Korban Melliana Susilo Berharap Hakim Beri Keadilan Sepenuhnya

0
26

Harmoni Media — Setiap orang yang punya perkara dalam persidangan berpengharapan keadilan yang bernurani dan berkeadilan bagi dirinya. Hal itu juga yang dialami Melliana Susilo yang mengharapkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara pimpinan Djuyamto SH agar memutuskan kasus pemalsuan tandatangan dan cap jempolnya yang merugikan dirinya secara independen, bersih, jauh dari intervensi, sesuai nurani hingga memenuhi rasa keadilan.

Keadilan yang diharapkan Melliana Susilo diungkapkan melalui penasihat hukumnya Leo Famli SH MH di Jakarta, Rabu (16/9).

“Melliana Susilo hanya ingin memperoleh rasa keadilan dari kasus yang menimpa dan merugikannya. Ibu itu berharap dapat melihat majelis hakim menghukum orang yang telah melakukan tindak pidana terhadapnya,” kata Leo.

Terdakwa Hasim Sukamto tercatat sebagai mediator non hakim di PN Jakarta Utara, majelis hakim terdiri dari Djuyamto SH MH sebagai ketua dan Taufan Mandala Putra SH  MHum serta Agus Darwanta SH MH sebagai anggota diharapkan tidak terpengaruh akan kedudukan tersebut.

“Hukum harus tetap ditegakkan tanpa pandang bulu. Kalau Dirut PT HMU bersalah melakukan tindak pidana pemalsuan sebagaimana diatur pasal 266 KUHP, maka majelis hakim harus menghukumnya sesuai perbuatannya,” tuturnya.

Dalam Fakta-fakta persidangan sebelumnya, baik menurut Leo maupun berdasarkan pemantauan wartawan, terkuak indikasi tindak pidana yang dilakukan terdakwa Hasim Sukamto terhadap saksi korban Melliana Susilo.
Dipersidangan keterangan para saksi yang dihadirkan JPU Iqram Saputra SH MH dan Erma Octora SH MH, ditambah alat bukti yang ada menunjukkan adanya tindak pidana pemalsuan tandatangan dan cap jempol Melliana Susilo.

“Itu sesuai dengan yang dipaparkan JPU baik dalam surat dakwaan maupun requisitornya, berdasarkan keterangan saksi satu dan lainnya yang  saling bersesuaian. Jadi, perbuatan pidana yang dilakukan terdakwa Hasim Sukamto terbukti secara sah dan meyakinkan dalam persidangan kasus itu,”  kata Leo.

Terdakwa Hasim Sukamto, Dirut PT HMU duduk di kursi pesakitan diduga telah memalsukan tandatangan dan cap jempol saksi korban Melliana Susilo untuk kepentingan pencairan kredit di Bank CIMB Niaga senilai Rp 23 miliar. Pemalsuan itu dilakukan terdakwa setelah saksi Melliana menolak menandatangani dan memberikan cap jempol pada dokumen SKMHT sebagai persyaratan pencairan kredit. Namun tanpa sepengetahuan Melliana yang juga disebut-sebut dikriminalisasi, Hasim membubuhkan tandatangan dan cap jempol, selanjutnya mengatakan kepada Notaris PPAT bahwa dokumen tersebut telah ditandatangan dan dicap jempol yang bersangkutan atau Melliana Susilo yang tidak lain adalah istri terdakwa sendiri.
Dugaan pemalsuan tandatangan dan cap jempol itu menyebabkan ruko dan gudang yang merupakan harta bersama Melliana Susilo – Hasim Sukamto dijadikan sebagai agunan kredit di Bank CIMB Niaga oleh PT HMU. Padahal, Melliana Susilo tidak tercatat sebagai direksi atau apapun di PT HMU. Hanya suaminya (Hasim Sukamto) dan saudara-saudara kandungnya berkedudukan di PT HMU.

Hal lainnya, dalam suatu kesempatan Melliana Susilo juga menyayangkan sikap pihak PT HMU yang menyewa gudang milik orangtuanya. Pembayaran sewa gudang tersebut selalu tersendat-sendat, yang pada akhirnya merugikan keluarganya.

“Pokoknya Bu Melliana Susilo menggantungkan sepenuhnya impian keadilannya terhadap majelis hakim, dan beliau berkeyakinan majelis hakim tidak akan mengecewakannya karena memang apa yang dilakukan terdakwa itu terhadap dirinya tidak terbantahkan dan benar-benar merupakan suatu tindak pidana,” terang Leo. (Butet)