Laju kereta dikurangi jadi 20 km/jam di jalur rel amblas Purwakarta

0
510

Amblasnya jalan penghubung antar desa di Desa Mekar Galih, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta Jawa Barat, berimbas pada kondisi rel kereta api lintas selatan di wilayah itu. Penurunan rel terjadi tepat di kilometer 107 setelah tanah yang dijadikan sebagai jalur rel ikut amblas dengan panjang mencapai 25 meter dan kedalaman penurunan hingga 5 milimeter.

PT. KAI DAOP 2 Bandung melakukan pemeriksaan kondisi jalur yang terkena amblas dan longsornya jalan yang ada di sekitar jalur kereta api. Meski terjadi penurunan jalur, pihak DAOP 2 Bandung memastikan kondisinya masih dalam tahap aman dan dapat dilintasi kereta.

“Ini ada penurunan sejak tanggal 3 Maret, terus langsung kita atasi sampai tanggal 8 Maret kemarin. Jadi penurunannya hanya 50 milimeter, kita atasi dengan rel bendel,” kata Saridal, Kepala DAOP 2 Bandung, di Purwakarta, Senin (13/3).

Untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan, KAI mewajibkan setiap kereta yang melintas di jalur amblas mengurangi kecepatan. Laju kereta harus di bawah 20 kilometer per jam, dari batas normal 55 kilometer per jam.

“Sementara kecepatan kita batasi 20 kilometer per jam, ke depannya kita normalisasi supaya normal lagi kecepatannya. Yang di tubuhnya jalan rel kita atasi dengan penambahan balas kita angkat lagi supaya normal,” jelas Saridal.

Proses perbaikan terhadap rel kereta yang mengalami penurunan dilakukan secara bertahap. Jika jalur terus tergerus amblasnya tanah yang mengalami pergeseran, pihak PT. KAI akan mengambil langkah melakukan pengangkatan. Selain itu juga dilakukan pemasangan penahan pergeseran badan jalan baik menggunakan pasak maupun dengan tumpukan karung berisi pasir.

Kepala Teknik Perkeretaapian Jawa Bagian Barat, Arisman menuturkan, dibutuhkan waktu empat hingga lima bulan untuk perbaikan permanen baik badan jalan maupun jalur rel kereta serta tanah yang mengalami longsor.

“Menurut kami untuk tanah di Jawa Barat ini sangat labil, kita tahu di 107 terjadi juga di beberapa titk di sini, bukan hanya di sini di lintas Bandung, Banjar juga sangat rawan. Jadi kita perlu penelitian apalagi di musim hujan saat ini. Tetap kita tangani segera, namun penyelesaian selengkapnya semuanya setelah dilakukan studi. Secepatnya, jadi studi itu membutuhkan waktu sekitar empat lima bulan untuk studinya,” ujarnya.