Saturday, October 16, 2021
Home Nasional Proyek 35.000 MW Masih Terkendala Transportasi dan Komunikasi

Proyek 35.000 MW Masih Terkendala Transportasi dan Komunikasi

Pemerintah telah berkomitmen untuk merealisasikan penyediaan listrik sebesar 35.000 Megawatt (MW) dalam jangka waktu 5 tahun (2014-2019). Sepanjang 5 tahun ke depan, pemerintah bersama PLN dan swasta akan membangun 109 pembangkit, masing-masing terdiri 35 proyek oleh PLN dengan total kapasitas 10.681 MW dan 74 proyek oleh swasta/Independent Power Producer (IPP) dengan total kapasitas 25.904 MW.

Program 35.000 MW adalah proyek pemerintah untuk membangun pembangkit listrik mencapai 35.000 Megawatt hingga 20019. Program 35.000 MW ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Hal ini tentu akan berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi di luar Jawa, yang sebelumnya kekurangan suplai listrik.

Menurut Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua, Haryanto WS, wilayah timur Indonesia khususnya Maluku dan Papua mendapat perhatian yang luar biasa. Hal ini sesuai dengan visi-misi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tertuang dalam Nawacita.

 

“Sudah masuk bulan ke 4 tahun 2017 ini, saya perlu sampaikan bahwa sesuai dengan visi-visi pemerintah dalam Nawacita sesuai instruksi Presiden, maka daerah timur khususnya Maluku dan Papua mendapat perhatian yang luar biasa dalam rangka memperlebar dan meratakan pembangunan khususnya di daerah Papua dan Maluku. Seperti diketahui, bahwa sampai saat ini hasil verifikasi di Papua dan Maluku masih yang terendah, Papua dan Papua Barat masih 54 persen,” ujar Haryanto, di Jakarta, Selasa (25/4).

Mengenai keseluruhan target yang akan dicapai, Haryanto memberi contoh di Jayapura dalam penggarapan 50 Megawatt (MW) yang akan selesai pada September. Ia juga mengaku optimis proyek ini bisa diselesaikan dalam waktu beberapa bulan mendatang.

“Jadi untuk di Jayapura ini sudah 50 persen progress-nya, kemudian di Ternate dan Nabire baru sekitar 20 persen. Kita masih optimis pembangunan pembangkit ini bisa ontime termasuk PLTU STP I kita akan selesaikan dalam 1-2 bulan ini. Target semua akan selesai dengan RUPTL kita akan selesaikan program 35.000 MW pada 2019, kurang lebih 1000 Megawatt,” jelas Haryanto.

Dalam hal ini, Haryanto menjelaskan bahwasanya potensi yang dikembangkan masih banyak, sekitar 50 persen. Saat ini, sedang dilakukan letter of intent untuk proses pengadaan PLTMG (Pusat Listrik Tenaga Mesin Gas) di lokasi tersebar di kota-kota besar. Di lain sisi, hal ini ditunjang dengan persiapan Papua sebagai tuan rumah PON (Pekan Olahraga Nasional) pada 2020 mendatang.

“Ini kita juga sedang membahas dengan pemerintah daerah Papua Barat, dibantu dengan Kementerian Ekonomi untuk mengatur suplai gas ke pembangkit-pembangkit yang akan dibangun ini, dengan quickwin ada 7 pembangkit yang kita bisa harapkan bisa segera direalisasikan pada 2018 nanti. Jadi 20 mmcfd (mmbtu) itu 100 Megawatt,” tambahnya.

Untuk proyek IPP (Independent Power Producer), Haryanto mengklaim ada beberapa IPP yang sudah di terminasi lantaran tidak ada progress. Seperti di wilayah Sorong, Biak serta Jayapura. Untuk IPP di wilayah Nabire 2×7, dan di Manokwari 2×7. Untuk wilayah lainnya akan komit untuk membangun pembangkit di sana.

Mengenai kendala di lapangan, Haryanto mengatakan bahwa hal tersebut tetap ada. Namun, ia yakin kendala tersebut akan bisa diatasi dengan dukungan dari semua pihak.

“Ya kalau kendala banyak, salah satunya soal transportasi dan komunikasi. Tapi saya kira dengan dukungan semua pihak termasuk masyarakat secara bertahap segala kendala akan bisa kita atasi, termasuk program pemerintah untuk membuka daerah isolasi dengan jalan trans Papua. Juga program Kementerian Kominfo dengan palaparing timur ini akan membantu balanced,” pungkas Haryanto.

@jitunews http://jitunews.com/read/57481/proyek-35-000-mw-masih-terkendala-transportasi-dan-komunikasi#ixzz4fKZ3d6qN

Most Popular

Recent Comments