Tuesday, November 30, 2021
Home LAPORAN KHUSUS Soekitman, Seorang Polisi yang Menjadi Saksi Kekejaman Peristiwa G30S/PKI

Soekitman, Seorang Polisi yang Menjadi Saksi Kekejaman Peristiwa G30S/PKI

Seorang polisi berpangkat Agen Polisi Dua, Soekitman, menjadi saksi sejarah dari peristiwa G30S/PKI. Dilansir dari Intisari, ia menceritakan pengalamannya yang hampir menjadi korban.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 03.00 WIB, Soekitman yang waktu itu berpangkat Agen Polisi Dua sedang menjalankan tugasnya di Seksi Vm Kebayoran Baru yang berlokasi di Wisma AURI di Jl. Iskandarsyah, Jakarta bersama Sutarso.

“Waktu itu polisi naik sepeda. Sedangkan untuk melakukan patroli, kadang-kadang kami cukup dengan berjalan kaki saja, karena radius yang harus dikuasai adalah sekitar 200 m,” katanya.

 

Saat sedang bertugas, ia mendengar suara rentetan tembakan yang dirasa tidak jauh dari posnya. Soekitman kemudian bergegas mengendarai sepedanya dan mencari sumber tembakan itu. Sementara temannya tetap melakukan tugasnya untuk berjaga. Waktu itu, Soekitman berpikir terjadi perampokan.

Ternyata suara tembakan tersebut berasal dari rumah Jenderal D.I. Panjaitan yang terletak di Jl. Sultan Hasanudin, di sana sudah banyak pasukan bergerombol.

Belum tahu apa yang terjadi di situ, ia kemudian dikejutkan oleh teriakan tentara berseragam loreng dan berbaret merah yang mencegatnya.

“Turun! Lempar senjata dan angkat tangan!” perintah tentara tersebut.

Soekitman kemudian menurut. Dengan diancam senjata kiri-kanan, Soekitman kemudian diseret dan dilemparkan ke dalam truk dengan keadaan tangan terikat dan mata tertutup. Ia merasa ditempatkan di samping sopir.

Tapi saya tetap masih belum bisa menduga apa yang terjadi,” katanya.

Hanya dengan mengandalkan daya ingat, Soekitman berupaya mencari tahu ke mana dirinya akan dibawa. Begitu dari Cawang belok ke kanan, Soekitman mulai kehilangan orientasi, dirinya hanya bisa pasrah dan berdoa.

“Pokoknya, saya pasrah kepada Tuhan sambil berdoa,” katanya.

Saat kendaraan yang membawanya berhenti, dirinya kemudian diturunkan dan penutup matanya langsung dibuka.

“Tentu saja saya jalangjang-jalongjong, karena dari keadaan gelap saya langsung dihadapkan kepada terang.”

Pada saat itu, dia mendengar orang bicara “Yani wes dipateni (Yani sudah dibunuh).”

Kemudian, ada seorang tentara yang menghampirinya dan tahu bahwa sanderanya adalah seorang polisi, Soekitman kemudian diseret ke dalam tenda.

Tentara tersebut kemudian lapor kepada atasannya, “Pengawal Jenderal Panjaitan ditawan.”

Kala itu keadaan terlihat remang-remang, di dalam tenda Soekitman dapat mengamati keadaan sekelilingnya. Ada orang yang terlentang dengan banyak darah, ada juga yang duduk di kursi dengan bersimbah darah segar.

Seseorang bernama Lettu Dul Arief memerintah tentara yang melapor tadi agar Soekitman ditawan di depan rumah.

Saat hari sudah terang, dari jarak sekitar 10 meter, Soekitman bisa melihat dengan jelas sekelompok orang yang mengerumuni sebuah sumur sambil berteriak,”Ganyang kabir, ganyang kabir!” Kemudian tubuh-tubuh manusia dimasukkan ke dalam sumur tersebut, yang langsung disusul oleh berondongan peluru.

Soekitman melihat seorang tawanan yang masih hidup dengan pangkat bintang dua di pundaknya mampir sejenak ke tempatnya ditawan.

“Setelah tutup matanya dibuka dan ikatannya dibebaskan, di bawah todongan senjata, sandera itu dipaksa untuk menandatangani sesuatu. Tapi kelihatannya ia menolak dan memberontak. Orang itu diikat kembali, matanya ditutup lagi, dan diseret dan langsung dilemparkan ke dalam sumur yang dikelilingi manusia haus darah itu dalam posisi kepala di bawah,” ucapnya.

