Friday, September 24, 2021
Home ENERGI UMUM PLN Siap Lakukan Sekuritisasi sebagai Sumber Baru Pendanaan Investasi

PLN Siap Lakukan Sekuritisasi sebagai Sumber Baru Pendanaan Investasi

Kebutuhan pada ketersediaan pasokan listrik yang memadai maka mendorong pertumbuhan industri kecil, menengah maupun besar, demikian juga berbagai fasilitas bisnis bisa tumbuh apabila tersedia pasokan listrik memadai.

Untuk itu PLN sebagai perusahaan milik negara mendapat penugasan dari pemerintah untuk membangun infratruktur ketenagalistrikan di seluruh wilayah Indonesia. Tentu membutuhkan dukungan dana besar. Namun dana ini tidak hanya berasal dari PLN, tetapi juga dari pihak lain.

Saat ini PLN sudah memperoleh pendanaan melalui beberapa model, seperti obligasi, pinjaman bank, penerusan pinjaman atau Subsidiary Loan Agreement (SLA), dan pinjaman dengan export credit agency (ECA).

Namun karena terkendala Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) Perbankan dan sumber-sumber pendanaan nasional, maka PLN berinovasi mencari alternatif pendanaan lain.

Salah satu alternatif pendanaan tersebut adalah mentransformasi aset finansial menjadi efek yang disekuritisasi. Ini dikarenakan model-model pendanaan yang sudah ada memiliki keterbatasan, sehingga PLN perlu memperluas sumber pendanaan.
“Salah satu alternatif sumber pendanaan terkini yang dimanfaatkan PLN adalah melakukan sekuritisasi aset atau Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA),” jelas Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto, dalam acara buka puasa Senin (12/6) di Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta.

Dana yang diperoleh dari sekuritisasi EBA ini akan digunakan untuk membangun proyek infrastruktur kelistrikan Indonesia.

”Kita rencanakan tenor lima tahun untuk sekuritisasi aset ini,” kata Sarwono.

Lebih jelasnya, rencana sekuritisasi atau EBA yang dilakukan PLN dengan cara menkonversi pendapatan di masa depan menjadi surat berharga untuk mendapatkan cash di awal.

Dalam kepentingan PLN menghadirkan ketersediaan pasokan listrik yang memadai, maka yang dijadikan dasar sekuritisasi adalah future cash flow dari pendapatan PT Indonesia Power yang merupakan anak perusahaan PLN di bidang pembangkitan listrik.

Aset yang disekuritisasi merupakan aset keuangan berupa piutang yang akan diterima PT Indonesia Power atas perjanjian jual beli listrik dengan perusahaan induknya yaitu PLN. Di mana PT Indonesia Power sedang membutuhkan pencairan dana piutangnya untuk digunakan sebagai investasi salah satu pembangkit PT Indonesia Power yaitu Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya.

PLTU ini memiliki kapasitas 3.400 Mega Watt (MW) dan berkontribusi sekitar 12 persen untuk kebutuhan listrik Jawa-Bali. PLTU Suralaya adalah PLTU terbesar di Indonesia yang merupakan aset sangat bagus dan terawat. Masa pemanfaatan PLTU Suralaya masih 20 tahun lagi dan memiliki performance operasi yang luar biasa. Sehingga diperkirakan revenue stream PLN per tahun sekitar Rp 300 triliun.

Hal ini akan menjadi jaminan/quarantee dari kontrak investasi yang sebagiannya berasal dari prepaid dari pelanggan sebesar 12 persen.

Sarwono Sudarto lebih lanjut menjelaskan, bahwa dalam satu tahun penerimaan transaksi listrik PLTU Suralaya sebesar Rp 12 triliun yang terbagi atas beberapa komponen, yaitu Pengembalian Investasi; Pemeliharaan; Bahan Bakar; dan Pelumas, Kimia, Air, dan lain sebagainya.

Komponen Pengembalian Investasi adalah yang menjadi pengembalian dari pinjaman dari KIK-EBA ini. Dalam kontrak PPA ini, nantinya akan mendapatkan Rp 2,5 triliun per tahun dari hasil penjualan sebesar Rp 12 triliun tersebut.

”Sangatlah tepat bagi para investor untuk berinvestasi pada struktur EBA ini, karena memiliki tingkat risiko yang jauh lebih rendah, mesin pembangkitnya sudah tersedia dan jaminan transaksi jual belinya sudah pasti oleh PLN, di mana dalam jangka waktu lima tahun ke depan sebesar Rp 10 triliun akan dikembalikan dalam bentuk PPA/kontrak jangka panjang yang sudah pasti,” ujar Sarwono.

Dengan sumber pendanaan sekuritisasi ini maka Sarwono menegaskan bahwa tidak ada aset tetap PLN yang dijual dalam sekuritisasi aset. Aset pembangkit masih menjadi milik Indonesia Power dan tetap dicatat di buku konsolidasi PLN sebagai induk perusahaan, dengan kata lain tidak terjadi perpindahan aset tetap.

Begitu pun dengan kepemilikan saham, dengan sekuritisasi aset ini tidak ada pengalihan saham atau pun privatisasi.

”Pemerintah tetap sebagai pemilik saham PLN seratus persen. Dan PLN pun tetap sebagai pemilik saham Indonesia Power,” tegas Sarwono.

 

Sumber : PLN Siap Lakukan Sekuritisasi sebagai Sumber Baru Pendanaan Investasi
PLN Siap Lakukan Sekuritisasi sebagai Sumber Baru Pendanaan Investasi
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments