Saturday, January 29, 2022
Home Nasional Tolak dibubarkan, pedagang sunday market Stadion Manahan geruduk balai kota Solo

Tolak dibubarkan, pedagang sunday market Stadion Manahan geruduk balai kota Solo

Ratusan pedagang sunday market Stadion Manahan mendatangi balai kota untuk menyampaikan penolakan digusur. Seiring revitalisasi Stadion Manahan, Pemerintah Kota Solo membubarkan kegiatan pasar dadakan atau sunday market yang biasanya berlangsung di halaman parkir stadion. Keberadaan para PKL dinilai membahayakan, karena ada aktivitas alat berat.

Namun hingga saat ini, Pemkot Solo belum memiliki solusi agar para PKL tetap bisa berjualan. Terakhir, Pemkot Solo berencana memindahkan mereka ke sejumlah lokasi. Seperti di area car free day dan lainnya. Namun rencana tersebut belum mendapatkan titik temu.

Tak sabar menunggu solusi yang dijanjikan, ratusan PKL menggeruduk Balai Kota Solo, Jumat (7/9) pagi. Sejumlah spanduk dan poster dibentangkan berisi penolakan penutupan Sunday Market. ‘Pikirkan Nasib Rakyat’, ‘Pak Wali, Kami PKL Butuh Makan’, ‘Kami adalah Aset Penyumbang APBD’ dan lainnya. Di depan plaza balai kota, mereka menggelar orasi.

Sebelum ke balai kota, massa berkumpul di Benteng Vastenburg sekitar pukul 08.30 WIB. Massa kemudian berjalan mengitari Bundaran Gladag hingga menuju Balai Kota Solo sambil membentangkan spanduk ‘Tolak Penutupan Sunday Market Manahan’.

“Aksi ini kami lakukan sebagai bentuk respons pedagang terhadap kebijakan pemerintah yang menutup sunday market Manahan. Kebijakan Pemkot Solo, telah membuat para pedagang resah karena selama kami menggantungkan hidup dari berjualan di sana,” ujar Ketua Serikat Pedagang Minggu Pagi Manahan (SPMPM), Yuli Desantos disela aksi.

Yuli menegaskan, para pedagang dengan tegas menolak penutupan sunday market Manahan, dan tetap ingin berjualan. Pihaknya juga menolak alternatif pemindahan PKL di CFD Jalan Slamet Riyadi, Jalan Juanda dan sekitar Benteng Vastenburg.

“Kita menolak dipindahkan ke tiga tempat itu karena waktu jualannya cuma sebentar. Kalau di Manahan bisa dari jam 05.00 sampai 11.00 WIB,” keluhnya.

Yuli mengancam akan terus melakukan unjuk rasa hingga tuntutannya itu diterima pemkot. Menurutnya, Sunday market Manahan telah menjadi ikon Kota Solo. Apalagi tempat itu tidak hanya digunakan sebagai tempat olahraga, tapi juga untuk rekreasi, wisata, dan belanja.

Ditemui di lokasi, Kepala Dinas Perdagangan, Subagiyo menyampaikan, pemindahan pedagang Sunday market Manahan dilakukan untuk mengembalikan fungsinya sebagai tempat olahraga, bukan untuk tempat berjualan. Selain itu, Sunday market merupakan tempat sementara karena pemkot belum menemukan tempat untuk memindahkan pedagang.

“Sekarang kan sudah ada lokasi baru, di Galabo, citywalk Slamet Riyadi dan Juanda. Itu lokasi yang akan kita gunakan untuk menampung pedagang Sunday Market. Lokasinya masih mencukupi,” katanya.

Kawasan Galabo misalnya, sanggup menampung sekitar 350 pedagang, citywalk Slamet Riyadi sekitar 500 pedagang dan Juanda 300-400 pedagang. Pemkot Solo, kata Subagiyo, memilih ketiga lokasi itu karena setiap Minggu pagi banyak aktivitas masyarakat bersamaan dengan aktivitas car free day (CFD).

“Kalau Minggu pagi masyarakat berkumpul di sana. Pasti akan terjadi interaksi sehingga kita harapkan mereka bisa terus beraktivitas melangsungkan penghidupannya. Ini kaitannya dengan kebijakan pemkot,” tandasnya.¬†[bal]

 

 

Sumber : Merdeka.com

Most Popular

Recent Comments