Monday, January 24, 2022
Home Nasional Pilkada Rasa Pilpres

Pilkada Rasa Pilpres

Pilkada serentak tahun 2018 putaran ketiga baru saja usai. Pesta demokrasi yang terjadi di 171 daerah memang sangat menarik untuk diamati. Selain karena terjadi ditahun politik. Hasil Pilkada tahun ini juga menjadi bekal dan penentu pada Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) di tahun 2019 nanti, maka tidak mengherankan jika banyak analis politik menyebut Pilkada tahun 2018 merupakan “Pilkada dengan rasa Pilpres”.

Tidak berlebihan memang jika pada Pilkada kali ini menjadi salah satu penentu kemenangan pada Pileg dan Pilpres 2019 yang akan datang. Partai-partai politik mengusung dan mendukung kader dan non-kadernya untuk menjadi calon kepala daerah di 171 wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemenangan dan kekalahan di Pilkada 2018 juga akan menentukan kemenangan dan kekalahan di Pilpres 2019.

Kemenangan calon kepala daerah yang diusung oleh partai-partai politik tertentu akan berimbas baik dan positif untuk partai-partai tersebut. Paling tidak partai-partai tersebut akan mendapatkan keuntungan-keuntungan, seperti pendanaan, power, jaringan untuk menjadi modal bagi pertarungan di Pileg dan Pilpres 2019. Partai yang menang dalam mengusung calon kepala daerahnya akan happy untuk menatap pertarungan yang sesungguhnya di pesta demokrasi terbesar tahun depan.

Para kepala daerah memang sangat diandalkan oleh partai-partai politik untuk memback-up partai-partai dalam setiap pertarungan politik. Paling tidak partai yang mendukung dan calonnya menang akan lebih ringan dalam menghadapi setiap persaingan politik dalam Pileg maupun Pilpres. Karena seperti kita tahu, pesta demokrasi di Indonesia seperti Pilkada, Pileg, dan Pilpres akan banyak menghabiskan banyak uang.

Kenapa Pilkada serentak tahun  2018 serasa Pilpres. Karena pada Pilkada kali ini melibatkan pemilih lebih dari 50% suara pemilih nasional. Dan Pilkada tahun ini melibatkan daerah-daerah strategis yang memiliki jumlah pemilih gemuk dan menjadi lumbung suara bagi partai-partai politik untuk bekal di Pileg dan Pilpres 2019 yang akan datang.

Pulau Jawa menjadi arena pertarungan yang keras bagi calon kepala daerah, partai-partai politik, dan juga para capres dan cawapres. Karena memenangkan pertarungan di Jawa dianggap sudah memenangi separuh pertarungan. Dan Jawa Barat menjadi andalan dalam perebutan suara pemilih se-nusantara. Jawa Barat memiliki jumlah pemilih terbesar di Indonesia.

Sejarah mencatat partai politik yang menang di Jawa Barat akan menang pula dalam Pemilu nasional (Pileg). Tahun 2004 Partai Golkar menang di Jawa Barat dan menang pula secara nasional. Tahun 2009 giliran Demokrat yang menang di Jawa Barat dan menang pula secara nasional. Dan pada tahun 2014, PDIP menang di Jawa Barat, menang pula secara nasional.

Karena begitu pentingnya Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, maka wajar jika di ketiga wilayah tersebut, partai-partai akan mati-matian berjuang untuk menang sampai darah penghabisan. Menang di Pulau Jawa paling tidak akan memuluskan langkah partai-partai politik dan capresnya untuk menang di Pileg dan Pilpres tahun 2019.

Namun jangan lupakan luar Jawa. Sumatera Utara (Sumut) dan Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi faktor penentu dari luar Jawa. Memanangkan di kedua daerah ini sama pentingnya dengan memenangkan pertarungan di pulau Jawa. Dan harus diingat juga, daerah lain juga penting untuk kemenangan bagi siapapun yang akan menjadi capres dan cawapres.

Pilkada memang bukan Pileg atau Pilpres. Namun dengan Pilkada, kita sudah bisa melihat peta kekuatan dan kelemahan partai-partai, capres dan cawapres dalam pertarungan di 2019 nanti. Menang di Pilkada memang belum tentu menang di Pileg dan Pilpres. Tapi menang di Pilkada akan menjadi penting untuk memuluskan langkah menjadi pemenenang dalam Pileg dan Pilpres.

Ada beberapa faktor yang menjadi mengapa Pilkada menjadi serasa Pilpres. Jumlah pemilih dalam Pilkada serentak tahun 2018 yang terjadi di 171 wiilayah lebih dari 50% jumlah pemilih sementara pada Pilpres 2019 nanti. Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilkada tahun ini sekitar 152 juta orang. Sementara Daftar Pemilih Sementara (DPS) untuk Pemilu 2019 (Pileg dan Pilpres) sekitar 186 juta orang. Artinya meraih kemenangan di Pilkada kemarin menjadi penting dan akan menentukan masa depan partai-partai, Capres dan Cawapres.

Tiga Provinsi di Jawa yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah akan menjadi penentu kemenangan di Pilpres 2019. Karena seperti yang kita tahu. Jawa Barat menjadi lumbung suara terbesar di Indonesia dengan jumlah pemilih 31 juta orang, disusul dengan Jawa Timur dengan jumlah pemilih sebanyak 30 juta, dan Jawa Tengah dengan jumlah pemilih sekitar 27 juta orang. Wajar jika tokoh-tokoh politik nasional termasuk para Capres dan Cawapres ikut berkampanye langsung di wilayah ini.

