Ketika Suara Belia Paksa Pemimpin Dunia untuk Bertindak Bagi Bumi

0
17

Suaranya terdengar menahan amarah. Matanya berkaca-kaca. Bocah 16 tahun itu kemarin menyampaikan pidato emosional tentang kegelisahannya terhadap para pemimpin dunia yang lamban menangani fenomena perubahan iklim.

Dialah Greta Thunberg, aktivis iklim asal Swedia berusia 16 tahun. Dalam usianya yang masih belia itu Thunberg berani berhadapan dengan para pemimpin dunia untuk memaksa mereka menangani krisis iklim saat ini dalam KTT Perubahan Iklim PBB di Kota New York.

“Kalian sudah mencuri impian dan masa kecil saya dengan omong kosong kalian, tapi saya masih beruntung. Orang-orang di luar sana menderita. Orang-orang sekarat. Seluruh ekosistem merosot.”

Suaranya tercekat ketika dia membaca pidatonya sambil menahan amarah.

“Kita sedang dalam masa pemusnahan massal dan yang kalian bicarakan cuma uang dan uang serta dongeng soal pertumbuhan ekonomi yang abadi. Teganya kalian!”

Riuh tepuk tangan dan sorai-sorai hadirin menggema di ruangan markas PBB itu.

“Kalian bilang kalian dengar kami dan paham situasi genting ini. Tapi betapa pun sedih dan marahnya saya, saya tidak mau percaya itu,” kata Thunberg. “Karena kalau Anda paham situasinya dan masih saja tidak bertindak maka kalian pasti iblis dan saya menolak percaya kepada iblis.”

KTT Aksi Iklim 2019 dimulai di markas PBB dan dihadiri sejumlah pemimpin negara untuk membahas strategi mengatasi perubahan iklim. Sekjen PBB Antonio Guterres sudah menyerukan kepada para perwakilan negara yang hadir untuk menyampaikan rencana yang konkret dan realistis guna memenuhi janji komitmen mereka mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencapai emisi nol pada 2050.

Bukan hanya itu, Thunberg dan 15 anak lainnya dari 12 negara berbeda juga melaporkan lima negara besar ke Perserikatan Bangsa-Bangsa karena dianggap melanggar hak asasi sebab tidak mengambil tindakan untuk menghentikan krisis iklim dunia.

Laporan mereka itu diserahkan tidak lama setelah Thunberg menyampaikan pidatonya yang penuh emosional kemarin.

“Kalian sudah mencuri impian dan masa kecil saya dengan omong kosong kalian, tapi saya masih beruntung. Orang-orang di luar sana menderita. Orang-orang sekarat,” ujar Thunberg dalam pidatonya, seperti dilansir laman CNN, Selasa (24/9).

Petisi yang diajukan Thunberg dan teman-temannya memuat nama lima negara–Jerman, Prancis, Brasil, Argentina, dan Turki–yang menurut mereka telah gagal memegang teguh Konvensi Hak Asasi untuk Anak, pakta hak asasi yang usianya sudah 30 tahun dan sudah diratifikasi berbagai negara.

Lima Negara Dituntut

Bukan hanya itu, Thunberg dan 15 anak lainnya dari 12 negara berbeda juga melaporkan lima negara besar ke Perserikatan Bangsa-Bangsa karena dianggap melanggar hak asasi sebab tidak mengambil tindakan untuk menghentikan krisis iklim dunia.

Laporan mereka itu diserahkan tidak lama setelah Thunberg menyampaikan pidatonya yang penuh emosional kemarin.

“Kalian sudah mencuri impian dan masa kecil saya dengan omong kosong kalian, tapi saya masih beruntung. Orang-orang di luar sana menderita. Orang-orang sekarat,” ujar Thunberg dalam pidatonya, seperti dilansir laman CNN, Selasa (24/9).

Petisi yang diajukan Thunberg dan teman-temannya memuat nama lima negara–Jerman, Prancis, Brasil, Argentina, dan Turki–yang menurut mereka telah gagal memegang teguh Konvensi Hak Asasi untuk Anak, pakta hak asasi yang usianya sudah 30 tahun dan sudah diratifikasi berbagai negara.

Perubahan Akan Datang

Di hari pertama KTT Aksi Iklim PBB 2019 kemarin para pemimpin dunia berjanji akan mengurangi emisi gas karbon di negara mereka.

Dalam jumpa pers di seberang jalan markas PBB, Thunberg dan teman-temannya mengungkapkan kegeraman mereka atas pemimpin dunia yang lamban mengatasi perubahan iklim.

“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah ini semua sudah cukup,” ujar Thunberg.

Carl Smith, anggota suku asli Yupiaq yang tinggal di Akiak, Alaska, menjelaskan bagaimana fenomena pemanasan global mempengaruhi perburuan hewan dan penangkapan ikan di masyarakatnya.

Dia mengecam keserakahan para pemimpin dunia.

“Saya rasa mereka lamban bertindak karena mereka tidak mau kehilangan uang,” kata Smith. “Dan harusnya mereka melihat langsung apa akibat dari perbuatan mereka terhadap desa-desa dan kota-kota.”

Anak-anak itu juga mendesak negara-negara untuk mengurangi gas efek rumah kaca agar pemanasan global tidak bertambah buruk melebihi ambang batas krisis 2 derajat celcius. Para ilmuwan sudah memperingatkan, pemanasan global yang bertambah 2 derajat celcius akan mengakibatkan serangan hawa panas kian meningkat, permukaan air laut akan bertambah dan hasil panen di seluruh dunia akan menyusut.

Dari suara-suara belia itu kini dunia berharap. Greta menutup pidatonya dengan sebuah kalimat penegasan:

“Kami tidak akan biarkan kalian berpaling. Di sini, saat ini, kami menarik garis. Suka atau tidak, dunia kini tergugah dan perubahan akan datang.”

Sumber : Merdeka.com