Strategi Agar Indonesia Tak Terdampak Penurunan Ekonomi Global

0
56

Panel Ahli Katadata Insight Center, Wahyu Prasetyawan menilai, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh The International Monetary Fund (IMF) menjadi 3,3 persen akan berdampak terhadap Indonesia. Sebab, penurunan ini menjadi tolak ukur bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju lainnya.

“Jadi ini sebetulnya karena kondisi ekonomi global tidak bagus. Kalau misalnya ekonominya naik kan kita juga ekonominya lebih tinggi pertumbuhannya. Karena kita banyak barang jual, barang material juga antara yang digunakan kegiatan ekonomi ke China. Kalau China turun kan kita juga kena dampaknya gitu,” katanya saat ditemui di┬áJakarta, Kamis (11/4).

Wahyu mengatakan sebagai negara perekonomian yang terbuka, pertumbuhan ekonomi global yang dipangkas tentu menjadi pekerjaan berat bagi pemerintah, terutama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Namun, Indonesia bisa saja lepas dari bayang-bayang pertumbuhan ekonomi global asalkan mampu menggenjot konsumsi domestik.

“Bisa tidak Indonesia lebih tumbuh? bisa konsumsi kita yang harus digenjot. Jadi kalau konsumsi kita domestic consumption itu digenjot lebih banyak itu kita pertumbuhannya akan lebih tinggi dari itu. Tapi tidak mudah karena kita harus juga bikin kegiatan ekonomi lebih banyak,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2019 menjadi 3,3 persen dalam laporan World Economic Outlook (WEO) yang baru dirilis pada Selasa (9/4), turun 0,2 poin persentase dari estimasi pada Januari lalu di 3,5 persen.

IMF mengatakan ekonomi dunia menghadapi risiko-risiko penurunan yang disebabkan oleh ketidakpastian potensial dalam ketegangan perdagangan global yang sedang berlangsung, serta faktor-faktor spesifik negara dan sektor lainnya.

Proyeksi 3,3 persen untuk 2019 adalah 0,3 poin persentase di bawah angka 2018, dan diharapkan tumbuh kembali menjadi 3,6 persen pada 2020. Proyeksi laju pertumbuhan negara-negara maju adalah 1,8 persen untuk 2019 dan 1,7 persen untuk 2020, keduanya di bawah tingkat dua persen-plus yang tercatat dalam dua tahun sebelumnya, menurut laporan WEO.

Untuk negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang, IMF memperkirakan tingkat pertumbuhan turun menjadi 4,4 persen untuk 2019, atau 0,1 poin persentase lebih rendah dari pada 2018, dan bahwa ekspansi akan pulih ke tingkat 4,8 persen pada 2020, menyamakan hasil 2017.

 

 

Sumber : Merdeka.com

Comments

comments