Monday, October 25, 2021
Home Nasional Supir Tangki Dipecat, RDP: Pertamina Jadi Contoh Buruk!

Supir Tangki Dipecat, RDP: Pertamina Jadi Contoh Buruk!

Anggota Komisi VI DPR RI, Rieke Diah Pitaloka (RDP), mengecam Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap Awak Mobil Tangki (AMT) PT Pertamina, dengan alasan tidak lulus menjadi karyawan tetap.

Pada tanggal 26 Mei 2017 lalu, sebanyak 414 AMT Pertamina dari sejumlah depot di berbagai daerah di PHK sepihak. Ironisnya, PHK tersebut disampaikan Pertamina melalui pesan pendek SMS yang berisi ‘Anda tidak lulus menjadi karyawan tetap PT GUN (Garda Utama Nasional)’. Kemudian, pada tanggal 27 Mei 2017 hingga 30 Mei 2017 diberikan surat melalui pos dari PT GUN yang menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak lulus untuk diangkat PKWTT.

Menurut Rieke, hal tersebut bertentangan dengan keputusan Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Sudinakertrans) Jakarta Utara yang telah menerbitkan Nota Pemeriksaan pada tanggal 26 September 2016 Nomor: 4750/1838 dan tanggal 5 Mei 2017 Nomor: 1943/1838 yang menyatakan bahwa status hubungan kerja Awak Mobil Tangki (AMT) harus beralih menjadi pegawai tetap PT Pertamina Patra Niaga dan meminta hak normatif dipenuhi. Sayangnya, hal itu sama sekali tidak diindahkan Pertamina.

“Saya mengecam PHK ini. Karena bukannya melaksanakan apa yang digariskan Sudinakertrans Jakarta Utara, tapi malah mem PHK 414 orang Awak Mobil Tangki dari berbagai depo. Saya heran banyak yang sudah kerja sampai belasan tahun, tapi tetap saja outsourcing. Dan ini terjadi di BUMN kita. Dan mereka itu kan di-core bisnis, sehingga sebenarnya tidak boleh diperlakukan dengan sistem outsourcing,” beber Rieke saat konferensi pers bersama para AMT korban PHK di Pressroom DPR RI, Rabu (14/6) kemarin.

Rieke menjelaskan, AMT Pertamina tersebut sejak tahun 2004 dipekerjakan dengan status hubungan kerja Kontrak/PKWT oleh anak perusahaan BUMN Pertamina yaitu PT. Pertamina Patra Niaga. Kemudian, dialihkan menjadi tenaga outsourcing dan pemborongan melalui Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja (PPJP) PT. Cahaya Andika Tamara (PT. CAT) sejak tahun 2012, selanjutnya PT. Sapta Sarana Sejahtera (PT. SSS) per 2015, berikutnya PT Garda Utama Nasional pada tanggal 1 Maret 2017.

“Selama dipekerjakan, terjadi berbagai pelanggaran hak normatif terhadap Awak Mobil Tangki,” ujar Rieke.

Rieke merinci, sejak bulan Agustus 2011, upah lembur tidak lagi diberikan oleh PT. Pertamina Patra Niaga, sekalipun waktu kerja yang ditetapkan adalah 12 jam/hari. Selanjutnya, upah lembur dihapuskan dan diganti dengan uang performansi yang nilainya jauh lebih kecil daripada nominal upah lembur.

“Tunjangan uang transportasi dan uang natura (uang makan) yang sebelumnya pernah diberikan juga ikut dihapus,” jelas Rieke.

Selain itu, lanjut Rieke, upah AMT yang dipotong untuk iuran BPJS Kesehatan terindikasi tidak dibayarkan, sehingga tidak bisa digunakan berobat.

Oleh karena itu, Rieke menegaskan, PHK sepihak ini menunjukkan bahwa Pertamina telah memberikan contoh buruk dalam menghormati aturan ketenagakerjaan di Indonesia. Rieke juga menilai bahwa alasan mem-PHK karena tidak lulus tes hanya akal-akalan saja.

“Mengenai alasan tidak lulus tes, saya menilai ini akal-akalan saja. Karena bagaimana seorang sudah bekerja selama belasan tahun dan sudah berjasa membantu distribusi komoditi strategis, yaitu BBM kepada masyarakat di banyak wilayah kita, dianggap tidak mampu sehingga tidak lulus tes. Maka saya mendesak PT Pertamina Patra Niaga untuk mempekerjakan kembali semua AMT yang di-PHK sepihak ini. Apalagi kebutuhan untuk pendistribusian BBM sangat penting jelang arus mudik lebaran ini, dan mereka adalah orang yang berpengalaman dalam tugas tersebut,” pungkas politisi PDIP tersebut.

 

Sumber : Supir Tangki Dipecat, RDP: Pertamina Jadi Contoh Buruk!
Supir Tangki Dipecat, RDP: Pertamina Jadi Contoh Buruk!
Jitunews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments