Kisah ‘perseteruan’ Megawati dan SBY, berawal dari Pilpres 2004

0
178

“Monggo silakan lihat dalam jejak digital maupun media cetak, bahwa menjelang pemilu, pasti Pak SBY selalu menyampaikan keluhannya tentang Ibu Megawati. Padahal Ibu Megawati baik-baik saja.”

Komentar itu disampaikan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menanggapi keluhan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal hubungannya dengan Megawati yang hingga kini masih mengganjal.

Rabu (25/7) malam, usai bertemu dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, SBY kembali mengungkapkan mengapa partainya hingga kini sulit berkoalisi mendukung Jokowi di Pilpres 2019. “Hubungan saya dengan Ibu Mega, harus saya katakan jujur, belum pulih, masih ada jarak,” ujar SBY menjawab pertanyaan wartawan.

Pertanyaan itu diajukan wartawan setelah SBY menjelaskan bahwa jalan bagi Demokrat untuk menjalin koalisi dengan partai pendukung Presiden Jokowi tidak terbuka. SBY tidak spesifik menyatakan hubungannya dengan Megawati sebagai salah satu rintangan Demokrat untuk bisa berkoalisi bersama partai pendukung Jokowi. SBY hanya menjelaskan dirinya sudah berupaya memulihkan hubungannya dengan putri Soekarno itu selama 10 tahun belakangan ini.

“Saya berikhtiar untuk bisa berkomunikasi, saya lakukan selama 10 tahun. Mendiang Pak Taufik Kiemas (suami Megawati) sahabat saya juga berusaha memulihkan silaturahim kami berdua. Jadi bukan tidak ada kehendak dari banyak pihak, tapi Allah belum berkehendak,” tutur SBY.

Sehari sebelumnya, usai bertemu Prabowo di kediamannya di Kuningan, SBY juga mengungkapkan, banyak hambatan yang membuat dirinya bisa mendukung Jokowi. SBY mengaku, selama ini menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh partai untuk Pemilu 2019 nanti. Dia juga membeberkan hubungannya selama satu tahun ini dengan Presiden Joko Widodo.

“Pertama, sebenarnya saya menjalin komunikasi dengan Pak Jokowi hampir 1 tahun, menjajaki kemungkinan kebersamaan dalam pemerintahan. Pak Jokowi berharap Demokrat ada di pemerintahan,” ujar SBY, Selasa (24/7) malam.

“Saya sadari banyak hambatan dan rintangan. Tidak perlu saya sampaikan secara detail. Koalisi terbangun iklimnya baik, kesediaan berkoalisi ada trust dan respect,” tuturnya.

Terkait keluhan SBY kali ini, Hasto menduga latar belakangnya dipicu SBY yang belum mendapat kepastian buat anaknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai capres atau cawapres jelang Pilpres 2019.

“Seluruh pergerakan politik Pak SBY adalah untuk anaknya, sementara Ibu Megawati jauh lebih luas dari itu. Ibu Mega selalu bicara untuk PDI Perjuangan, untuk Pak Jokowi, untuk rakyat, bangsa dan negara, sementara Pak SBY selalu saja mengeluhkan hubungan itu,” kata Hasto.

Hasto meminta SBY introspeksi. “Gagal tidaknya koalisi Pak SBY dan Partai Demokrat lebih karena kalkulasi yang rumit yang dilakukan Pak SBY, yang hanya fokus dengan masa depan Mas AHY,” kata Hasto

Hasto juga mengatakan SBY seharusnya menjadi pemimpin yang bijak. Dia meminta tak perlu membawa hubungannya dengan Megawati sebagai alasan gagal berkoalisi.

“Kalau tidak bisa berkoalisi dengan Pak Jokowi karena sikapnya yang selalu ragu-ragu, ya sebaiknya introspeksi dan jangan bawa nama Ibu Mega seolah sebagai penghalang koalisi,” imbuhnya.

