Tuesday, November 30, 2021
Home LAPORAN KHUSUS Panjat Pinang Indonesia Di Usia 72 Tahun

Panjat Pinang Indonesia Di Usia 72 Tahun

Bau-bau perayaan menyambut HUT ke 72 Republik Indonesia memasuki minggu kedua di Bulan Agustus kian menyengat. Mulai dari perkampungan hingga gedung-gedung mewah perkantoran telah menyiapkan ucapan dirgahayu dan membentangkan Sang Saka Merah Putih

Pedagang bendera dan pernak-pernik kemerdekaan Republik Indonesia melayani pengunjung di Pasar Mester, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (4/8). (jitunews/Latiko Aldilla Dirga)

Tidak terasa bangsa yang kaya akan sumber daya alamnya ini telah menginjak usia 72 tahun. Segala pergulatan agar bangsa yang diisi oleh suku-suku yang berbeda ini telah banyak yang dilakukan. Namun pekerjaan rumah yang belum menunjukan bahwa Indonesia benar-benar merdeka adalah keadilan hukum dan keadilan sosial.

Untuk masalah keadilan hukum, tak perlu lagi dijelaskan rinci, mengingat fenomena tersebut sangat nyata dan terlihat blak-blakan di ruang publik melalui pemberitaan atau pun pengalaman langsung di lapangan.

Begitu juga tentang keadilan sosial yang kurang lebih sama. Masyarakat saat ini kian tergencet oleh perilaku para penguasa dan pengusaha yang lebih memikirkan hegemoni kekuasaan dan bisnisnya semata. Alhasil yang miskin kian ‘kere’ yang kaya malah tambah ‘sugih’.

Kemiskinan atau miskin dan kekayaan atau kaya sesungguhnya adalah dua sisi kehidupan yang saling mengisi atau dalam pendekan agama disebut sebagai ‘Sunnatullah’. Maka dari itu pemerintah atau ulil amri ‘seharusnya’ bertugas agar tidak terjadi kesenjangan yang domplang antara si miskin dan si kaya.

Si kaya diatur untuk tidak memperkaya dirinya dengan jalan yang gelap dan si miskin dibantu agar segala urusannya yang dalam kondisi keterbatasan bisa menjadi lebih mudah. Maka bukanlah sebuah hal yang berlebihan, jika masyarakat Indonesia termasuk pemangku kebijakan bisa mengambil pelajaran dari permainan Panjat Pinang.

Panjat Pinang sendiri bukanlah hal yang asing di bangsa yang mengakomodir kebebasan meyakini suatu agama yang diyakini. Hampir setiap seremonial tujuh belasan permainan ini paling ditunggu dan selalu bisa merekam kisah-kisah menarik.

Secara literasi, Panjat Pinang memiliki pemahaman memanjat pohoh Pinang. Meskipun di beberapa kesempatan Panjat Pinang tak lagi menggunakan pohon pinang, melainkan bambu, namun tidak mengurangi esensi dari permainan yang mengandalkan kekompakan, saling menopang dan tentunya bersikap adil dan mau berkorban.

Panjat Pinang seakan mengajarkan kepada pemaian atau pun penonton yang tumpah ruah dalam kondisi memperingati hari jadi bangsanya, seakan mengajarkan cara manusia agar eksis, hidup secara baik dan berhasil menggapai hal yang diimpikan. Ini adalah sebuah pelajaran hidup yang memang sangat realistis. Beberapa filosofi yang bisa kita jabarkan dari memaknai Panjat Pinang adalah sebagai berikut :

Bersih, Segar dan Penuh Keyakinan

Inilah fase pertama dari permainan Panjat Pinang yang mana setiap peserta masih dalam kondisi fit dan penuh keyakinan bisa membawa pulang hadiah yang bergelantungan di puncak sana. Begitu pun dengan para penonton yang merasa yakin kehadirannya tak akan sia-sia walaupun nantinya hanya sekedar tertawa hingga akhir permaianan.

Para warga memadati kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, untuk menonton berbagai macam kegiatan lomba HUT RI. (Foto: Jitunews/Latiko Aldilla Dirga)

Peserta datang ke lokasi masih dengan pakaian yang bersih dengan semangat yang menggebu. Di sisi lain pohon pinang tersebut pun masih rapi, walau sudah licin karena diolesi oli atau minyak dan hadiah pun masih utuh belum ada pemiliknya.

Pada fase ini pula, para peserta masih mengedepankan egonya masing-masing, seolah dirinyalah yang akan menjadi penentu tim, berhasil memanjat hingga ke puncak untuk memborong semua hadiah yang ada. Setidaknya nilai-nilai yang terpampang pada fase ini, masyarakat Indonesia kebanyakan masih memilikinya.

Lelah, Kotor, Putus Asa dan Mulai Mengalah

setelah peluit tanda permainan dimulai, para peserta pun mulai memeluki pohon pinang nan licin itu sebagai awal dalam menggapai tujuan. Bukan perkara mudah memanjat batang pohon pinang yang telah diberi pelicin. Alhasil jatuh atau pun merosot kembali ke titik nol adalah kenyataan yang terjadi. Karena itu pula, biasanya para penonton bersorak kegirangan dengan sesekali berteriak hu hu hu…Rasa putus asa pun secara tercicil mulai muncul.

