, yang akan membuat Iran menjadi salah negara pemilik nuklir dalam jangka waktu satu tahun kedepan atau bisa jadi kurang dari satu tahun.

Pertanyaannya adalah bagaimana Saudi dapat mengembangkan senjata nuklir untuk menyaingi Iran kalau seandainya Iran memiliki senjata tersebut?

Setidaknya ada dua opsi di depan Saudi, pertama membeli senjata nuklir dari Pakistan, selaku sekutu tradisionalnya, bahkan Saudi juga memiliki jasa dalam pembiayaan pengembangan senjata nuklir Pakistan dulu.

Kedua, Saudi membangun reaktor nuklir sendiri di dalam Saudi, tentunya dengan bantuan ilmuwan Pakistan dan sekutunya.

Opsi pertama tampaknya sulit, karena Pakistan tidak akan mudah menjual senjata itu kepada Saudi, meskipun dengan harga yang mahal. Setidaknya karena beberapa sebab, antara lain bahwa seperempat penduduk Pakistan adalah Syiah; Pakistan adalah tetangga Iran, sikap apapun yang terkesan memihak pada Saudi dapat merusak hubungan Iran-Pakistan; Parlemen Pakistan beda dengan Pemerintahnya, salah satu buktinya adalah 3 tahun lalu para anggota Parlemen menolak permintaan Saudi untuk mengirim pasukan Pakistan dalam Decisive Storm di Yaman.

Opsi kedua tampaknya lebih masuk akal, tetapi sampai saat ini Saudi belum memiliki reaktor nuklir, saat ini sedang melakukan pendekatan kepada China dan Rusia untuk dapat membeli reaktor tersebut, artinya Saudi akan tertinggal jauh dari Iran.

Namun demikian, yang terpenting dari itu semua adalah Israel tidak setuju kalau Saudi atau negara Arab manapun memiliki senjata nuklir. Hal itu jelas terlihat ketika Israel menghajar reaktor nuklir Irak tahun 1981, padahal saat itu Iraq sedang perang dengan Iran, begitu juga ketika Israel menghajar reaktor nuklir Suriah yang sedang dibangun di Utara Suriah yang bekerjasama dengan Korea Utara.

Dalam hal ini, Benjamin Netanyahu yang “digosipi” memiliki hubungan gelap dengan Saudi dan Emirates jelas-jelas meminta Trump untuk tidak menginjinkan Saudi memiliki senjata nuklir dalam kunjungannya ke Washington bulan lalu.

Sebagian pengamat Saudi mengatakan bahwa MBS sedang meniru konflik India-Pakistan, ketika Pakistan dulu meminta kepada AS untuk membantunya memiliki senjata nuklir ketika India mulai mengembangkan senjata tersebut. Ya mungkin ada benarnya, tetapi hal itu terjadi 40 tahun lalu, ketika masih ada Perang Dingin, dimana Pakistan berada di kubu AS dan India di kubu Uni Soviet.

Hubungan Iran-Rusia cukup kuat, seperti halnya hubungan AS-Saudi, tetapi pada kubu AS ada Israel yang tidak ingin Saudi memiliki senjata nuklir. Sederhana saja motifnya, karena Israel tidak percaya pada negara Arab, ditakutkan senjata itu jatuh ke tangan Arab Fundamental, repot! Dan itu tidak mustahil.

Ancaman terbesar bagi Saudi adalah Israel, itu yang seharusnya menjadi prioritas dalam menyusun stretegi sebelum memikirkan ancaman Iran, itu menurut hemat kami, adapun pendapat MBS bisa saja berbeda, biarlah waktu yang menjawab…

 

Sumber : Ketegangan Arab Saudi-Iran, Pernyataan Pangeran MBS Mengerikan Soal Nuklir
Ketegangan Arab Saudi-Iran, Pernyataan Pangeran MBS Mengerikan Soal Nuklir
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments