Kisah hangatnya persahabatan Presiden Soeharto dan Sultan Brunei

0
207

Presiden Soeharto dikenal bersahabat baik dengan para pemimpin negara ASEAN. Salah satu yang peling erat adalah dengan Jenderal Sultan Haji Sir Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah dari Brunei.

Sultan Hassanal Bolkiah mengisahkan pertemuan pertamanya dengan Presiden Soeharto tahun 1981 saat pertama kali berkunjung ke Jakarta. Saat itu Brunei tengah bersiap menyambut kemerdekaannya dari Inggris Raya. Sultan merasa perlu untuk memperoleh dukungan dari negara-negara ASEAN.

“Sosoknya tenang dan terhormat, seorang negarawan yang mempunyai kebijaksanaan dan kewibawaan,” kata Sultan menggambarkan citra pertama dari Presiden Soeharto yang dilihatnya. Demikian tulis Sultan dalam buku Pak Harto The Untold Stories.

Sultan gembira saat Indonesia menyatakan komitmennya untuk mendukung Brunei Darussalam. Hubungan keduanya pun makin hangat. Berkali-kali Sultan mengunjungi Indonesia. Kadang untuk keperluan negara, sempat juga berlibur di Bali.

Sultan juga pernah memberikan bantuan dana USD 100 juta untuk pembangunan infrastruktur Indonesia tahun 1987. Bantuan dari negara kaya minyak itu untuk negara sahabat.

Presiden Soeharto-Sultan Brunei ©Kepustakaan Presiden RI
Saat itu Indonesia menjadi ‘The Big Brother’ atau semacam kakak tertua di ASEAN yang sangat dihormati. Sultan pun mengakui itu. Dia menyebut Presiden Soeharto selalu tahu kapan harus teguh memegang prinsipnya, kapan harus duduk berbincang dengan pemimpin ASEAN lain.

“Presiden Soeharto sangat dihormati di kalangan pemimpin-pemimpin ASEAN. Beliau merupakan pendiri dan sangat berjasa di kawasan ini,” kata Sultan.

Secara pribadi, Sultan mengaku kagum dengan sosok Presiden Soeharto. Bagaimana dia menyatukan Indonesia yang sangat luas dengan masyarakat yang beragam.

“Di bawah Presiden Soeharto, Indonesia bukan sahaja dikenal di Asia Tenggara tapi di seluruh dunia,” puji Sultan.

Bawa ulama dari Brunei untuk doakan Soeharto

Setelah lengser dari kursi kepresidenan, Soeharto masih bersahabat baik dengan Sultan Hassanal Bolkiah masih bersahabat baik. Di saat-saat terakhir hidup Soeharto pun, Sultan masih penuh perhatian pada koleganya tersebut.

14 Januari 2008, Sultan Brunei menjenguk Presiden Soeharto yang terbaring sakit di RSPP, Jakarta. Sultan bahkan membawa mufti besar Brunei khusus untuk mendoakan Pak Harto. Mufti merupakan kiai, atau ulama besar pemimpin umat di negara tersebut.

Mantan Mensesneg Moerdino yang menceritakan peristiwa haru itu. Begitu datang Sultan dan Mufti langsung mendekati tempat tidur dan mendoakan Soeharto.

“Sultan memerlukan datang karena ingin melihat dari dekat keadaan sahabatnya, begitu istilah beliau,” kata Moerdiono

Namun sayangnya saat itu Soeharto tak sadarkan diri karena pengaruh medis. Sultan yang diberi tahu soal kondisi mantan Presiden RI itu tampak prihatin.

Usai menjenguk Soeharto, Sultan langsung terbang kembali ke Brunei. Menurut Moerdiono kedatangannya memang khusus untuk menjenguk dan mendoakan Soeharto.

Itulah pertemuan terakhir kedua pemimpin tersebut. Soeharto meninggal tanggal 27 Januari 2008. Hanya berselang 13 hari setelah dijenguk oleh sahabatnya.

“Presiden Soeharto akan teta[ dikenang sebagai pemimpin besar Republik Indonesia dan merupakan sahabat karib saya dan Negara Brunei Darussalam. [ian]

 

 

 

Sumber : https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-hangatnya-persahabatan-presiden-soeharto-dan-sultan-brunei.html

Comments

comments