Dari ketiga Provinsi di Jawa tersebut yang mengikuti Pilkada 2018 jika ditotalkan jumlah pemilihnya mencapai 88 juta orang, artinya lebih dari 50% DPT pada Pilkada serentak tahun 2018 kali ini. Oleh karena itu, Pilkada serentak 2018 di Jawa menjadi arena pertarungan politik atau the last battle menjelang pertarungan di Pileg dan Pilpres tahun 2019.

Namun kemenangan di Jawa saja belum cukup. Harus ditambah dengan dua kemenangan di dua provinsi lain. Yaitu kemenangan di provinsi non-Jawa yang memiliki jumlah suara pemilih terbesar yaitu Sumut, dengan jumlah pemilih sekitar 9 juta orang. Dan provinsi di Indonesia bagian Timur yaitu Sulsel dengan jumlah pemilih sebesar 6 juta orang. Namun jangan lupakan juga provinsi-provinsi lain. Karena provinsi yang memiliki jumlah pemilih sedikit juga akan memberikan andil dalam kemenangan.

Di tiga provinsi di Jawa (Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah) dan Provinsi non-Jawa, yaitu Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan merupakan provinsi dengan jumlah pemilih terbesar dari 171 Pilkada yang diselenggarakan tahun ini. Kelima provinsi tersebut akan menjadi penentu kemenangan di Pilpres yang akan datang. Menang di wilayah-wilayah ini sudah lebih cukup untuk para petinggi partai yang calon kepala daerahnya menang untuk tidur nyenyak sementara. Karena hari esok sudah harus mempersiapkan pertarungan di Pileg dan Pilpres.

Tidak mengherankan jika di kelima provinsi tersebut perhatian calon kepala daerah, calon presiden dan calon wakil presiden, begitu juga partai-partai politik sangat besar karena akan juga menentukan nasib mereka di Pemilu 2019 yang akan datang. Tahun 2019 adalah pertarungan terakhir bagi partai-partai, calon presiden dan pasangannya. Jika menang akan berkuasa. Dan jika kalah akan tersingkir dan juga tersungkur. Menang berarti jaya. Kalah berarti mati. Mati dalam karir politik. Karena politik di kita cenderung menerapkan the winner takes all. Yang menang ambil semua jabatan dan posisi. Dan yang kalah diinjak dan disingkirkan.

Kemenangan partai-partai dalam mendukung calon kepala daerah juga menjadi faktor penentu kemenangan partai di Pileg nanti. Dan siapa yang terpilih menjadi kepala daerah juga akan menentukan siapa pemenang Pileg dan Pilpres nanti. Partai-partai politik yang calon kepala daerahnya menang akan memiliki sumberdaya kekuatan yang cukup untuk bertarung di Pileg karena didukung oleh kepala daerah yang menang yang memiliki banyak sumber daya.

Begitu juga dengan Capres dan Cawapres yang mendukung kepala daerah tertentu. Dan kepala daerah tersebut sukses memenangkan Pilkada, maka akan berdampak positif untuk kemenangan Capres dan Cawapres yang mendukungnya. Capres dan Cawapres sangat membutuhkan kepala daerah, karena kepala daerah sangat berperan besar untuk kemenangan bagi siapapun yang bertarung di Pilpres nanti.

Pilkada serentak kemarin sangat menguntungkan Jokowi sang incumbent. Karena partai-partai koalisi pendukung Jokowi banyak menang di lima provinsi strategis dengan pemilih gemuk. Kepala daerah terpilih di Jabar dan Jateng sudah pasti akan mendukung Jokowi. Karena didukung oleh partai koalisi Jokowi. Begitu juga dengan Khofifah di Jawa Timur, walaupun didukung Demokrat, Khofifah dengan jelas kepada media mengatakan bahwa dia akan mendukung Jokowi di Pilpres 2019 nanti.

Sulsel juga yang dimenangkan oleh pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudarman Sulaiman kemungkinan juga akan lari dan mendukung Jokowi. Karena pasangan ini didukung oleh PDIP, PKS, dan PAN. Dan yang terakhir adalah Sumut, mungkin hanya Sumut yang bisa mendukung Prabowo, namun itu pun akan terpolarisasi, mengingat pasangan Edy Ramayadi-Musa Rajekshah didukung oleh Gerindra, PKS, Golkar, PAN, Nasdem, dan Hanura.

Namun harus diingat. Melejitnya suara Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang didukung oleh Gerindra, PKS, dan PAN yang menempel Ridwan Kamil-UU. Juga mengalahkan Dua Dedi merupakan prestasi yang luar biasa. Melejitnya suara Sudrajat-Ahmad Syaikhu karena peran besar Prabowo yang turun langsung menyapa warga Jawa Barat untuk memenangkan pasangan tersebut. Karena bagaimanapun masyarakat Jawa Barat masih mencintai sosok Prabowo.

Begitu juga di Jawa Tengah, walaupun pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah kalah oleh Ganjar Pranowo dan Taj Yasin, namun meningkat suara Sudirman Said-Ida Fauziah yang menempel incumbent harus diwaspadai. Karena bisa saja suara Sudirman Said-Ida Fauziah yang tinggi tersebut disumbangkan untuk Prabowo di Pilpres nanti.

Pilkada serentak tahun 2018 telah usai. Mari kita berjabat tangan. Dan mari kita menyongsong Pileg dan Pilpres 2019 dengan hati bersih dan pikiran jernih. Jokowi atau Prabowo. Atau tokoh lainnya itu terserah Anda.

 

 

Sumber : AKURAT.CO

Most Popular

Recent Comments