Friday, September 24, 2021
Home Dunia Turki menyongsong era baru, kekuasaan Presiden Erdogan tak terbatas

Turki menyongsong era baru, kekuasaan Presiden Erdogan tak terbatas

Rakyat Turki kini sedang menentukan masa depan negeri mereka melalui sebuah referendum yang dihelat sejak pukul 7 pagi waktu Turki, atau pukul 11.00 WIB. Mereka akan memilih untuk memperluas kekuasaan Presiden Recep Tayyip Erdogan atau tidak.

Lebih dari 160 ribu tempat pemungutan suara di seantero negeri dipenuhi ribuan pemilih. Bahkan Erdogan tidak ketinggalan untuk menjatuhkan suaranya bersama istri dan anak-anaknya di sebuah TPS ibu kota Turki, Ankara. Pengambilan suara ditutup tepat pukul 5 sore, atau pukul 9 malam di Jakarta.

Sejak upaya kudeta militer yang berakhir dengan kegagalan setahun yang lalu, partai koalisi pemerintah dengan sokongan penuh dari Partai Pembangunan dan Kesejahteraan (AKP), berusaha meloloskan konstitusi baru. Konstitusi ini terdiri atas 18 paket, yang nantinya memberikan kekuasan absolut kepada sang presiden.

Kekuasaan tersebut antara lain, hak menyusun anggaran negara, menentukan kabinet tanpa perlu persetujuan parlemen hingga mengerahkan tentara serta mengumumkan keadaan darurat. Kekuasaan ini juga menghapus jabatan perdana menteri yang diadopsi Turki sejak kudeta militer pada 1978.

Upaya untuk meloloskan aturan baru ini mendapatkan pertentangan keras dari partai oposisi. Mereka khawatir aturan baru yang diamandemen akan menyebabkan negara berubah menjadi sistem otoriterian, yang terjadi sebelum kudeta militer 1978 berlangsung.

Kekhawatiran itu bukan tanpa sebab. Usai kudeta militer yang gagal beberapa waktu lalu, ratusan ribu warga Turki ditangkap karena diduga terlibat dalam rencana menurunkan Erdogan dari jabatannya. Mereka yang ditangkap berasal dari pegawai negeri sipil, dosen, mahasiswa sampai jurnalis.

Akan tetapi, dalam survei yang dilakukan beberapa hari sebelum referendum dibuka, mayoritas warga Turki memilih ‘Ya’. Jumlahnya pun mencapai 51,5 persen, dengan tingkat kesalahan plus minus 2,4 persen.

“Ketika perkiraan ini dibuat bersamaan dengan tingkat kesalahan survei, pada hari penentuan bisa jadi berbeda,” ujar perusahaan polling, Konda, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (16/4).

Survei itu sendiri melibatkan 3.462 orang di 30 provinsi mulai 7-9 April, dan mereka yang menyatakan pilihannya mencapai 90 persen. Jumlah pemilih yang belum menentukan pilihannya turun menjadi 9 persen dari sebelumnya 20 persen pada Januari dan tidak ada indikasi terkait perubahan pilihan itu.

Sementara lembaga survey Gezivi juga memperlihatkan angka pendukung amandemen mencapai 51,3 persen, berbanding 48,7 persen menjawab ‘tidak; setelah para pemilih yang belum menentukan pendapatnya memberikan suara mereka.

Survei ini melibatkan 1.400 orang di 10 provinsi pada 8-9 April. Padahal dalam survei serupa, angka pemilih ‘Ya’ mencapai 53,3 persen.

“Satu masalah mendasar dari pekerjaan ini selama proses referendum telah memperlihatkan peningkatan tingkat kekhawatiran orang untuk memperlihatkan aspirasinya,” ujar Gezici saat menganalisa hasilnya.

Sementara itu, laman jamesinturkey.com menyebut jumlah pemilih ‘ya’ kebanyakan berasal dari wilayah pedesaan atau terpencil. Mereka merupakan warga yang berada di bagian tengah hingga ke timur negeri itu, angkanya pun bervariasi mulai dari 51 persen sampai 60 persen.

Sedangkan warga perkotaan kebanyakan memilih ‘tidak’ untuk mengamandemen konstitusi Turki. Jumlah terbesar terdapat di provinsi Istanbul, Izmir dan Ankara.

Kemenangan Erdogan nampaknya memang sudah berada di depan mata. Hasil poling awal memperlihatkan 63 persen dari 24 persen jumlah suara yang masuk menginginkan adanya perubahan sistem pemerintahan.

 

https://www.merdeka.com/dunia/turki-menyongsong-era-baru-kekuasaan-presiden-erdogan-tak-terbatas.html

Most Popular

Recent Comments