Sunday, April 18, 2021
Home DKI Jakarta Menkes: Adanya Embargo dari Negara Produsen Akibatkan Suplai Vaksin Berkurang

Menkes: Adanya Embargo dari Negara Produsen Akibatkan Suplai Vaksin Berkurang

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (tengah) didampingi Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan), dan Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy (kiri) dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/4).

Harmoni Media – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa kecepatan program vaksinasi COVID-19 diperkirakan akan melambat karena adanya embargo vaksin dari negara-negara produsennya.

Menkes Budi mengungkapkan laju kecepatan vaksinasi COVID-19 di Tanah Air akan berkurang. Hal ini disebabkan, adanya gelombang ketiga atau third wave kenaikan kasus aktif COVID-19 di negara-negara produsen vaksin sehingga vaksin tersebut hanya akan dipakai di negara mereka sendiri.

“Sehingga akibatnya mempengaruhi ratusan negara di dunia termasuk di Indonesia. Sehingga jumlah vaksin yang tadinya tersedia untuk bulan Maret dan April masing-masing 15 juta dosis, atau totalnya dua bulan adalah 30 juta dosis, kita hanya bisa dapat 20 juta dosis, atau dua pertiganya,” ujar Budi dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/4).

Pemerintah, kata Budi, sedang melakukan negosiasi dengan produsen-produsen vaksin tersebut agar suplai vaksin tidak berkurang secara drastis. Budi berharap pada Mei nanti, pengiriman vaksin bisa berjalan dengan lancar.

Dengan keterbatasan jumlah vaksin COVID-19 saat ini, maka pemerintah pun akan memprioritaskan kalangan masyarakat yang rentan terpapar virus corona, yakni masyarakat yang berusia 60 tahun ke atas atau lanjut usia (lansia), mengingat dari jumlah kumulatif kasus kematian akibat virus corona di Indonesia, sebanyak 50 persen berasal dari kelompok lansia.

“Oleh karena itu dengan adanya keterbatasan vaksin di bulan April ini, kita arahkan agar disuntikan terutama untuk para lansia, yang sebagian besar lansia kalau ada jatah sisanya kita suntikan ke guru, karena memang rencananya semua guru akan divaksinasi sampai Juni,” jelas Budi.

Capaian Vaksinasi

Budi juga menyampaikan sampai detik ini, pemerintah sudah melakukan penyuntikan vaksin COVID-19 sebanyak 12,7 juta dosis. Capaian ini, menempatkan Indonesia di posisi ke-delapan di dunia sebagai negara yang paling banyak melakukan vaksinasi COVID-19.

“Kalau kita keluarkan negara-negara yang memproduksi vaksin sendiri, sehingga tidak ada masalah dari suplai, vaksinnya kita nomor empat di dunia. Ini bagus untuk menjawab skeptisnya banyak majalah-majalah internasional terhadap Indonesia,” kata Budi.

Pemerintah Perpanjang PPKM Mikro

Dalam kesempatan yang sama, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah kembali memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara mikro mulai 6 April hingga 19 April 2021.

“Pemerintah menambahkan dan memperpanjang PPKM tahap berikutnya atau tahap kelima untuk dua minggu ke depan,” ujar Airlangga.

Pemerintah, kata Airlangga, juga menyertakan lima provinsi lain, yakni Kalimantan Utara, Aceh, Sumatera Selatan, Riau dan Papua, dalam kebijakan PPKM mikro, sehingga sampai saat ini kebijakan tersebut berlaku di 20 provinsi.

Ia menjelaskan sebelumnya, PPKM mikro sudah terbukti menurunkan kasus aktif COVID-19 di 15 provinsi yang menerapkannya, kecuali Banten.

“Banten yang terjadi kenaikan, karena memang Banten semula hanya Tangerang Raya sekarang sudah seluruh provinsi dan Banten kemarin juga dilakukan testing secara masif dan di samping itu juga memang karena baru mengikuti secara keseluruhan maka Banten masih agak naik. Tetapi, provinsi lain seluruhnya turun,” paparnya.

Perkembangan pandemi di tanah air diklaim pemerintah cukup membaik. Airlangga menjelaskan hal ini terlihat dari kasus aktif COVID-19 yang mencapai angka single digit atau 7,61 persen, di mana kasus aktif global menunjukkan angka 17,29 persen.

Kemudian angka kesembuhan sudah mencapai 89,68 persen, lebih tinggi dari tingkat kesembuhan di dunia 80,35 persen. Namun, kasus kematian akibat corona di tanah air masih belum membaik yakni 27,72, sedangkan angka kematian global berada pada level 28,18 persen.

Red

Most Popular

Recent Comments