Militer China Usir Paksa Kapal Perang AS Dari Laut China Selatan

0
45

Harmoni Media — Militer China mengerahkan kapal dan pesawatnya untuk mengusir paksa kapal perang yang merupakan kapal perusak berpeluru kendali USS Barry (DDG-52) milik Amerika Serikat, dari kawasan rantai Pulau Paracel, Laut China Selatan, Selasa (28/4) lalu.

“Tindakan-tindakan provokatif oleh pihak AS ini, telah secara serius melanggar kedaulatan dan kepentingan keamanan China, sengaja meningkatkan risiko keamanan regional dan dapat dengan mudah memicu insiden yang tidak terduga,” demikian pernyataan juru bicara Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China, Li Huamin, seperti dikutip South China Morning Post, Rabu (29/4).

“FONOP (Operasi Kebebasan Bernavigasi) Barry tidak sesuai dengan suasana saat ini karena masyarakat internasional memerangi pandemi, serta menginginkan perdamaian dan stabilitas regional,” lanjutnya, merujuk pada pandemi virus corona baru, Covid-19.

Pernyataan Li itu mengklaim bahwa PLA memaksa USS Barry keluar dari rantai Pulau Paracell. PLA tidak merinci aset-aset tempur yang digunakan dalam apa yang mereka klaim sebagai pengusiran kapal perang Amerika.

Namun, seorang pejabat Angkatan Laut AS mengatakan kepada USNI News bahwa operasi kebebasan bernavigasi USS Barry berjalan sesuai rencana tanpa menemui perilaku tidak aman atau tidak profesional dari pesawat militer atau kapal perang China.

Pejabat itu juga mengonfirmasi USS Barry memang melakukan operasi kebebasan bernavigasi di sekitar rantai pulau di Vietnam. Dia tidak memberikan rincian FONOP. Namun, operasi-operasi sebelumnya di sekitar Pulau Paracel telah menentang klaim Beijing atas garis pangkal lurus teritorial di sekitar rantai pulau yang bertentangan dengan hukum laut internasional.

China memandang perairan di antara pulau-pulau yang mereka klaim bukan sebagai laut internasional yang terbuka tetapi sebagai laut teritorial China, sebuah pandangan yang diperdebatkan AS. Rantai Pulau Paracel juga diklaim oleh Vietnam dan Taiwan.

Baik Washington dan Beijing saling tuduh memanfaatkan pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung sebagai gangguan untuk melakukan lebih banyak kontrol militer di Laut China Selatan.

USS Barry yang berbasis di Jepang telah transit di Selat Taiwan dua kali sepanjang bulan ini dan mendapat reaksi kemarahan dari Beijing. Sehari setelah transit USS Barry pada 22 April, Kelompok Tempur Kapal Induk Liaoning China juga transit di Selat Taiwan.

Selain operasi kehadiran, kapal perusak AS itu telah aktif di Laut China Selatan yang beroperasi dengan kapal penjelajah rudal USS Bunker Hill (CG-52) dan kapal serbu amfibi USS America (LHA-6) di lepas pantai Malaysia. Wilayah itu merupakan area eksplorasi mineral yang jadi sengketa antara Malaysia dan China.

Sebelumnya diberitakan, situasi di Laut China Selatan memang semakin memanas, pasca bergabungnya kapal perang Australia bersama armada Angkatan Laut Amerika di zona sengketa tersebut.

Angkatan Laut Amerika Serikat dalam siaran resminya menyatakan, militer Australia telah mengerahkan Kapal Perang HMAS Parramatta atau FFG 154 untuk bergabung.

“Senang sekali bisa beroperasi dengan orang Australia lagi. Setiap kali saya ditugaskan ke wilayah ini, dan ke Timur Tengah, saya memiliki nasib baik untuk beroperasi dengan Angkatan Laut Australia,” kata Kapten Kurt Sellerberg, komandan Bunker Hill USS dikutip di situs resmi Angkatan Laut AS, Kamis (23/4) lalu.

HMAS Parramatta kini berlayar bersama 3 kapal perang AL Amerika yang sebelumnya telah gentayangan di Laut China Selatan. Kapal-kapal perang AS itu di antaranya kapal penjelajah rudal berpemandu kelas Ticonderoga USS Bunker Hill (CG 52) kemudian bertemu dengan kapal serbu amfibi USS America (LHA 6) dan kapal perusak peluru kendali kelas Arleigh-Burke USS Barry (DDG 52).

(Red)