Soekitman melihat berbagai kekejaman di depan matanya, sampai orang-orang buas tersebut mengangkuti sampah untuk menutupi sumur tempat memendam para korbannya. Di atas sumur kemudian ditancapkan pohon pisang. Diharapkan dengan cara begitu perbuatan kejam mereka sulit dilacak.

“Setiap habis memberondongkan pelurunya, jika akan membersihkan senjatanya, para pembunuh yang menamakan dirinya sukarelawan dan sukarelawati itu pasti melewati tempat saya ditawan,” lanjutnya.

Soekitman bisa melihat jelas siapa saja yang terlibat di peristiwa yang meminta korban nyawa 7 Pahlawan Revolusi. Ia juga sempat melihat Letkol Untung, yang memimpin kejadian kelam dalam sejarah militer di Indonesia.

Salah satu anggota Cakrabirawa menghampiri Soekitman yang masih merasa ketakutan.

“Kamu tidak usah takut. Kita sama-sama prajurit. Beli kaus singlet pun kita tidak bisa. Sementara para jenderal yang menamakan diri Dewan Jenderal, jam dinding di rumahnya saja terbuat dari emas dan mereka akan membunuh Presiden pada tanggal 5 Oktober. Kamu ‘kan tahu Cakrabirawa tugasnya adalah sebagai pengawal dan penjaga Presiden,” kata Sukitman mengulangi apa yang diucapkan si anggota Cakra tersebut.

Waktu itu Soekitman merasa lebih tenang meskipun ia masih tetap diawasi. Ternyata anggota Cakra itu sudah di-drill, karena langsung berada di bawah komando Letkol Untung.

Sekitar satu-dua jam kemudian terdengar siaran radio yang mengumumkan siapa yang mendukung G30S akan dinaikkan pangkatnya. Satu tingkat untuk prajurit, sementara yang aktif akan memperoleh kenaikan dua tingkat. Mereka yang merasa terlibat kemudian bersalam-salaman, karena merasa gerakan mereka sukses.

Saat suasana lebih tenang, Soekitman kemudian dipanggil oleh Lettu Dul Arief yang menanyakan di mana senjata milik Soekitman. Soekitman kemudian menceritakan apa yang terjadi ketika ia berada di daerah Kebayoran. Akhirnya senjata tersebut bisa ditemukan dalam keadaan patah.

Merasa Soekitman bukan musuh tapi teman senasib, pada Jumat sore itu Soekitman diajak menuju Halim bersama iring-iringan pasukan.

Sesampainya di Gedung Penas (daerah Bypass, sekarang Jl. Jend A. Yani) pasukan diturunkan di lapangan, sementara Soekitman masih bersama Dul Arief. Pada malam harinya orang yang mengawasi tawanan malah mengajak Soekitman untuk mengambil nasi.

Sempat Soekitman menanyakan dirinya mau diajak ke mana.

“Ke Lubang Buaya, tempat para jenderal dibunuh,” jawab Kopral Iskak.

“Pada waktu itulah saya baru tahu bahwa yang dikatakan ‘Ganyang kabir, ganyang kabir!’ itu para jenderal,” ungkap Soekitman.

Selesai mengambil nasi, mereka segera kembali ke Gedung Penas untuk membagikan kepada para pasukan.

“Ketika kembali menuju Gedung Penas itu saya sempat turun untuk membeli rokok. Saya pikir mendingan saya terus pulang saja,” kata Soekitman.

Namun niatan tersebut dilarang oleh Kopral Iskak yang menjadi sopir, dengan alasan dirinya juga pulang ke Tanah Abang. Ternyata Iskak adalah sopir Letkol Untung.

Soekitman akhirnya tertidur dan baru bangun esok harinya. Siang harinya, pasukan semakin banyak dan sudah berganti pakaian.

“Tapi kesempatan untuk melarikan diri sama sekali tidak mungkin.”

Karena merasa pusing, Soekitman kemudian masuk ke kolong truk dan berbaring, ia menggunakan helm sebagai ganjal kepala, senjatanya yang patah ia simpan di dekatnya. Kepalanya ia ikat dengan menggunakan scraft yang sebelumnya digunakan oleh para pemberontak. Ia kemudian benar-benar tertidur pulas.

