Tuesday, July 27, 2021
Home Nasional KPU diharapkan konsisten godok aturan eks napi korupsi dilarang nyaleg

KPU diharapkan konsisten godok aturan eks napi korupsi dilarang nyaleg

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengatakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus tetap konsisten meskipun rancangan peraturan PKPU mengenai larangan mantan narapidana korupsi mendaftar sebagai calon legislatif (caleg) menuai pro dan kontra.

Titi menyebut, rancangan tersebut merupakan bentuk optimisme terhadap kualitas Pemilu 2019 yang lebih baik.

“Yang perlu dilakukan oleh KPU justru tetap konsisten untuk membuat peraturan ini karena publik dan juga masyarakat mendukung KPU. Maka KPU harus tetap melanjutkan peraturan ini,” kata Titi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (16/4).

Dia menyebut suatu hal yang lumrah bila ada upaya gugatan hukum mengenai rencana pengaturan ini. Tak hanya itu, Titi menyebut pengaturan yang tidak kontroversial saja masih berkesempatan pula untuk digugat.

“Bagi kami karena gagasan KPU mengatur ini adalah sesuatu yang positif, progresif dan memang jadi aspirasi banyak orang jadi tidak perlu mundur hanya khawatir digugat secara hukum,” ucapnya.

Karena hal itu, dia menyayangkan bila beberapa fraksi di parlemen menolak gagasan dari lembaga pimpinan Arief Budiman tersebut. Padahal, lanjut dia, secara positif hal tersebut dapat dijadikan sebagai instrumen pengembalian kepercayaan publik kepada partai politik atau parpol.

“Bisa juga menyelamatkan masyarakat dari pilihan pemilihan yang bermasalah. Publik bisa saja apatis parpol ramai-ramai menolak gagasan ini karena bisa saja itu diartikan penolakan pada upaya untuk memperkuat gerakan antikorupsi,” jelas Titi.

KPU akan melarang bekas narapidana korupsi, narkoba dan pelecehan seksual maju menjadi anggota legislatif, dan akan ditambahkan sebagai pasal baru dalam PKPU tentang pencalonan anggota legislatif dalam pemilu 2019.

“Nanti akan kami masukkan juga aturan mantan narapidana kasus korupsi dilarang nyaleg. Di PKPU pencalonan caleg mau kami masukkan, karena di UU belum ada,” kata anggota KPU RI, Hasyim Asy’ari.

Dia menilai, aturan itu bertujuan agar masyarakat dapat pemimpin dan wakil yang bersih. Korupsi dinilai merupakan tindakan yang sudah pasti mengandung unsur penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan sehingga koruptor merupakan orang yang sudah berkhianat kepada jabatan, negara, dan sumpah jabatan.

 

 

Sumber : merdeka.com

Most Popular

Recent Comments