Hasto menambahkan, SBY seharusnya tidak memaksakan nama AHY sebagai capres atau cawapres. Menurutnya, kalau kepemimpinan AHY lahir secara alamiah, mungkin perbincangan hari ini bakal berbeda. “Sekiranya Pak SBY mendorong kepemimpinan Mas AHY secara alamiah terlebih dahulu, mungkin sejarah bicara lain,” cetusnya.

Megawati merasa dibohongi SBY

Retaknya hubungan SBY dan Megawati terjadi sejak 2004 saat SBY memutuskan maju dalam pemilihan presiden dan kemudian menang. Megawati terkesan selalu menghindari SBY dalam berbagai kesempatan atau acara kenegaraan.

Meski tak pernah diungkapkan secara terbuka, cerita Megawati kesal terhadap SBY sudah menjadi rahasia umum. Mendiang wartawan senior Derek Manangka dalam buku ‘Jurus dan Manuver Politik Taufiq Kiemas: Memang Lidah Tak Bertulang’ menceritakan bahwa penyebab utama Mega tak mau bertemu SBY adalah karena merasa dibohongi.

Dalam ‘Catatan Tengah’ yang ditulis di akun Facebook-nya, Derek menuturkan pernah mendapat jawaban langsung dari Megawati perihal hubungannya dengan SBY. Dalam sebuah makan malam bersama Taufiq Kiemas dan Megawati di kediaman mereka di Teuku Umar, Derek mendapat jawaban tersebut.

SBY dan Megawati. rumgapres/abror rizki

“Dia itu tidak sportif. Omongannya tidak bisa dipercaya. Kalau anda ingat, SBY itu kan sebelumnya dipecat oleh Presiden Gus Dur sebagai Menteri Pertambangan. Tapi saya angkat dia sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, setelah saya menggantikan Gus Dur,” tulis Derek menirukan ucapan Megawati.

Derek melanjutkan, menurut Mega, seusai dilantik sebagai Menko Polkam, pada tahun 2001, SBY sembari mengucapkan terima kasih, juga berbisik: “Saya akan kawal ibu hingga tahun 2009.”

Di sini Mega menafsirkan SBY akan siap berjuang dengan Mega bukan hanya sampai tahun 2004. Melainkan periode berikutnya. Tahun 2004-2009.

Saat Mega memutuskan akan maju kembali dalam Pilpres 2004, Mega sempat mengajak SBY untuk menjadi pasangannya sebagai cawapres. Tapi SBY, menurut Mega menolak sambil menyampaikan ucapan terima kasih.

SBY beralasan dia cukup ingin menjadi anggota kabinet (Menteri) saja.
Di saat yang hampir bersamaan Jenderal (Purn) AM Hendropriyono selaku Kepala BIN (Badan Intelejen Negara) memberi laporan bahwa ada tanda-tanda SBY sedang membangun partai baru. Partai ini akan dijadikannya sebagai kendaraan politik dalam Pilpres 2004.

Mega kemudian memanggil SBY dan menanyakan langsung atas laporan tersebut. Tapi SBY membantah. Nyatanya, SBY memang maju sebagai calon presiden mewakili Partai Demokrat, partai yang baru didirikan.

“Saya lebih menghargai orang seperti Yusril Ihza Mahendra,” ujar Mega kala itu.

Mega sempat mengajak Yusril menjadi pasangan wapres dan Yusril menjawab tidak bersedia namun dengan alasan yang jujur. “Maaf bu saya mau menantang ibu sebagai calon Presiden,” ujar Mega menirukan ucapan Yusril.

Tak cuma itu, PDIP dan Megawati juga merasa kekalahan di Pilpres 2014 karena telah terjadi kecurangan. Seminggu setelah Pemilihan Presiden 2004 putaran dua digelar, Taufiq Kiemas mendapat masukan bahwa ada kejanggalan dalam penghitungan suara. “Ada peran teknologi dan kekuatan di luar jangkauan TK, yang sejak awal sudah membantu lawannya Mega,” ujar Derek. [bal]

 

 

Sumber : https://www.merdeka.com/politik/kisah-perseteruan-megawati-dan-sby-berawal-dari-pilpres-2014.html