Monday, January 24, 2022
Home Nasional Ketua DPR ajak ucapkan selamat tinggal pada politik identitas

Ketua DPR ajak ucapkan selamat tinggal pada politik identitas

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo mengajak semua pihak untuk berani menyerukan selamat tinggal pada politik identitas. Politik identitas tidak boleh dibiarkan berkembang. Sebab, dapat menyulut permusuhan serta mengancam persatuan dan keutuhan bangsa.

“Karena itu, sudah saatnya, kita harus berani mengatakan secara tegas: selamat tinggal, politik identitas,” ujar Bambang, dalam pidatonya pada sidang bersama DPR RI dan DPD RI, Gedung DPR RI, Kamis (16/8).

Pria yang akrab disapa Bamsoet ini menyampaikan, dunia politik tengah memasuki era digital. Dimana, salah satu produk populernya adalah media sosial. Keberadaan media sosial membuat demokrasi tumbuh sangat dinamis. Namun, seringkali menjadi sangat sulit untuk dikendalikan.

Karenanya, Bamsoet mengajak seluruh pihak untuk memanfaatkan media sosial dengan lebih arif untuk menjaga keteduhan politik dan tidak menyulut politik identitas dan berbau sara.

“Kita tidak boleh membiarkan berkembangnya politik identitas yang dapat menyulut permusuhan serta mengancam persatuan dan keutuhan bangsa,” ucap dia.

Dia juga menyinggung mengenai perbedaan pilihan politik. Bamsoet mengingatkan, perbedaan pandangan politik jangan dijadikan ajang saling hujat yang membahayakan kebhinekaan. Karenanya dia mengimbau seluruh masyarakat untuk berani berkomitmen melepaskan diri dari politik identitas.

“Bayangkan, karena berbeda haluan politik, tokoh agama acap kali dihujat. Petinggi partai politik dicaci-maki. Presiden dan lembaga-lembaga negara sebagai simbol kedaulatan negara dilecehkan. Mereka dianggap tak mampu. Program pemerintah dianggap nihil. Perbedaan politik dikutuk. Kritik berubah menjadi pembunuhan karakter yang kejam. Fondasi berbangsa digoyang dengan isu SARA. Ditambah lewat strategi politisasi agama yang berakibat menguatnya politik identitas,” kata Bamseot menjelaskan.

“Akibatnya, kebinekaan kita dalam bahaya. Semua orang cenderung menyatakan diri merasa paling benar. Kerukunan umat beragama justru dianggap tabu. Akal sehat dianggap nista,” sambungnya.

Dia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk melaksanakan pemilu 2019 nantinya secara damai dan gembira. Tentunya, tanpa tercederai dengan politik identitas.

“Mari kita jadikan Pemilu 2019 sebagai ajang adu program untuk mempercepat laju pembangunan agar pada usia 100 tahun kemerdekaan, Indonesia menjadi negara maju, modern, adil dan sejahtera, serta sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia,” imbuhnya.

 

 

Sumber : Merdeka.com

Most Popular

Recent Comments