Tuesday, November 30, 2021
Home DKI Jakarta Moderna Disebut Ampuh Lawan Varian Delta Usai 6 Bulan Vaksin Kedua

Moderna Disebut Ampuh Lawan Varian Delta Usai 6 Bulan Vaksin Kedua

Vaksin Covid-19 Moderna  diklaim efektif 93 persen hingga enam bulan setelah dosis kedua. Laporan ini menunjukan hampir tidak ada perubahan dari hasil uji klinis sebelumnya, yaitu sebesar 94 persen. Foto ilustrasi vaksin Moderna. (AFP/JOEL SAGET).

Harmonimedia — Tim peneliti kesehatan Amerika, National Institutes of Health (NIH) mengklaim bahwa Vaksin Covid-19 Moderna ampuh melawan penularan varian Delta setidaknya selama enam bulan setelah dosis kedua. Bahkan kemungkinan dapat lebih lama.

“Antibodi pengikat tingkat tinggi mengenali semua varian yang diuji, termasuk B.1.351 (Beta) dan B.1.617.2 (Delta),” tulis ahli imunologi Nicole Doria-Rose dan rekan di NIH’s National Institute of Allergy and Infectious Diseases dalam laporan mereka yang diterbitkan dalam jurnal Science, dikutip hari ini Jumat (13/8).

Mereka menguji darah dari 24 sukarelawan yang telah divaksinasi dua dosis pada beberapa titik waktu hingga enam bulan. Empat minggu setelah dosis pertama vaksin Moderna, dan kemudian pada tiga titik setelah mereka dianggap divaksinasi penuh dengan dua dosis.

Para peneliti menemukan, dua minggu setelah dosis kedua vaksin Moderna, semua sampel darah menetralkan semua varian.

“Pada puncak respons terhadap dosis vaksin kedua, semua individu memiliki respons terhadap semua varian,” tulis tim tersebut.

Mereka menyertakan semua varian yang paling umum atau mengkhawatirkan dalam pengujian: B.1.1.7 (Alpha), B.1.351 (Beta), P.1 (Gamma), B.1.429 (Epsilon), B.1.526 (Iota) dan B.1.617.2 (Delta).

Varian yang paling mungkin untuk menghindari perlindungan kekebalan adalah Beta, atau B.1.351.

Enam bulan setelah dosis kedua, lebih dari setengah sampel darah mempertahankan antibodi yang sepenuhnya menetralkan sampel dari varian yang pertama kali terlihat di Afrika Selatan itu. 96 persen sampel memiliki respons antibodi penuh terhadap varian Delta.

Antibodi tidak memberikan gambaran secara penuh terhadap kekebalan imun. Seiring waktu, orang menumbuhkan sel kekebalan yang disebut sel B dan T yang juga melindungi dari virus.

“Individu yang menunjukkan respons imun yang berkurang dari waktu ke waktu cenderung memiliki sel B memori yang mampu memberikan respon anamnestik (peningkatan) terhadap varian tersebut atau berpotensi dengan dosis vaksin tambahan,” tulis mereka.

Dalam penelitian itu juga, mereka menemukan sedikit bukti bahwa kekebalan orang dewasa atau orang tua lebih cepat menurun. Banyak subjek dalam kelompok tertua mempertahankan aktivitas penetralan terhadap varian enam bulan setelah dosis vaksin kedua.

Varian yang berbeda memiliki mutasi genetik yang berbeda pula, jadi para peneliti juga mengujinya satu per satu. Penyebab utama dalam respon imun yang lebih lemah adalah mutasi E484K, yang terlihat pada varian virus Beta, Gamma dan Lota, tidak pada Delta.

Kedepannya studi tambahan akan terus dilakukan demi mengatasi dampak dari varian Delta. Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS siap untuk mengesahkan dosis booster untuk orang yang tidak pernah memiliki banyak respon imun terhadap dua dosis pertama vaksin Modern dan Pfizer.

Meski demikian, pejabat kesehatan AS mengatakan terlalu dini untuk mempertimbangkan vaksin booster karena kekebalan yang berkurang.

“Kami percaya cepat atau lambat Anda akan membutuhkan booster untuk daya tahan dan perlindungan,” kata Fauci, kepala National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) dalam pengarahan Tim Tanggap Covid-19 Gedung Putih.

Pengujian vaksin Pfizer dan Johnson & Johnson juga menunjukkan bahwa vaksin tersebut memberikan kekebalan setidaknya enam bulan, dan kemungkinan lebih lama.

Butuh Vaksin Booster

Sebelumnya, Vaksin Covid-19 Moderna diklaim efektif 93 persen hingga enam bulan setelah dosis kedua. Laporan ini menunjukan hampir tidak ada perubahan dari hasil uji klinis sebelumnya, yaitu sebesar 94 persen.

Namun pengguna vaksin Moderna juga disebut membutuhkan suntikan vaksin booster karena tingkat antibodi diperkirakan akan berkurang. Sebelumnya, Pfizer telah lebih dahulu menganjurkan suntikan ketiga untuk mempertahankan tingkat perlindungan yang tinggi terhadap varian batu Covid-19.

CEO Moderna Stephane Bancel menglaim efektivitas Moderna masih lebih baik dibandingkan dengan Pfizer. Sebelumnya, Pfizer-BioNTech mengaku ada penurunan tingkat keampuhan vaksin sebesar 6 persen setiap dua bulan dan menjadi 84 persen enam bulan setelah dosis kedua disuntikkan.

“Vaksin COVID-19 kami menunjukkan kemanjuran yang tahan lama sebesar 93 persen hingga enam bulan, tetapi kami sadar varian Delta adalah ancaman baru yang signifikan sehingga kami harus tetap waspada,” kata Bancel mengutip Reuters.

red

Most Popular

Recent Comments