Wednesday, August 4, 2021
Home Nasional 'Sebelas dua belas' nasib Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil di Pilgub Jabar

‘Sebelas dua belas’ nasib Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil di Pilgub Jabar

Peta politik di Jawa Barat setahun menjelang pemilihan gubernur dan wakil gubernur kian menarik. Terlebih setelah Partai Gerindra, PAN, dan PKS sepakat berkoalisi mengusung Letjen (purn) Sudrajat dan Ahmad Syaikhu.

Keputusan ketiga parpol tersebut kian mengerucutkan nama selama ini digadang-gadang maju dalam Pilgub Jabar. Mereka adalah Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

Khusus Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil memiliki nasib hampir serupa dalam niatnya mengikuti kontestasi Pilgub Jabar. Demiz begitu biasa Deddy Mizwar disapa sebelumnya selalu dikaitkan dengan Demokrat, PAN dan PKS untuk diduetkan dengan wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu hingga menelurkan Koalisi Zaman Now.

Namun asa Demiz pupus setelah PAN dan PKS sepakat berkoalisi dengan Gerindra mengusung Sudrajat dan Ahmad Syaikhu. Dukungan itu gagal diraih setelah Demiz memutuskan memilih jadi kader Partai Demokrat.

Demiz menganggap santai manuver yang dilakukan PKS dan PAN merapat ke Gerindra. Ia menilai, hal itu merupakan bagian dari dinamika politik.

Dia tidak merasa ditinggalkan oleh PKS dan PAN yang sebelumnya menyatakan akan mengusung dirinya. Semua pihak juga menyadari bahwa setiap keputusan bisa berubah.

“Biasa saja, tidak ada yang mengejutkan. Yang pasti saya menghargai setiap kepentingan partai,” katanya saat ditemui di rumah dinasnya, Jalan Ciumbuleuit, Kota Bandung, Kamis (28/12).

Akan tetapi harapan Demiz untuk memimpin tanah sunda kembali muncul setelah Partai Demokrat mencoba membangun koalisi dengan Golkar. Kedua parpol mewacanakan menduetkan Dedi Mulyadi dan Deddy Mizwar.

Partai berlambang mercy dan pohon beringin menamakannya dengan Koalisi Sejajar. Mereka masih membuka diri untuk partai lain yang ingin bergabung.

“Alhamdulillah setelah salat ashar, terjadi komunikasi antara Demokrat dengan Golkar, intinya kami punya satu kesepahaman dalam pilgub jabar 2018. Akhirnya, kami sepakat untuk bersama mengarungi perpolitikan di Jabar,” kata Ketua DPD Demokrat Jabar, Irfan Suryanegara dan Ketua DPD Jabar, Dedi Mulyadi di kawasan Pasteur, Kota Bandung, Rabu (27/12) malam.

Di tempat sama, Ketua DPD Golkar Jabar Dedi Mulyadi menambahkan, koalisi sejajar mempunyai filosofi bahwa dalam kerja sama yang terjalin tidak ada posisi lebih tinggi atau rendah. Menurutnya, Partai Golkar dekat dengan semua partai, termasuk Demokrat. Komunikasi pun sudah terjalin sejak lama. Hingga akhirnya, tercapai kesepakatan untuk membangun koalisi sejajar.

“Semuanya punya hak yang sama. Sama-sama ingin membangun Jabar ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Pembahasan pun akan dilakukan mengenai calon yang akan diusung. Kedua partai perlu mengetahui setiap kelebihan dan kekurangan dari nama yang akan diduetkan di Pilgub Jabar.

Nasib Ridwan Kamil di Pilgub Jabar ‘sebelas dua belas’ seperti dialami Demiz. Kang Emil begitu Ridwan Kamil disapa sebelumnya didukung Golkar sebelum memilih Dedi Mulyadi. Keputusan mencabut dukungan tak lepas dari pergolakan di tubuh Golkar hingga posisi Setya Novanto sebagai ketua umum lengser setelah terseret kasus korupsi e-KTP. Posisi Setya Novanto digantikan Airlangga Hartarto.

Akan tetapi nasib Kang Emil lebih baik setelah NasDem, PPP dan PKB tak mencabut dukungannya. Bahkan suara terhadap sang arsitek semakin gemuk setelah Partai Hanura menyatakan memberikan dukungan.

“Hanura sudah secara resmi mendukung Ridwan Kamil di Jawa Barat,” ujar Ketua Tim Pilkada Partai Hanura, Hari Untung Siregar saat dikonfirmasi, Kamis (28/12).

Dukungan terhadap Kang Emil kemungkinan bisa bertambah setelah PDIP memiliki opsi merapatkan barisan. Wasekjen PDIP Eriko Sutarduga mengatakan, partainya menyiapkan tiga opsi.

Pertama, PDIP akan berjuang sendiri dan mengusung skenario pasangan kader internal dengan internal atau kader internal dengan eksternal. Nama-nama kader internal yang dilirik diantaranya Ketua DPD Jawa Barat, TB Hasanuddin, Puti Guntur Soekarnoputra, Bupati Majalengka Sutrisno hingga Rieke Diah Pitaloka.

Sementara di kalangan eksternal, ada nama Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa, Wakalemdikpol Anton Charliyan. Eriko menyebut opsi kedua yakni berkomunikasi dengan PPP, PKB dan Hanura untuk membicarakan kemungkinan koalisi sekaligus menentukan cagub Jabar baru.

Atau, opsi terakhir, kata Eriko adalah membuka peluang kembali mendukung Ridwan Kamil bersama PPP, PKB dan NasDem. Eriko menuturkan, opsi ini terbuka jika Emil sapaan Ridwan Kamil belum menentukan calon wakilnya.

Meski demikian, lanjut Eriko, saat ini partainya belum menjalin komunikasi dengan PKB, PPP, NasDem, Hanura hingga Golkar. PDIP masih mengevaluasi dinamika di Jabar dan membuka diri bagi partai lain yang ingin bergabung.

“Kami membuka diri bila mana RK melakukan komunikasi dengan kita. Karena dengan PPP, PKB belum ada kepastian masalah wakil,” kata Eriko saat dihubungi, Kamis (28/12). [gil]

Most Popular

Recent Comments