Friday, September 24, 2021
Home Travel Kuliner dan Wisata Miniatur masjid di Solo terbuat dari aneka jajanan tradisional

Miniatur masjid di Solo terbuat dari aneka jajanan tradisional

Menyemarakkan Bulan Ramadan dan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 H, sejumlah hotel berbintang di Kota Solo membuat kreasi unik miniatur masjid. Miniatur tersebut dibuat dengan bahan beragam, ada yang menggunakan bahan baku kue, cokelat, serta makanan tradisional lainnya. Dan tentu saja dengan motif dan tema yang berbeda pula. Miniatur tersebut kemudian diletakkan di tengah lobby lounge, dan menjadi daya tarik pengunjung.

Di The Sunan Hotel Solo misalnya. Hotel berbintang empat ini menghadirkan miniatur masjid berbahan baku kue kuping gajah. Miniatur masjid ini tampak unik dan menarik perhatian para tamu yang sedang menginap atau menyelenggarakan event.

Bahan dasar kue disusun menggunakan lem berbahan tepung terigu, tanmiem dan telur ini dalam proses pengerjaaannya memakan waktu selama 4 hari. Dengan diameter 170 cm dan tinggi 180 cm, miniatur ini menghabiskan kue kuping gajah sebanyak 6 ribu pcs. Kue kuping gajah memiliki bentuk yang unik tipis dan bermotif menyerupai kuping gajah serta rasa yang manis, enak dan renyah. Selain bentuknya yang istimewa itu, kue ini juga memiliki aneka rasa, mulai dari coklat, vanila hingga rasa mocca.

“Miniatur masjid kue kuping gajah ini kami pamerkan di lobby lounge sampai dengan tibanya hari raya Idul Fitri. Selain miniatur masjid, di sudut lobby juga disediakan spot selfie berupa replika unta di padang pasir dan bedug Ramadan. Para tamu yang menginap maupun masyarakat yang sedang berada di Hotel The Sunan bisa mengabadikan kenangan, ketika sedang menikmati suasana Ramadan dan merayakan hari raya Idul Fitri di sini,” ujar General Manager The Sunan Hotel Solo, Retno Wulandari.

Sementara di Solo Paragon Hotel and Residences, sebuah miniatur masjid nan elok juga terpampang di lobby longue hotel tersebut. Berbeda dengan sebelumnya, miniatur masjid berukuran 1,6 meter (m) x 1,6 m dan tinggi 2,5 meter ini terbuat dari camilan tradisional yang biasa ditemui saat Lebaran. Di antaranya kue kuping gajah, kue semprong, onde-onde, untir-untir, kembang goyang, jipang, kue kanding dan pilus warna.

Sales and Marketing Manager Solo Paragon Hotel and Residences, Ira Oktarini mengatakan miniatur masjid di hotelnya berkonsep makanan tradisional. Pihaknya ingin mengenalkan kembali makanan atau kue tradisional yang mulai langka dan jarang dijumpai.

“Proses pembuatan miniatur masjid ini dilakukan sekitar tujuh hari oleh Chef Pastry, Wardoyo dan Executive Chef, Tunjung Lukito. Intinya konsep itu kita angkat karena kita mau memperkenalkan kembali kue-kue tradisional yang mungkin sekarang beberapa di antaranya sudah jarang ditemui. Bahan yang kami gunakan adalah kue tradisional yang biasa ditemui saat Lebaran,” jelas Ira.

Selain itu, lanjut Ira, hotel juga menyediakan kue-kue tersebut yang bisa dicicipi oleh tamu maupun pengunjung hotel. Menurut Ira, animo tamu yang berkunjung sangat bagus, bahkan beberapa tamu merasa bernostalgia, dan menerangkan kepada anaknya.

Untuk membuat miniatur tersebut, pihaknya menghabiskan kurang lebih 15 kg untuk masing-masing jenis bahan baku kue. Sedangkan untuk perekatnya, menggunakan lem kanji yang terbuat dari tepung tapioka yang memiliki daya rekat kuat.

Sedangkan di The Alana hotel & Convention Center, miniatur masjid terbuat dari susunan kue macaroni dengan bermotif batik. Tak hanya motif batik saja keunikannya, miniatur masjid tersebut jika dilihat lebih dekat ternyata terbuat dari cokelat leleh, dengan memanfaatkan teknik air brush. Sehingga dapat membentuk corak-corak batik, dan kubahnya terbuat dari susunan meringue.

General Manager The Alana Hotel & Convention Center, Sistho A Sreshtho mengemukakan, ada dua jenis motif batik menghiasi miniatur masjid, yaitu truntum dan parang. Dipilihnya kedua motif tersebut tentu bukan tanpa alasan. Truntum yang merupakan motif batik yang menyerupai bintang di langit malam atau juga bisa dilihat seperti bunga melati yang sedang mekar. Makna dari batik truntum merupakan lambang cinta kasih yang tulus, murni, dan tengah bersemi.

“Kebetulan, motif tersebut adalah motif asli batik Solo yang dibuat langsung oleh Kanjeng Ratu Kencana, permaisuri Sultan Paku Buwono III dari Surakarta Hadiningrat. Dengan mengangkat motif truntum tersebut, kami berharap selalu dapat melayani tamu dengan penuh cinta kasih, ketulusan, serta keberadaannya semakin berkembang dan menjadi lebih baik lagi waktu ke waktu,” katanya.

Sedangkan motif parang atau pereng (lereng) yang dipilih untuk menghias atap miniatur masjid tersebut memiliki makna petuah untuk tidak pernah menyerah. Ibarat tombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik parang, lanjut Sistho, menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal. Susunan motif S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat yang tak pernah padam.

“Kami ingin terus memiliki semangat dalam melayani masyarakat, serta tidak pernah menyerah untuk selalu berinovasi dan memberikan yang terbaik, sehingga keberadaannya bisa memiliki manfaat bagi lingkungan,” ucapnya.

Pembuatan miniatur masjid batik cokelat yang berukuran 20 meter persegi tersebut memakan waktu sekitar 2 minggu. Mulai dari pemasangan rangka hingga proses pelapisan cokelat dan penyusunan 222 buah meringue untuk kubahnya. Miniatur tersebut menghabiskan sekitar 68 kilogram cokelat, glitter food, pewarna makanan. [cob]

 

 

https://www.merdeka.com/peristiwa/miniatur-masjid-di-solo-terbuat-dari-aneka-jajanan-tradisional.html

Most Popular

Recent Comments