“Meskipun saya mendengar bunyi tembakan gencar, entah mengapa mata saya tidak mau diajak kompromi untuk melek,” katanya.

Sore harinya saat ia terbangun, dia mendapati dirinya hanya sendirian. Semua anggota pasukan tidak kelihatan satupun, truk juga masih berjejer. Keadaan yang lengang dirasa sebagai keuntungan untuk Soekitman untuk bisa pergi.

Tiba-tiba datang pasukan tentara yang kemudian diketahui mencari jejak anggota yang terlibat G30S/PKI.

Pasukan itu mengenakan tanda pita putih. “Prinsip saya, kalau pakai pita putih itu PMI. Jadi tidak mungkin menangkap tawanan dan dibunuh.” Karena tidak ada siapa-siapa lagi selain dirinya, Soekitman pun diperiksa.

“Tanpa banyak tanya saya segera diberi pita putih dan langsung dibawa ke markas Cakrabirawa yang terletak di belakang Istana Negara, yang sekarang menjadi Gedung Binagraha.”

Kemudian Soekitman menceritakan tentang apa yang dialaminya dan kemudian dibuatkan proses verbal, hal tersebut baru selesai pukul 03.00 WIB. Setelah selesai, hal itu disebarkan ke berbagai pihak yang dianggap perlu mengetahuinya.

Minggu pagi Soekitman dijemput dan dihadapkan kepada Pangdam V Jaya yang waktu itu dijabat oleh Mayjen Umar Wirahadikusumah.

Kemudian Soekitman dibawa oleh Mayor Mubardi, ajudan Jenderal A. Yani ke Jl. Lembang, Jl. Saharjo, dan ke Cijantung. Di sana Soekitman menghadap Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.

Bersama pasukan RPKAD, Soekitman menuju lokasi pembantaian.

“Dari Pasar Hek kami harus jalan kaki dan langsung menyebar,” kenangnya.

Di lokasi, pasukan pemberontak masih banyak yang berkeliaran. Mereka segera diberi ultimatum, jika tidak menyerah akan segera dihancurkan. Akhirnya RPKAD dapat menguasai keadaan dan bisa menemukan sumur yang digunakan untuk menyembunyikan jenazah para Pahlawan Revolusi itu.

Sejak hari Minggu, pukul 22.00, Soekitman sudah berada di bawah pengawasan Sarwo Edhie. Dirinya dilarang untuk berbicara apa pun kepada orang lain.

“Karena kelelahan saya tertidur dan tidak tahu dibawa ke mana. Tahu-tahu saya sudah sampai di Jl. Merdeka Timur, melapor, dan menghadap Panglima Kostrad Mayjen Soeharto. Kemudian saya dibawa kembali ke Cijantung,” kenang Soekitman.

Pada hari Senin, jenazah para Pahlawan Revolusi berhasil diangkat dari sumur dan segera dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (sekarang RS Gatot Subroto).

Soekitman dijemput oleh pasukan dari Kodam. Namun, atas perintah Pangdam V Jaya ia kemudian diambil lagi ke Cijantung. Kemudian ia dibawa ke Kodam, Jl. Guntur, Soekitman diperiksa. Setelah itu Soekitman dibawa ke markas Cakra.

Pada hari Rabu, Soekitman baru dipulangkan. Rekan Soekitman berasa mimpi melihat temannya kembali tanpa kurang suatu apa pun, meskipun sepedanya berlumuran darah.

Soekitman yang sedang menjalankan tugas, ternyata terseret peristiwa besar bangsa ini yang membuatnya menjadi saksi sejarah. Soekitman kemudian menerima penghargaan berupa kenaikan pangkat menjadi Agen Polisi Satu.

Bintang Satria Tamtama diperolehnya bertepatan dengan Hari Bhayangkara tanggal 1 Juli 1966, dan Bintang Satya Penegak diberikan oleh Presiden Soeharto, tepat pada Hari ABRI, tanggal 5 Oktober 1966.

Pria yang lahir pada tanggal 30 Maret 1943 ini kembali menghadap sang Kuasa pada tanggal 30 September 2007.

Sumber : Soekitman, Seorang Polisi yang Menjadi Saksi Kekejaman Peristiwa G30S/PKI
Soekitman, Seorang Polisi yang Menjadi Saksi Kekejaman Peristiwa G30S/PKI
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments