Melihat Semangat Para Tuna Netra Lomba Baris Berbaris Peringati HUT RI

0
22

Penyandang tuna netra ikut memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan RI Ke-74. Seolah tidak mau kalah, mereka berlomba adu kreativitas dalam gerak jalan dan baris berbaris di antara para penyandang tuna netra.

Warga binaan UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra Malang itu menunjukkan kreasinya berupa formasi barisan, kostum, kekompakkan, lagu dan yel-yel. Setiap regu rata-rata beranggota 8 orang, ujuk kebolehan di panggung utama sebelum berkeliling kompleks perkantoran.

Setiap regu diberi nama berdasarkan kelompok wisma yang ditinggali yang rata-rata nama bunga, seperti Kenanga, Kemuning, Wijaya Kusuma, Flamboyan dan Cempaka. Mereka pun diberi kebebasan mengekspresikan apapun lewat lagu yang di antaranya berisi syair pujian pada para guru pendamping serta lagu-lagu nasional.

Layaknya regu baris berbaris pada umumnya, mereka mengawali dengan persiapan pasukan dan meluruskan barisan. Setiap peleton diminta menuju ke panggung utama di depan para dewan juri.

Selama berjalan, mereka memanfaatkan tongkat penunjuk arah yang sekaligus dijadikan alat kekompakan. Tongkat itu digenggam di setiap pertemuan dengan tongkat teman di depannya. Ketika tuna netra paling di depan berbelok, maka di belakangnya pun berbelok berdasarkan gerakan tongkat dan aba-aba komandan regu.

Jelang menunjukkan aksi kebolehan, mereka mendapatkan aba-aba dari komandan peleton untuk meletakkan tongkat dengan sebuah hitungan. Mereka pun menunjukkan formasi seperti gaya menghormat pada juri, menyanyi lagu hasil kreativitas kelompok, serta kekompakkan menjalankan perintah komandan regu.

Komandan regu selanjutnya akan memberikan perintah mengambil tongkat dan merapikan barisan, sebelum kemudian berjalan keliling kompleks. Sambil bernyanyi-nyanyi, mereka berkeliling dengan menyusuri jalanan paving yang setiap kelokan dijaga sorang juri yang memberi penilaian.

Selama berjalan sekitar 500 meter, mereka tidak berhenti bernyanyi dan menunjukkan formasi barisan, seperti meloncat, buka barisan atau sekadar merapikan barisan.

“Kami semua kan tuna netra, tidak bisa melihat yang lain lurus atau tidak. Kalau ada yang salah ya berkoordinasi, segera menyesuaikan,” kata Rizal Setiawan, salah satu penyandang tuna netra, Jumat (16/8).

Rizal yang menjadi komandan peleton mengaku memilih konsep yang diberi nama Bakul Rosok. Regunya mengenakan seragam baju dari tas kresek warna merah, bertopi serta mengenakan sarung di pinggang. Wajah mereka pun berhias hitam dan merah.

Sementara Muhammad Yodhi Setyawan memilih konsep pakaian Bali dengan sarung bermotif hitam-putih lengkap dengan ikat kepala. Regu yang dipimpin Rizal juga mengenakan aksesoris merah-putih di pundak.

“Tidak ada kesulitan sih, karena kita menyiapkan terlebih dulu,” katanya.

Konsep tersebut merupakan kesepakatan kelompok yang dibicarakan bersama pendamping. Beberapa terlihat memilih baju putih hitam, baju adat bali, batik yang masing-masing dilengkapi aksesoris merah puti.

Pendamping tuna netra, Ribut Budiono mengatakan, selain memperingati Hari Kemerdekaan, lomba tersebut untuk implementasi olahraga sekaligus mobilitas para penyandang tuna netra.

“Karena tuna netra itu membutuhkan orientasi mobilitas, orientasi berlatih jalan, orientasi pengenalan lingkungan,” katanya.

Sehingga penyandang tuna netra yang sudah lama, secara langsung akan membantu anak-anak yang masih baru. Karena beberapa masih baru yang sekaligus untuk pengenalan lingkungan.

“Persiapannya cuma satu minggu. Karena anak-anak netra jalan saja susah, makanya butuh kekompakan, kedisiplinan dan kebersamaan,” ujarnya.

Sebanyak 105 orang penyandang tuna netra turut dalam kegiatan menyambut peringatan Hari Kemerdekaan. Khusus baris berbaris diikuti 8 tim yang mewakili setiap wisma.

Selama merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-74, warga tuna netra binaan Dinas Sosial Jawa Timur itu menggelar golball (sepak bola tangan), jepit balon sambil joget, estafet air, senam tongkat dan jalan sehat. 

Sumber : Merdeka.com