Friday, September 24, 2021
Home DIMENSI Ketika Mahasiswa Internasional Bercerita tentang Suasana Ramadhan di Negaranya

Ketika Mahasiswa Internasional Bercerita tentang Suasana Ramadhan di Negaranya

International Office Universitas Sebelas Maret (UNS), bekerja sama dengan Masjid Kampus Nurul Huda UNS, mengadakan sebuah acara bertajuk ‘Sharing Day – Kampus Ramadhan UNS, yang digelar di Masjid Nurul Huda UNS, Selasa (12/6).

Dalam sesi kajian jelang buka puasa, sejumlah mahasiswa internasional UNS berbagi kisah suasana Ramadhan di negaranya masing-masing. Mereka adalah Tuncay Tosun dari Turki; Nor Zana Binti Mohd Amir dari Malaysia; Abdul Kanray Turay dari Sierra Leone; Maelao Kalworai dari Vanuatu; serta Thu Zar dan Yuzana Maung dari Myanmar.

Tuncay dari Turki mengatakan bahwa puasa di Indonesia lebih ringan jika dibandingkan dengan Turki. Masyarakat Indonesia hanya berpuasa selama sekitar 14 jam, sedangkan puasa di Turki lebih lama. “Puasa di sini lebih mudah. Di Turki, puasa Ramadhan sekitar 19 jam,” katanya. Selain itu, tempat makan di Turki juga buka seperti biasa selama bulan puasa.

Zana dari Malaysia mengungkapkan bahwa di negaranya terdapat sanksi jika seorang Muslim ketahuan tidak berpuasa ketika Ramadhan. “Di Malaysia kan diberlakukan hukum syariah. Saya dengar-dengar, kalau seorang pria tidak berpuasa, akan diberi hukuman, seperti dipenjara atau dikasih makan rumput,”ucap Zana yang kemudian disambut tawa hadirin.

Sementara itu, Abdul dari Sierra Leone mengungkapkan bahwa suasana bulan puasa di Indonesia dan di negaranya tidak jauh berbeda. “Ramadhan di mana saja memberikan suasana bahagia. Orang semakin dekat dengan keluarga dan saudara, sibuk menyiapkan buka puasa dan berbagi kebaikan,” kata Abdul.

Yuzana dari Myanmar sedikit bercerita tentang hal-hal kurang menyenangkan yang dialami umat Muslim yang notabene merupakan kaum minoritas di Myanmar. Selain minimnya jumlah masjid, Yuzana juga mengungkapkan bahwa sering terjadi gesekan antarumat beragama di negaranya. “Buka puasa di rumah saja. Pernah ada rombongan orang-orang Muslim berpapasan di jalan dengan beberapa biksu, dan terjadi konflik,” terang Yuzana.

Kepala International Office UNS, Taufiq Al Makmun, berharap acara Sharing Day tersebut dapat dijadikan forum komunikasi lintas budaya. Menurutnya, manusia diciptakan beragam agar bisa saling menghormati satu sama lain.

“Manusia diciptakan dalam berbeda-beda ras, etnis dan kebudayaan, agar kita dapat saling berbagi dan menghargai,” ujarnya.

 

 

Sumber : Ketika Mahasiswa Internasional Bercerita tentang Suasana Ramadhan di Negaranya
Ketika Mahasiswa Internasional Bercerita tentang Suasana Ramadhan di Negaranya
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments