Wednesday, October 27, 2021
Home ENERGI UMUM Soal Skema Gross Split, Ekonom: Contohlah India

Soal Skema Gross Split, Ekonom: Contohlah India

Peraturan mengenai bagi hasil industri migas baru, yaitu dengan Skema Gross Split, sudah diterbitkan sejak awal tahun ini. Meski begitu, nyatanya hingga kini masih banyak pelaku usaha terutama Kontraktor Kontrak Kerja sama (KKKS) yang belum tertarik untuk menerapkannya.

Menurut Ekonom, Faisal Basri, harga minyak mentah dunia yang semakin murah akan membuat para pelaku usaha atau kontraktor melihat Skema Gross Split ini tidak menarik.

“Yang dicari sama perusahaan itu kan laba, laba itu kan dari revenue dikurangi cost. Kalau harga turun, laba turun, lebih ngga menarik. Kalau PSC kan ongkos ditanggung sama pemerintah, jadi perusahaan udah ngga ngurusin kan sudah cost recovery,” ujar Faisal saat berbincang santai dengan Jitunews.com di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Kamis (8/6).

Sebagai bukti bahwa Skema Gross Split tidak menarik, Faisal mencontohkan seperti apa yang dianalisa oleh Wood McKenzie. Dalam analisanya, McKenzie menjelaskan bahwa Skema Gross Split ini jauh tidak menarik ketimbang cost recovery. Untuk itu, Faisal meminta pemerintah untuk membuat kajian baru.

“Ayo dong pemerintah bikin kajian baru, kajian pemerintah soal gross split ini nggak reliable. Wood Mckenzie ini lembaga independen, ngga bisa dicampur aduk dengan pemerintah. Kalau pemerintah tidak setuju dengan apa yang dilakukan Wood Mckenzie, bikinlah kajian yang benar,” terangnya.

Dalam hal ini, Faisal memberikan contoh negara India yang melakukan skema gross split, dimana India berani memberikan prosentase pembagian 5-95%, 5% masuk ke dalam penerimaan negara dan 95% untuk kontraktor.

“Janganlah bandingkan antara skema cost recovery dengan skema gross split ini, bandingkan dengan negara lain. Memangnya gas hanya ada di indonesia doang, dari sini saja udah kalah. Kalau cuma pembagian 57-43 atau 58-42, ini terlalu kecil. India berani 95%, meski saya tidak yakin pemerintah mau adopsi cara ini,” cetusnya.

“Belum lagi migas di Indonesia makin banyak ke timur, ke laut dalam dengan resiko yang tinggi. Makin tidak menarik saja skema ini,” tambahnya.

Di sisi lain, Faisal menyoroti akan perubahan paradigma yang terjadi dalam sektor migas, dimana sektor migas ini bukan sebagai penerimaan negara melainkan sebagai ujung tombak pembangunan atau industrinisasi.

“Justru ini itu memastikan penerimaan negara kok, ujungnya penerimaan negara juga. India itu enggak ngurusin soal gross split-nya, enggak ngutak-ngatik. Justru dengan ini maka perusahaan lain akan datang banyak, produksi naik, laba naik, ngambilnya dari laba pajak perusahaan. Emang perusahaan peduli kayak gini-gini tuh, enggak ada urusan. Yang penting itu perusahaan untung IRR nya berapa, ini yang ditentukan,” pungkasnya.

 
Sumber : Soal Skema Gross Split, Ekonom: Contohlah India
Soal Skema Gross Split, Ekonom: Contohlah India
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments