SBY dan Ani Yudhoyono Merasa Terhina dengan Ucapan Agum Gumelar

0
35

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) bereaksi atas tuduhan Wantimpres Jokowi, Agum Gumelar terkait hasil sidang DKP terhadap Prabowo Subianto dalam kasus penculikan aktivis 1998. SBY jawab tuduhan tidak memiliki pendirian oleh Agum Gumelar karena dukung Prabowo diPilpres 2019.

SBY heran, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Agum menyerang dan mendiskreditkan dirinya. Termasuk istrinya, Ani Yudhoyono yang tengah sakit di Singapura merasa tidak terima dengan tuduhan tersebut.

“Nampaknya Ibu Ani merasa tidak ‘happy’ dengan kata-kata Pak Agum yang menghina saya sebagai tidak punya prinsip,” kata SBY dalam siaran pers, Jumat (15/3).

Ani merasa sedih dengan tuduhan itu. SBY pun ikut sedih, terlebih saat ini istrinya sedang berjuang untuk melawan dan mengalahkan kanker darah.

SBY mengatakan bersama Ani siang dan malam, sedang berusaha untuk menjaga semangat dan kesabaran, agar tetap kuat menghadapi serangan kanker itu. Tentu, sebagai pendamping setia Ibu Ani, dia sedih kalau ada berita yang justru menggangu hati dan pikirannya.

“Ternyata yang membuat Ibu Ani sedih adalah karena kami merasa selama ini hubungan keluarga Pak Agum dengan keluarga kami baik. Bahkan, di samping Ibu Linda pernah bersama-sama mengemban tugas di pemerintahan selama 5 tahun, Ibu Ani juga sangat sayang kepada Ibu Linda Gumelar,” jelas SBY.

Namun, SBY tetap meyakinkan Ani bahwa Agum menyampaikan kata-kata tak baik itu karena hampir pasti tidak tahu dilema dan persoalan Partai Demokrat hadapi dalam pilpres 2019 ini.

Dia yakin Agum tak akan berkata begitu jika tahu persoalan. Kecuali kalau Agum memang tidak suka dan benci dengan dirinya.

“Tentu saja saya sangat bisa menjawab & melawan pembunuhan karakter dari Pak Agum Gumelar terhadap saya tersebut. Tetapi tidak perlu saya lakukan, karena saya pikir tidak tepat dan tidak bijaksana. Saya malu kalau harus bertengkar di depan publik. Apalagi saat ini situasi sosial dan politik makin panas,” kata Presiden keenam RI itu.

SBY mengibaratkan, bagai jerami kering di tengah musim kemarau yang ekstrim dan panjang. Yang diperlukan bukanlah api, tetapi sesuatu yang meneduhkan dan menyejukkan.

Apalagi polarisasi dalam kontestasi pilpres kali ini boleh dikatakan lebih keras dan ekstrim, ditambah jarak yang makin menganga antar identitas dan kelompok politik.

“Terus terang saya khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan di negeri ini, kalau kita semua, utamanya para pemimpin dan elite tidak pandai dan tidak arif dalam mengelolanya,” jelas SBY lagi.

SBY meyakini, meskipun sebagai anggota Wantimpres, Agum Gumelar sangat dekat dengan Jokowi, salah satu capres, belum tentu tuduhan Agum itu sepengetahuan atau apalagi atas permintaan Capres Jokowi.

“Sebab, di antara kami, Pak Jokowi dan saya, berada dalam sikap dan posisi untuk saling menghormati. Secara sosial dan politik, sikap kami ini tentunya baik agar situasi nasional tetap teduh. Secara moralpun memang harus demikian,” tambah SBY lagi.

SBY meminta kepada para kader Demokrat, yang selama ini aktif berinteraksi dengan Ani di media sosial, agar untuk sementara tidak mengabarkan berita-berita yang mengganggu hati dan pikiran istrinya.

Dia mengatakan, Ani tidak ingin hidup menyendiri, apalagi merasa terasing lantaran menderita ‘blood cancer’. Ani ingin tetap berkomunikasi dengan para sahabat.

“Namun, sekali lagi, tolong ikut menjaga hati dan perasaan Ibu Ani dengan cara membatasi penyampaian berita atau isu yang bisa menambah beban pikirannya,” tutup SBY.

Sebelumnya, dalam video yang beredar luas, Agum Gumelar mengungkap sidang Dewan Kehormatan Perwira (DKP) dalam kasus penculikan. Agum mengatakan, Prabowo dipecat karena melanggar HAM berat.

Keputusan itu diteken langsung oleh anggota DKP yang di dalamnya ada SBY. Dia pun heran dengan keputusan SBY membawa Demokrat mendukung Prabowo.

“Walaupun sekarang ini saya jadi heran, ini yang nanda tangan rekomendasi kok malah mendukung, ah itu. Nggak punya prinsip itu orang,” kata Agum Gumelar. [rnd]

 

Sumber : Merdeka.com

Comments

comments