Seperti Ini Kondisi Tumpukan Sampah di Kampung Bengek Jakarta Utara

0
20

Sampah masih menjadi masalah di Jakarta. Seperti halnya di Kampung Bengek, Penjaringan Utara yang videonya sempat tersebar di media sosial.

Dari video yang beredar tampak sejumlah rumah panggung dengan bahan tripleks dan kayu-kayu gelondongan berdiri di atas tumpukan sampah. Bahkan, sampah itupun sampai menutup jalan menuju rumah-rumah warga.

Tak hanya sampah plastik, kasur bekas hingga limbah rumah tangga terkumpul menjadi satu. Kendati begitu, warga yang tinggal di rumah panggung itu terlihat tidak terganggu dengan adanya tumpukan sampah.

Mereka masih beraktivitas dan bercengkrama satu sama lain. Rumah panggung yang ditinggali rata-rata tak berukuran besar dan saling berdempetan.

Saat meminta konfirmasi, Kasudin Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Slamet Riyadi menyatakan rumah-rumah panggung tersebut berdiri di atas tanah aset milik salah satu perusahaan BUMN.

Dia menyebut kawasan tersebut memiliki penjagaan dari petugas keamanan dari pemilik perusahaan. Setelah video tersebut ramai di masyarakat, petugas Penanganan Prasaran dan Sarana Umum (PPSU) dari kelurahan dan kecamatan mulai dikerahkan ke lokasi.

“Kita memang agak susah masuk ke dalamnya, selama ini kita tidak diperkenankan masuk ke aset dia (BUMN). Kita mencoba datang ke lokasi izin, baru kita bisa angkut sampah yang ada di dalam,” kata Slamet kepada Liputan6.com, Minggu (1/9/2019).

Kegiatan pembersihan tumpukan sampah pun baru terlaksana selama dua hari, yakni Sabtu (31/9/2019) dan Minggu (1/9/2019).

Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup (Satpel LH) Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Matsani menyatakan selama dua hari pembersihan sampah pun telah terangkut sebanyak empat truk dan sejumlah mobil bak.

“Kalau Sabtu itu dua truk, empat germor (milik PPSU) dan dua hilux dari kelurahan. Hari ini juga dua truk,” ucapnya.

Akan tetapi, pembersihan itu belum mencakup sebagian sampah yang ada. Sebab, sampah tersebut telah menumpuk dari beberapa tahun yang lalu.

Bila ingin cepat selesai, dia menyarankan agar menggunakan alat berat. Namun, penggunaan alat tersebut harus berdasarkan izin dari perusahaan BUMN sebagai pemilik tanah.

“Sebenarnya tanah di situ (tumpukan sampah) itu sudah dipelur (disemen), karena di situ ada hunian jadi pada buang sampah ke situ. Tanah pelur kalau musim air berhenti di situ jadi tergenang,” jelasnya.

Sumber : Merdeka.com