Tuesday, November 30, 2021
Home DKI Jakarta Produksi Peralatan Hulu Migas Berkualitas, Imeco Terus Berupaya Tingkatkan TKDN

Produksi Peralatan Hulu Migas Berkualitas, Imeco Terus Berupaya Tingkatkan TKDN

Foto: Salah satu pompa angguk yang diproduksi oleh PT Imeco Inter Sarana. (sumber: doc. Imeco).

Harmonimedia – PT Imeco Inter Sarana terus meningkatkan kandungan dalam negeri (TKDN) peralatan hulu migas yang diproduksinya, salah satunya pompa angguk yang ditargetkan memiliki kandungan lokal hingga 100%. Namun, upaya meningkatkan TKDN produk domestik ini membutuhkan keberpihakan pemerintah terhadap pelaku industri dalam negeri.

General Manager Imeco Inter Sarana TP Andi Soelistyadi mengatakan, pihaknya telah memiliki pabrik peralatan hulu migas produksi di dalam negeri, di bawah lisensi perusahaan Amerika Serikat, sejak 1985. Kini, dua produksi andalannya, yakni pompa angguk dan kepala sumur (well head), telah memiliki TKDN cukup tinggi. Tak hanya itu, produknya juga mempunyai sertifikasi internasional.

Ke depannya, pihaknya akan terus meningkatkan TKDN produksinya, salah satunya TKDN pompa angguk ditargetkan mencapai 100%.

“Kami sedang proses untuk produksi roda penggerak dari pompa angguk ini di Indonesia, di mana engineering dan desain dari kami. Kira-kira lengkap dengan lisensinya dua tahun dari sekarang. Jadi dua tahun mendatang local content-nya bisa capai 90%, syukur-syukur 100%,” kata dia dalam wawancara dengan media secara daring, akhir pekan lalu.

Untuk well head, pihaknya juga telah memiliki pabrik yang memproduksi alat ini di Batam sejak 1985. Namun, diakuinya, TKDN produk ini tidak setinggi pompa angguk lantaran teknologinya lebih komplek. Meski demikian, pihaknya telah mengkombinasikan produk  well head ini dengan komponen yang dihasilkan mitra suplier dari industri di Batam, dengan tetap mempertahankan kualitas. Bahkan, beberapa produk well head Imeco telah diekspor ke Timur Tengah.

Andi menjelaskan, langkah perusahaan untuk terus menaikkan TKDN produknya ini lantaran manfaatnya bagi industri-industri dalam negeri akan cukup signifikan. Pihaknya selama ini telah membina industri lokal untuk menjadi suplier komponen, bahkan menempatkan langsung pegawai di pabrik, untuk menjamin kualitas peralatan migas dalam negeri ini tidak kalah dengan produksi mancanegara.

Kemudian, jika nantinya kegiatan operasi migas banyak berada di wilayah timur Indonesia, pihaknya juga siap membangun pabrik di sana.

“Kami harus lakukan inovasi pemberdayaan industri lokal di sana. Kami ada kemampuan  engineering, desain, dan sertifikasi internasional, tugas kami bagaimana membina industri lokal berkembang di sana,” tuturnya.

Pihaknya berharap jumlah suplier lokal yang dilibatkan semakin besar seiring upaya Imeco menggejot TKDN.

“Harapannya, makin tinggi local content, industri penunjang yang terlibat akan semakin banyak,” ungkap Andi.

Selama ini pun, tambah Andi, produk-produk Imeco juga telah digunakan dalam proyek-proyek migas yang digarap perusahaan migas kelas kakap, seperti PT Pertamina (Persero), Chevron Indonesia, Total E&P Indonesie, BP, Premiere Oil, dan lainnya. Bahkan, beberapa produk Imeco juga telah dipakai untuk proyek migas laut dalam.

Dikatakannya, saat ini TKDN untuk proyek migas laut dalam memang masih minim. Namun, ketika ke depannya semakin banyak proyek migas di laut dalam, industri komponen Indonesia akan belajar, baik dari perusahaan penunjang migas maupun dari perusahaan migas itu sendiri. Nantinya, ketergantungan impor peralatan akan semakin berkurang. Namun, dalam hal ini dukungan dan keberpihakan pemerintah terhadap industri dalam negeri sangat penting.

Andi meminta pemerintah harus kompak dan konsisten berpihak kepada industri dalam negeri. Apapun pertimbangannya, apakah harga yang lebih murah atau adanya kesepakatan kerja sama tertentu, seluruh kementerian dan lembaga pemerintah diharapkan tidak membuka keran impor untuk peralatan migas yang memang TKDN-nya sudah cukup tinggi. Perusahaan migas juga diharapkan untuk secara rutin memperbarui kajian pasarnya dalam menentukan anggaran pengadaan, sehingga industri dalam negeri tidak terus tertekan demi efisiensi.

“Jangan sampai keberpihakan tereliminasi. Pokoknya [berpihak] pada dalam negeri, apapun yang terjadi harus konsisten,” tegasnya.

Di sisi lain, jika harga produk dalam negeri dinilai mahal, Imeco siap diajak bicara. Pihaknya siap berdiskusi dengan perusahaan migas maupun pemerintah agar ada efisiensi sehingga bisa diperoleh harga produk yang kompetitif.

“Itu adalah hal yang mudah bagi kami, asal kami diajak bicara,” ungkap Andi. Pihaknya hanya berharap multiplier effect yang dihasilkan dari peningkatan TKDN ini benar-benar dirasakan oleh industri dalam negeri.

red

 

Most Popular

Recent Comments