Baju atau badan yang tadinya bersih kini kotor kecokelatan bahkan kehitaman. Para peserta menjadi pribadi yang rela berkorban mengotori tubuh atau pakaiannya demi mengikis oli agar perlahan hilang sehingga batang pinang tak selicin semula. Mereka yang sok jago mengalah dan membiarkan rekan setim untuk menginjak bahunya.

Sejumlah peserta lomba berusaha untuk mendapatkan hadiah dengan memanjat pohon pinang dalam lomba panjat pinang yang diselenggarakan di kawasan Kalimalang. (Foto: Jitunews/Latiko Aldilla Dirga)

Dalam bahasa percakapan mungkin mereka berkata, “silakan injak bahu saya. Saya akan berdiri kuat di bawah sebagai penopang agar kalian bisa sampai di atas.” Begitu terus hingga undakan-undakan selanjutnya.

Dalam keputusasaan karena telah merasa tak mungkin bisa menjadi yang ‘teratas’ mereka akhirnya saling bekerjasama membunuh egoisme antar personal.

Fase ini harusnya terjadi di kalangan para pemangku jabatan baik legislatif, eksekutif atau pun yudikatif. Tapi sayangnya lembaga-lembaga tersebut selama 72 tahun ini acap kali bergerak atas dasar egoismenya. Sekalipun kerja sama, masyarakat awam yang dahulu menitipkan amanah kepada ketiga lembaga tersebut malah yang menjadi korban.

Bukan perkara mudah mengurusi negara dengan luas demografis seperti nusantara. Sama seperti halnya memanjat pohon pinang jika hanya mengandalkan dirinya sendiri. Jadi tak ada salahnya satu dari ketiganya memberikan bahunya untuk diinjak demi menggapai tujuan hidup baldatun toyyibun wa robbun ghofur.

Licinnya pinang dihilangkan bersama, tingginya pinang digapai bersama.

Kebersamaan, Tujuan yang Sama dan Kebahagiaan

Setelah sadar tidak mampu memanjat sendirian, maka semua bersatu padu dengan rasa kebersamaan di hati yang sama. Sebetulnya fase ini adalah yang paling menghibur sekaligus dramatis ketimbang fase-fase sebelumnya. Meskipun di sisi peserta rasa lelah itu tak bisa lagi terbendungkan, ternyata di situlah kebahagian para penonton.

Celana yang melorot pun tak bisa dielakan. Dan ketika adegan itu terjadi, penonton merespon dengan terpingkal, ha ha ha…

Secara filosofi, para pemanjat pinang akhirnya sadar bahwa pemanjat yang lain bukanlah musuhnya. Menuju puncak pinang pun kini menjadi musuh bersama untuk ditaklukan.

Sejumlah peserta lomba berusaha untuk mendapatkan hadiah dengan memanjat pohon pinang dalam lomba panjat pinang yang diselenggarakan di kawasan Kalimalang. (Foto: Jitunews/Latiko Aldilla Dirga)

Persatuan dan gotong royong modal besar yang memudahkan langkah menuju puncak yang telh dihiasi beragam hadiah menarik. Setelah menemukan musuh bersama, seketika pohon yang licin tak jadi kendala dan rela menjadi tumpuan bagi pemanjat lainnya membuat riuh rendah suara penonton kian pecah lantaran jarak yang tadinya bermeter-meter kina hanya tinggal sejengkal.

Prinsipnya hanya satu orang saja yang bisa naik hingga ke puncak, dengan syarat pemanjat yang lain bersedia menjadi penopang yang membatu nan kokoh. Hingga akhirnya hadiah pun mudah dikebumikan satu per satu.

Dan puncak dari kebersamaan itu adalah keadilan sosial, adil dalam membagi hadiah-hadih yang sudah tergeletak di tanah.

Fase ini harusnya lahir dari setiap praktek pemilihan umum. Pertandingan dalam meyakinkan rakyat Indonesia untuk memilih harusnya selesai ketika lembaga khusus, KPU, telah mengeluarkan hasilnya. Pemenang pemilu harusnya tak boleh merasa paling hebat dan paling mampu menciptakan keadilan sosial.

Para pemangku kebijakan setidaknya harus seperti para pemanjat, bekerja hingga lelah demi kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Sentimen antar partai, antar lembaga termasuk pula antar golongan harus lebur menjadi satu, yakni Indonesia. Selama ini mereka yang berkuasa belum berani untuk melepas seragam golongannya.

Hanya ada satu yang bisa mencapai puncak. Ketika seorang calon pemimpin sampai di kursi kekuasaanya, maka segeralah melemparkan hadiah-hadiah tersebut hingga jatuh ke tanah. Untuk selanjutnya dinikmati bersama sesuai dengan porsi dan kebutuhannya.

Silakan saja garap hutan, laut, kilang minyak atau pun tanah Papua (Freeport) asalkan nanti hasilnya rakyat kebagian.

Setelah 72 tahun, Indonesia sebagai bangsa tak boleh lagi hidup selain dalam persatuan. Sudah terlalu rakyat sendirian tanpa pernah ditengok oleh pemimpinnya.

 

 

Sumber : Panjat Pinang Indonesia Di Usia 72 Tahun
Panjat Pinang Indonesia Di Usia 72 Tahun
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments