Mabes TNI Gelar “Doa Bersama HUT ke-74 TNI dan Untuk Pahlawan Revolusi

0
172

JAKARTA, tniad.mil.id – Acara Doa Bersama yang dihadiri sekitar 7.057 orang prajurit dan PNS serta undangan di Mabes TNI, tidak hanya untuk mendoakan kelancaran HUT ke-74 TNI, namun juga dalam rangka mendoakan para Pahlawan Revolusi gugur sebagai Patriot Bangsa dalam menjaga dasar negara, yaitu Pancasila.

HUT ke-74 TNI dan Untuk Pahlawan Revolusi” atas jasa-jasa para pahlawan bangsa yang rela mengorbankan jiwa raganya demi merah putih.

Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, S.I.P., dalam sambutannya yang dibacakan Kasal Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, S.E., M.M. di Cilangkap, Jakarta Timur, Senin malam (30/9/2019).

Kegiatan doa bersama yang digelar di empat tempat, Agama Islam di Lapangan Plaza, Agama Kristen Protestan di Gereja Bukit Kasih, Agama Kristen Katholik di Gereja Bunda Maria Fatimah dan Agama Hindu di Pura Tri Jaya Dharma Mabes TNI itu dilaksanakan untuk mendoakan pelaksanaan HUT ke -74 TNI dan bagi para Pahlawan Revolusi yang gugur akibat keganasan Pemberontakan PKI atau yang dikenal dengan Gerakan 30 September PKI atau G30SPKI.

“Kita berdoa bagi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Kita berdoa bagi persatuan dan kesatuan bangsa yang akan membawa kepada kejayaan Indonesia,” ujarnya.

Doa Bersama di Mabes TNI diikuti sekitar 7.057 orang Prajurit dan PNS TNI serta Polri.

“Akhir-akhir ini kita rasakan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia, semakin rumit berbagai bencana dan peristiwa bertubi-tubi,” ujar Panglima.

“Kita alami bersama mulai dari gempa bumi, letusan gunung berapi, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kerusuhan di Papua dan Papua Barat sampai demonstrasi yang berujung kerusuhan dan hiruk pikuk Pilkada serentak dan Pemilu dan sebagainya,” tambahnya.

Lebih lanjut Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menyampaikan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara sedang menghadapi cobaan, di usia 74 tahun ternyata belum cukup dewasa, untuk itu bangsa Indonesia agar saling menghargai dan menghormati, menyadari perbedaan dan menjadikan kekuatan serta bahu-membahu dalam pembangunan pendiri bangsa ini.

“Sesungguhnya kita sudah menyadari hal tersebut sehingga menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan, sebagai bagian dari komponen bangsa TNI memiliki kewajiban untuk bersinergi dengan komponen lainnya. Kita harus bersama-sama memanfaatkan setiap potensi yang ada untuk kesejahteraan rakyat dan kemajuan bersama,” kata Panglima TNI

Panglima TNI juga berpesan agar tidak boleh ada yang tertinggalkan dan terpinggirkan atau tertinggal sama sekali. Indonesia adalah negara yang besar, punya segala-galanya.

“Kekayaan alam yang melimpah, penduduk yang besar serta keanekaragaman yang begitu banyak,”ucapnya.

“Semoga melalui doa bersama ini Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan berkahnya kepada bangsa dan negara Indonesia serta TNI dapat melaksanakan setiap tugas pokok yang telah dipercayakan kepada rakyat Indonesia. Semoga Allah SWT mencintai seluruh langkah perjuangan kita demi kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai bersama,” pungkasnya.

Adapun penceramah Agama Islam oleh Maulana Habib Lutfi Bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Agama Kristen Protestan Pendeta Dr. Alexius Letlora, M.Min., Agama Kriten Katholik Uskup Mgr. Yohanes Harun Wiyono dan Agama Hindu Dr. I Wayan Swastika, M.Si. (Dispenad).